Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

Jumat, 26 April 2019

Tiga mantra ajaib : Tolong, Maaf dan Terimakasih

Masih dalam suasana safar di mana sebagian waktu kami habiskan dalam perjalanan. Berpindah dari satu kasur tempat penginapan ke tempat penginapan berikutnya, atau mencoba bisa istirahat dengan nyaman di atas jok mobil. Alhamdulillah kami memiliki duo jenderal yang sedari dini sudah di kenalkan dengan travelling , bahkan di saat usia mereka beberapa bulan dari kelahiran mereka. sehingga adaptasi yang cukup baik ini membuat kami sudah cukup nyaman apapun kondisi dan keadaannya saat kami melakukan Tration, sebuah sebutan yang kami beri nama dari Travelling Education, kebiasaan yang kami turunkan kepada duo jenderal hingga hari ini.



Namanya juga berada dalam perjalanan dengan fasilitas yang serba apa adanya, cukup untuk bisa memenuhi kebutuhan yang ada. berbagai media permainanpun kami siapkan sebagai bekal anak-anak selama berkegiatan di dalam mobil yang melaju. Tiga mantra ajaib selalu menjadi kalimat pembuka dalam berbagi kesempatan. Ketiga mantra tersebut adalah "Tolong, Maaf dan Terimakasih".

Salah satu chef yang kami temui dalam perjalanan kami


Berusaha selalu menyematkan kata " Tolong" saat meminta bantuan dari yang lain, berujar "maaf" saat ada yang belum pas atau menyesal atas sesuatu hal tanpa merasa di rendahkan maupun merendahkan yang lainnya serta tak lupa mengucapkan terimakasih atas bantuan sekecil apapun yang didapatkan.


Anak-anak yang terbiasa menyiapkan sarapan sendiri


Hingga akhirnya duo jenderal pun terbiasa untuk mengucapkan ketiga mantra ajaib itu di manapun, kapanpun dan dengan siapapun mereka bertemu orang lain . Hal-hal yang mungkin terlihat sederhana, mengucapkan terimakasih pada para doorman pembuka pintu hotel kami menginap, mengucapkan terimakasih pada driver ojol saat beliau selesai mengantarkan kami atau bahkan Nad sengaja mencari cheff di suatu restoran tempat kami bersantap untuk sekedar berkenalan sembari menguckan terimakasih karena telah membuat kami kenyang dan cukup nutrisi karena kerja keras dari para cheff dan tim di balik pintu dapur.



Kata terimakasih, maaf dan tolong merupakan komponen penting dalam kehidupan bersosial. Kata-kata tersebut juga memiliki kekuatan membentuk mereka tunbuh menjadi individu yang lebih baik. Mengajarkan mereka mengucapkan kata-kata tersebut agar merekapun menularkan kebiasaan baik ini kepada individu yang lainnya



Yogyakarta, 26 April 2019
Puspaning Dyah, Catatan bunda pembelajar

#hari2
#gamelevel2
#tantangan10 hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Kamis, 11 April 2019

Empati Kita adalah karena kita peduli

Komunikasi Produktif Day#15


Beberapa hari ini linimasa sosial media saya selalu ramai akan kicauan bernada politik maupun berita seorang selebritis yang kemudian akhirnya menjadi tersangka hingga terpaksa menginap di hotel prodeo. Buat saya beberapa berita tersebut adalah semacam sebuah rendang. Di masak kemarin, di hangatkan berkali-kali agar makin keluar aroma khas rendang serta bumbu santan yang semakin "semlekok", makin di angetin makin enak dan makin nagih.

Tapi di antara semua berita tersebut, ada dua hal yang cukup menarik perhatian saya. Pertama berita mengenai desakan penutupan sebuah perusahaan penambangan emas di bumi Aceh yang mempunyai dampak lingkungan cukup luas, serta berita bulliying pada seorang siswi di Pontianak.

Di tengah gaung Revolusi Mental, justru saya melihat banyaknya kecatatan mental yang terjadi hampir di semua lapisan masyarakat. 
Jika dahulu para pejabat "mencuri" uang rakyat masih cukup malu-malu dan melakukannya di balik meja, namun saat ini bentuk pelucutan pada "kepercayaan rakyat" sudah sampai taraf membahayakan. 

Salah siapa jika kemudian generasi muda sibuk menghamba pada sesuatu yang bukan mengarahkan mereka pada fitrahnya, melainkan begitu memuja sesuatu yang kurang mendatangkan manfaat untuk mereka. Bukankah dengan kemudahan akses umtuk masuk ke dan dunia digital harusnya semakin membuat banyaknya informasi positif yang bisa di serap oleh para generasi muda milenial?

Salah siapa dong kalau sudah begini? Salah gue? Salah temen-temen guee....????


Kalimat Istighfar lah yang kemudian mampu terucap. Telah tiba masa yang di gambarkan oleh Baginda Muhammad SAW, bahwa anak-anak kita adalah anak-anak akhir zaman. Tak selamanya kita akan mendampingi mereka, namun di masa ini adalah masa yang paling tepat untuk kita menumbuhkan kepribadian dan mendampingi setiap proses tumbuh kembangnya.

Anak-anak kita tidaklah tumbuh dalam masa kecil kita terlebih masa orang tua kita. Maka tidak bijak rasanya jika kita "copy paste" bagaimana orangtua kita mengasuh dan mendampingi proses tumbuh kembang kita.

Bajar membina keharmonisan keluarga, hadir secara fisik dan hati untuk anak-anak kita menjadi salah satu cara menjaga asset negara di masa mendatang. Sejatinya anak adalah peniru yang ulung, maka berhati-hatilah dalam memilihkan kata untuk,mereka.

Mengubah kata negatif menjadi sesuatu yang bersifat membangun dan mendidik.
Karena saudara kita adalah cerminan diri kita, apa yang kita lisankan adalah doa yang akan kembali pada diri kita.

Teruslah membina komunikasi pada seluruh anggita keluarga, buatlah SOP sendiri di dalak keluarga yang "memaksa" masing-masing individu mau membuka suara dan memulai perbincangan dengan yang lain.

Pak, bu....? Jika bukan kita yang peduli dengan anak kita harus pada siapa kita bisa mengadu?
Jika bukan sekarang kapan lagi???



#day15
#kuliahbundasayang
#ibuprofesional
#komunikasiproduktif

Selasa, 09 April 2019

Komunikasi Yang Baik Jalan Menumbuhkan Fitrah Berkasih Sayang

Komunikasi Produktif Day#13

"Buuuuuun, adek nyubitin perut aku...." Aduan Kak Nad di siang tadi sembari menunjuk bagian perutnya yang kurang nyaman baginya.

Tak lama berselang setelah tangisannya reda dan duo jenderal mulai bermain bersama....

Adek : "Buuuuuun, kakak ngambil mainan aku gak pake ijin...." Jerit si adek saat ke luar dari kamar dengan bersimbah air mata

Bunda : "Kak Nad lupa ya minta izin sama adek? Next harus izin dulu ya karena mainan itu punya adek"

Bunda : "Dek, Bunda tau adek marah dan sebel sama kakak, tapi adek tetep gak boleh kasar sama kakak, adek kan laki-laki, pesan ayah apa coba? Laki-laki harus jadi pelindungnya perempuan kan?"

Apakah pertikaian berhenti saat itu juga? Hehehehee belum tentu pemirsa, walaupun usaha pengalihan untuk adek sudah di lakukan tapi ia tetap ngotot pada pendiriannya, dan memang prinsip di keluarga kami tidak berlaku bahwa sang kakak harus selalu mengalah pada adiknya atau bahkan sebaliknya, melainkan siapa yang berhak maka harus mengambil haknya kecuali jika ada kesepakatan di antara dua belah pihak.

Bunda : "Duuh kalau udah begini, bunda gak tau nih abisnya kalian berdua gak ada yang mau ngalah"

Nadia : "Oke bund, aku yang ngalah, aku yang salah udah ngerebut mainan adek"

Bunda : "Alhamdulillah, makasih banyak ya Kak, Kak Nad keren banget deh"

Melihat situasi ini...

Adek : "Iya eza juga salah udah marah sama kakak, mau di peluk juga sama nda"



Akhirnya semua mengalah, menagih minta di peluk dan di cium, serta kembali bermain bersama.

Fyiuuugh rupanya keaktifan Kak Nad hari ini berbuah rasa tidak nyaman untuk adek. Saling memperebutkan sesuatu, lalu beradu argumen, saling adu fisik menjadi pemandangan sehari-hari yang mewarnai rumah kami, walaupun begitu cepat mereka merasa tidak nyaman dengan yang lainnya, namun secepat itulah mereka saling berpelukan dan duduk bersama kembali dalam suasana yang lebih ceria.

Ada jeda yang perlu kita ambil untuk melerai mereka, mengambil salah satu anak dan membisikkan kata cinta, menularkan energi positif, membangun rasa nyaman dan mau memaafkan satu sama lain. Ada kalanya pula untuk mendudukkan mereka berdua, mendengarkan apa yang menjadi isi hati mereka dan membuat mereka menjadi kurang nyaman akan perilaku salah satu pihak. Bukan sekedar belajar berkomunikasi tapi menumbuhkan fitrah berkasih sayang di antara mereka.



Di setiap hari kami menjemput Kak Nad dari sekolah formalnya, hampir selalu ada "oleh-oleh" yang di bawa untuk adiknya baik berupa makanan, hasil karya di kelasnya atau  harta karun berburu dari hutan jati. Jika berupa makanan maka akan di makan berdua dengan sang adeksepanjang perjalanan kami menuju rumah, jika berupa sesuatu barang maka kak nad akan langsung bercerita kisah di balik barang bawaannya itu, dan adek yeza akan menjadi pendengar setia yang dengan antusias mendengarkan apapun celotehan Kak Nad.

Begitulah indahnya persaudaraan dan kasih sayang yang senantiasa kami syukuri, walaupun proses menjaga keistiqomahan itu sangatlah tidak mudah. Menjadi hal wajar jika perkelahian, pertikaian dan perdebatan terjadi namun ikhtiar untuk selalu membentuk agar nilai persaudaraan dan kasih sayang harus selalu tumbuh subur di dalam keluarga agar mereka siap melanjutkan tongkat estafet kepada saudara dan keturunan mereka kelak.


Bismillah, semoga Allah SWT selalu menyatukan kami dalam ikatan cinta dan kasih sayang




Bandar Lampung, 9 April 2019
Puspaning Dyah, penjelajah hikmah



#day13
#kuliahbundasayang
#ibuprofesional
#komunikasiproduktif




Sabtu, 06 April 2019

Jadilah Keluarga Demokrasi, Gunakan Naluri Mendengarmu

Menjadi sebuah kebiasaan dalam keluarga kami untuk mendiskusikan apapun kegiatan yang akan kami kerjakan bersama terutama jika menyangkut hari-hari memorable untuk salah satu atau kami berempat.

Komunikasi Produktif Day#10

April menjadi bulan yang mungkin di tunggu oleh Kak Nad, karena apa? Karena ini adalah bulan kelahirannya, seakan-akan telah terproklamirkan bahwa April is her mine 😆

Jumat, 05 April 2019

Komunikasi Non Verbal dan Menajamkan Mata Hati

Komunikasi Produktif Day#9


Alhamdulillah kembali bertemu dengan hari Jumat yang penuh berkah😀

Auto install jika memasuki hari Jumat maka saatnya agenda rutin Osin Family untuk sedekah Jumat. QadarullahNya hari ini si emak lagi gak dalam keadaan yang cukup kondusif, sehingga akhirnya menawarkan kembali ke duo Jenderal apakah hari ini tetap akan mengadakan Sedekah Jumat atau tidak? Jika ya maka mereka berdua lah yang akan banyak berperan dalam menyediakan apa yang akan di suguhkan dalam Sedekah Jumat pekan ini

Selasa, 02 April 2019

Kamis, 28 Maret 2019

Memulai Komunikasi Produktif di Dalam Keluarga



Komunikasi Produktif Day#1

Berkomunikasi mungkin adalah salah satu hal naluriah yang selalu kita kerjakan sehari-hari. Tapi kadang karena semakin seringnya kita lakukan, hampir setiap hari, setiap waktu sih ada aja hal-hal yang terlewat. Seperti contoh bagaimana sih kaedah yang baik, yang perlu kita jalankan agar pesan yang ingin kita sampaikan dapat di tangkap dengan baik oleh sang penerima pesan? And this it, kami para mahasiswi yang tengah memasuki Kelas Bunda Sayang Ibu Profesional dengan Materi pertama yang di ajarkan adalah “Komunikasi Produktif” baik kepada diri sendiri , pasangan, maupun para buah hati.

Selasa, 31 Oktober 2017

Yamet Hatori Shadow Teacher, buka layanan Training Bagi Shadow Teacher


Soft Opening Yamet Hatori Shadow Teacher

Sebagai orang dewasa yang kemudian memutuskan menikah, salah satu yang diharapkan pastinya adalah kelahiran buah hati, penerus keturunan yang melalui tangan mereka kelak di tumpukan banyak harapan dan cita-cita orang tua. Oran tua tidak bisa meminta akan dilahirkan sebagaimana dan seperti apa buah hati yang kelak akan hadir mewarnai hari-hari mereka. Demikian pula seorang anak tidak bisa memilih akan terlahir dari rahim ibu yang mana atau sperma lelaki mana sehingga kemudian Allah berikan nyawa pada calon anak hingga saatnya mereka lahir ke dunia. Dalam Al-Qur’an Qs Al-Kahfi Ayat 46 Allah menyebutkan :

“ Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan”



Tidak semua orang tua diberikan anak-anak yang telahir sempurna secara fisik maupun psikologis. Beberapa orang tua akan sangat bersyukur manakala mendapatkan buah hati yang “istimewa”. Beberapa waktu yang lalu saya bersama beberapa rekan Blogger Lampung berkesempatan menghadiri soft launching sekolah swasta pertama di Lampung, yang concern terhadap bimbingan pelatihan para calon “Shadow Teacher” atau biasa kita kenal dengan “helper”. Helper bukan istilah yang asing untuk emak, Sekolah formal yang di pilih Kak Nad adalah salah satu sekolah inklusi di Bandar Lampung, yang artinya saat proses belajar di sekolah Kak Nad berbaur bersama beberapa anak-anak berkebutuhan khusus.
Peserta Seminar
Yamet Hatori Shadow Teacher resmi di buka
Penandatanganan Prasasti Yamet Shadow Teacher oleh Ibu Walikota Bandar Lampung

Persiapan Soft Launching Yamet Hatori Shadow Teacher


Melalui seminar yang di bawakan oleh dr. Tri Gunadi, Amd, OT, S.Psi dengan tema “Optimalisasi Potensi Anak dengan Sekolah Berbasis Kebutuhan Siswa dan Pentingnya Shadow Teacher di Sekolah Inklusi” setidaknya ada beberapa peran utama Helper agar orangtua maupun fasilitator di sekolah inklusi tidak menjadi salah paham dengan peran dominan Helper dalam membersamai anak berkebutuhan khusus, adapun beberapa peran dasar seorang “Shadow Teacher” adalah sebagai berikut :

1.       Mampu mendampingi guru kelas dalam menyiapkan kegiatan yang berkaitan dengan materi belajar

2.       Mampu mendampingi anak berkebutuhan khusus (special needs children) dalam menyelesaikan tugasnya dengan pemberian instruksi yang singkat dan jelas

3.       Mampu memilih dan melibatkan teman seumur untuk kegiatan sosialisasi anak berkebutuhan khusus (special needs children)

4.       Mampu menyusun kegiatan yang dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas anak berkebutuhan khusus (special needs children)

5.       Mampu mempersiapkan anak berkebutuhan khusus (special needs children) pada kondisi rutinitas yang berubah positif

6.       Mampu menekankan keberhasilan anak berkebutuhan khusus (special needs children) dan memberikan rewards yang sesuai dan pemberian konsekuensi terhadap perilaku yang tidak sesuai

7.       Mampu menimilasir kegagalan anak berkebutuhan khusus (special needs children), memberikan pengajaran yang menyenangkan kepada anak berkebutuhan khusus (special needs children), menjalankan individual program pembelajaran yang terindividualkan (PPI)

Yamet Hatori Shadow Teacher hadir di Bandar Lampung sebagai lembaga swasta pertama dan satu-satunya yang fokus pada pelatihan calon Shadow Teacher. Agar Shadow Teacher kembali kepada hakikat fungsi dan peran yang sebenar-benarnya. Karena jujur saja melihat beberapa fenomena di sekitar emak, di mana beberapa kali melihat dan berinteraksi langsung dengan Shadow Teacher aka Helper hanya menjalankan fungsinya sebagai the real “pembantu” sebagaimana makna harafiah dari Helper itu sendiri. Tak jarang kehadiran  Shadow Teacher justru semakin membuat anak jauh dari kata mandiri, sedangkan  di satu sisi orang tua terkesan pasrah bongkok’an terhadap progress anak di sekolah kepada Shadow Teacher.

Pletaaaaaakkkkk.... di situlah kadang rasanya timbul keingininan emak untuk ngunyah roti manis isi combro 😊 😊 😊

Memantau pemaparan yang di sampaikan oleh dr. Tri Gunadi, Amd, OT, S.Psi dalam event Milad yang kedua tahun Yamet Hatori sekaligus Soft Launching Yamet Hatori Shadow Teacher emak jadi berasumsi, bahwa layanan training dan pelatihan bagi para calon Shadow Teacher tidak hanya menarik diikuti oleh para calon Shadow Teacher saja, bahkan orang tua yang di anugerahi oleh Tuhan yang Maha Kuasa seorang Anak Istimewa atau anak berkebutuhan khusus (special needs children) karena beberapa skill dasar dalam menangni anak berkebutuhan khusus (special needs children) akan di ajarkan oleh Yamet Hatori Shadow Teacher. Peran penting seorang Helper, pendamping, Shadow Teacher dan yang tidak mungkin terlepaskan adalah peran orang tua sebagai lingkaran pertama dan paling basic dalam pola asuh dan pembentukan karakter anak akan di ajarkan, di bimbing  mencakup perkembangan akademik dan non akademik, seperti :

1.       Perkembangan sosialisasi

2.       Komunikasi

3.       Perilaku

4.       Motorik dan perkembangan latihan ketrampilan sehari-hari



Banyak-banyaklah memunajatkan rasa syukur, manakala gusti Allah yang Maha Kuasa menghadirkan anak-anak dengan fisik dan panca indera yang sempurna, namun jika Kuasa Allah memberikan hadiah spesial dalam wujud anak berkebutuhan khusus (special needs children) berbahagialah, karena hanya orang tua istimewalah yang akan di anugerahi anak-anak istimewa. Bis ajadi kita menganggap anugerah tersebut sebagai ujian besar untuk para orang tua, bukankah sesungguhnya orang akan menjadi hebat karena selalu di tempa melalui ujian yang hebat pula? Maka, berbanggalah duhai para orang tua yang memiliki anak istimewa, karena kalian adalah orang tua yang hebat, apa dan bagaimanapun kondisi kalian.





Yamet Hatori Shadow Teacher

Jl. Gator Subroto No 67, Garuntang, Bandar Lampung

Nomer Telpon : 081273120277





Puspaning Dyah, saat menulis sebagai salah satu bentuk empati




Sabtu, 15 Juli 2017

Renungan Pendidikan#2*

*Renungan Pendidikan #2*



-Ust. Harry Santosa-

Sesungguhnya masa mendidik anak kita tidaklah lama, itu hanya berlangsung sampai usia  AqilBaligh (usia 14-15 tahun). Sebuah masa yang singkat, masa yang cuma seperempat dari usia kita – orangtuanya – jika Allah berikan jatah 60 tahun.

Padahal anak-anak dan keturunan yang sholeh akan menjamin kebahagiaan akhirat kita dalam
masa yang tiada berbatas.

Lalu mengapa amanah terindah ini kita sia siakan dengan mengirim
mereka ke lembaga, ke asrama, ke sekolah dll sebelum masa aqilbaligh mereka tiba.

Jika demikian, lalu apa yang ada dalam benak kita tentang amanah terindah dan kesempatan untuk kekal bahagia di akhirat nanti?Jika demikian, lalu apa yang kita akan jawab di hadapan Allah SWT tentang pendidikan mereka?Apakah lembaga, asrama dan sekolah akan dimintai tanggungjawab di akhirat kelak?

Jika demikian masihkah kita berharap syurga dari doa-doa anak-anak kita, padahal mereka  dititipkan kepada pihak ketiga yang tidak dimintai tanggungjawab sedikitpun dan diragukan  doanya dikabulkan?

Bukankah ketika usia mereka dititipkan itu masih menjadi tanggungjawab kita?

Bukankah doa yang dipanjatkan oleh orang-orang seiman yang bertalian darah akan lebih
diterima Allah SWT?

Setiap yang beriman kepada AlQuran pasti tahu jawabannya. Bahkan memelihara anak  yatimpun sebaiknya dalam dekapan keluarga yang utuh bukan cuma disantuni, apalagi anak  kandung yang jelas menjadi tanggungjawab penuh kedua orangtuanya.

Lihatlah wajah teduh anak-anak kita ketika mereka terlelap, beberapa tahun ke depan wajah2 ini akan berubah menjadi wajah orang dewasa yang setara dengan kita, lalu kita tidak punya lagi kesempatan memperbaiki karakter yang sdh terbentuk, apalagi menyempurnakan akhlak
mereka.

Lalu apa yang kita jawab dihadapan Allah SWT atas karakter-karakter yang sudah terbentuk tadi?

Apakah kita mampu berlepas tangan dari tanggungjawab kita di akhirat?

Ayah Bunda, mari kita didik anak-anak kita dengan tangan, hati, mata, telinga, lisan kita sendiri.

*Membangun Home Education bukanlah pilihan,* namun kewajiban setiap orangtua yang
beriman, itu tidak,memerlukan penjelasan dan pembuktian lagi.

Pada galibnya anak-anak kita akan hidup lebih lama dari kita, walau bisa saja mereka  mendahului kita dipanggil Sang Khalik.

Dalam menjalani masa depannya nanti – yang tanpa  kehadiran kita – anak-anak kita akan mengenang kita.

Anak-anak kita memerlukan kenangan2 yang memunculkan kesan2 dan imaji2 yang baik, positif, tulus, penuh cinta dan utuh tentang masa lalu mereka bersama kedua orangtuanya, itu  semua agar mereka kuat menghadapi masa sendiri ketika mereka kelak dewasa.

Dan itu hanya diperoleh pada masa yang singkat 15 tahun pertama dalam kehidupannya, yang diberikan oleh orangtuanya dengan tulus dan ikhlash yang tak tergantikan oleh siapapun.

Salam Pendidikan Peradaban

#pendidikanberbasispotensi dan akhlak

Jumat, 14 Juli 2017

Prinsip pendidikan berbasis fitrah di tahap usia 7-10 tahun

🥇☘🥇☘🥇☘🥇☘🥇☘🥇

*Prinsip Prinsip Pendidikan berbasis Fitrah untuk Tahap Usia 7 – 10 Tahun*
Oleh : _Ust.Harry Santosa_

1. Pahami Fitrah Perkembangan untuk tahap ini dengan baik. Tahap ini adalah fase dari konsepsi berkembang menjadi potensi. Ini masa  latih awal dimana anak sudah boleh diperintah atau adab sudah disampaikan sebagai perintah. Allah memerintahkan orangtua agar menyuruh anak anak mereka sholat ketika berusia 7 tahun. Perintah sholat adalah penanda dimulainya fase pre aqilbaligh awal, inilah perintah untuk beradab kepada Allah. Di Fase ini juga anak sudah menyadari adanya dunia sosial di luar dirinya, menyadari adanya kehidupan dan adanya aturan di atasnya. Kemampuan belajar dan bernalar mencapai masa emasnya di usia ini.

2. Fitrah keimanan pada fase ini bergerak meningkat dari Konsepsi Tauhid Rubbubiyatullah, kepada kesadaran Potensi untuk Tunduk kepada Allah (Tauhid Mulkiyatullah), yaitu sejalan dengan perkembangan fitrah sosialnya serta fitrah belajar dan bernalarnya maka anak disadarkan bahwa Allahlah Zat Yang Maha Mengatur Alam Semesta sehingga secara sadar harus ditaati dan dipatuhi sebaga Sang MAHA Pembuat Hukum. Fitrah keimanan anak bergerak dari penguatan kecintaan pada Allah menuju kepada penyadaran ketaatan padaNya. Dari penguatan cinta kepada Allah kepada kesadaran mengikuti Rasulullah SAW.

Catatan. Indikator tumbuhnya Fitrah Keimanan dengan baik pada tahap usia 0-6 tahun, adalah bahwa pada tahap usia 7-10 tahun anak akan menerima perintah sholat dengan ikhlash. Jika masih belum ikhlash pada tahap ini maka proses pembangkitan cinta pada Allah melalui keteladanan harus diperkuat. Ada masa 3 tahun untuk mengokohkan fitrah keimanan sehingga diharapkan pada usia 10 tahun tidak perlu dipukul.

3. Fitrah Bakat bergerak dari penguatan sifat unik kepada penyadaran potensi unik, dengan memberikan aktifitas aktifitas produktif yang relevan dengan sifat uniknya untuk mengembangkan potensi Fitrah Bakat. Lakukan Tour de Talents atau kunjungan ke beragam profesi yang relevan untuk membuka wawasan dan libatkan dalam banyak aktifitas yang relevan untuk menemukan aktifitas produktif yang apabila anak memulainya sangat ditunggu tunggu, menjalaninya seolah waktu berhenti berputar dan mengakhirinya tidak mengatakan “akhirnya selesai juga”, tetapi meminta diulangi lagi. Dalam bahasa lain, sampai ditemukan aktifitas yang 4E (Enjoy, Easy, Excellent, Earn). Diharapkan usia 10 tahun sudah mengkristal menjadi aktifitas yang 4E atau peran dalam kehidupan yang siap dikembangkan.

4. Fitrah Belajar dan Bernalar bergerak dari penguatan konsepsi belajar secara abstraksi dan imajinasi kepada penyadaran logika dan nalar. Fase ini Fitrah Belajar dan Bernalar mengalami masa emasnya, dengan interaksi belajar terbaik adalah di alam dan di kehidupan. Belajar berbasis project sesuai ketertarikan pada subyek alam atau pengetahuan akan sangat baik untuk memunculkan gairah inovasinya. Learning is not for Learning, but Learning is for Innovation. Dorong anak untuk melakukan ekpedisi, eksplorasi, riset sederhana di alam. Kaitkan dengan fitrah  lainnya, misalnya gairah untuk eksplorasi dan berinovasi ditujukan kepada memahami pola keteraturan karena adanya Zat Yang Maha Mengetahui dan Maha Mengatur Semesta.

5. Fitrah Seksualitas bergerak dari penguatan konsepsi sebagai lelaki atau perempuan kpeada penyadaran potensi lelaki sejati atau potensi perempuan sejati.  Caranya adalah dengan membina kelekatan (attachment),  untuk potensi kelelakian dengan lebih mendekatkan anak lelaki pada Ayah dan fitrah potensi keperempuanan dengan lebih mendekatkan anak perempuan pada ibu. Ibu dan ayah harus menjadi idola pertama dan terbaik bagi anak anaknya sesuai gendernya. Ayah tuntunlah anak lelaki ke masjid dan kenalkan peran peran kelelakian di masyarakat. Ayah menjelaskan pada anak lelaki ttg “mimpi basah” dan kewajiban besar dibalik amanah yang harus dijaga ini, termasuk mandi wajib dstnya. Ibu tuntunlah anak perempuan untuk terlibat dalam peran keperempuanan di rumah. Ibu menjelaskan pada anak perempuan ttg “haidh” dan kewajiban besar dibalik amanah yang harus dijaga dstnya.

6. Fitrah Estetika bergerak dari fase penguatan konsepsi keindahan secara inderawi dan imaji kepada kesadaran potensi keindahan secara nalar (nazhori) dan aktifitas atau karya. Ekpresikan potensi Fitrah Estetika dan Bahasa melalui apresiasi keindahan pada sastra, arsitektur, desain, musik, sejarah dsbnya. Anak sebaiknya punya apresiasi atau karya estetika. Beberapa anak yang punya bakat dalam bidang seni akan nampak lebih menonjol apresiasinya. Anak menyadari bahwa dibalik keindahan keteraturan Ilahi ada pola keindahan yang dapat dinalar.

7. Fitrah individualitas bergerak dari fase konsepsi ego sentris ke fase penyadaran sosio sentris. Jika anak terpuaskan Fitrah Individualitasnya pada usia 0-6 tahun maka pada usia 7-10 akan nampak mudah mengembangkan Fitrah Sosialitasnya, misalnya lebih percaya diri, mudah membuat keputusan (bukan peragu) dan sangat empati dan suka berbagi. Beri anak tanggungjawab sosial sederhana dalam proyek bersama di rumah atau di masyarakat.

8. Fitrah Jasmani bergerak dari penguatan konsepsi pola jasmani seperti pola makan, pola tidur, pola gerak, pola bersih dll kepada penyadaran potensi jasmani berupa kesadaran untuk beraktifitas secara sehat baik aktifitas makan, aktifitas olahraga, aktifitas tidur, aktiftas kebersihan. Sadarkan potensi fitrah jasmani ini dengan adab adab atau sunnah sunnah pada makan, tidur, kebersihan, kesehatan yang baik agar menjadi kekuatan fisik yang prima. Beberapa anak mungkin punya bakat di bidang terkait fisik seperti olahraga, beladiri maka perlu lebih didalami.

Salam Pendidikan Peradaban
#fitrahbasededucation
#pendidikanberbasisfitrah dan akhlak

Selasa, 09 Mei 2017

Don't Teach Me, I Love to Learn



Saat saya menikah, kemudian Allah hadirkan sesosok nyawa baru dalam rahim saya, hingga kemudian ia terlahir maka di detik tersebut, janin dalam kandungan saya resmi menyandang status sebagai "ANAK" dan serta merta saya dan ayana sah secara de'facto dan yuridis bergelar "ORANG TUA".

Ketika menjadi orang tua, banyak perubahan yang kami alami, kami yang tadinya berdua, kemudian menjadi bertiga hingga hari ini komplit menjadi ber-empat. Mencoba mengamati pola unik anak-anak dengan "ilmu titen" membuat kami yakin bahwa sesungguhnya mereka adalah pembelajar sejati. Bahkan misalnya pun kami ini nol persen terhadap ilmu parenting, tak mengubah konsep bahwa mereka adalah pembelajar yang unggul.

Hingga kemudian pada suatu titik kami semakin menyadari bahwa kebutuhan krusial untuk anak-anak bukanlah ilmu parenting yang kami miliki, melainkan lebih pada waktu dan perhatian kami dalam membersamainya, karena pada akhirnya setiap orang tua yang akan menemukan pola parenting mana yang bisa di terapkan kepada buah hati, dan bukan hasik dikte dari pakar parenting manapun.


Rasanya saat menghadapi materi Level 4 seperti lagi ngalamin jatuh cinta, jatuh hati sampai jatuh bangun 😥😅😂


Lagi-lagi kami merasa di tampar bolak-balik hingga tak kunjung usai dalam menyelesaikan perkuliahan Bunda Sayang ini.  Fyiiiuuuuh rasa lelah tapi tetap harus melangkah 😅😅😅


Betul sekali jika anak-anak adalah pembelajar yang alami, beri mereka rangsangan melalui stimulus maka dengan sendirinya mereka akan temui jalan keluar.

Nadia yang tampak ceria, namun memiliki PR besar terhadap kepercayaan dirinya, hingga berimbas pada hal-hal sederhana yang berkaitan dengan kepercayaan dirinya, misalnya contoh keberaniannya untuk berbicara dan menyapa temannya di dalam suatu forum, keberaniannya untuk mengungkapkan isi hatinya baik kepada saya, Ayana maupun pihak di luar kami berdua.

Qadarullahnya saat mendapat tugas memahami Gaya Belajar Anak, bertepatan dengan di terimanya hasil psikotest Nadia di sekolah formalnya. Hasil psikotest menunjukkan hasil yang menggembirakan sekaligus membanggakan untuk kami selaku orangtuanya, bagaimana tidak bangga jika ananda tergolong anak-anak dengan kecerdasan intelektual di atasnya di atas rata-rata (superior),  walaupun dengan satu catatan kecil mengenai kemampuan motorik kasarnya. Melirik ke belakang dengan sifat dan sikap Nadia kami menjadi mahfum bahwa ada PR besar di depan mata, bagaimana kami mampu memberikan stimulus lebih untuk mendongkrak kekurangan kecil dari dirinya, dan menjadi salah satu cara bagi kami memaksimalkan potensi unik yang dimilikinya.


Kecenderungan Nadia akan warna dan grafis berusaha kami gabungkan dengan berbagai aktifitas motorik kasar saat proses membersamai Nadia. Kami ajak Nadia berbelanja raket bulu tangkis dan memilih senar serta perangkat lainnya sesuai dengan warna kesayangannya. Hingga kami selipkan cerita (mengingat aspek Visual dan Auditori Nadia sangat kuat) mengapa kita perlu berolahraga, siapa atlit kebanggaan Indonesia, dan hal-hal sederhana yang bisa di tangkap oleh logikanya.


Ayana berperan penting saat proses melatih motorik kasar Nadia, saya berperan dalam mempertajam kemampuan visual dan auditorinya. Proses LEARN senantiasa kami tumbuhkan di dalam keluarga kami, berusaha dengan maksimal membersamai ananda dengan proses yang menyenangkan dan jauh dari kesan paksaan.

Di akhir pelaksanaan tugas bulan ini, saya mencoba mengajak Nadia mereview kembali perjalanan kami sepekan terakhir, intensitas latihan motorik kasar dan "titen" terhadap gaya belajarnya, kami gelarlah sebuah Family Project yang sasarannya adalah Nadia bisa berkreasi dengan sesuatu hal yang ia sukai namun merangsang keinginannya untuk tetap berlatih motorik kasarnya.

Jatuhlah pilihan pada membuat film sederhana (melalui aplikasi di gadget) berisi perjalanan Nadia sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Kelas TK-B (mengingat Nadia saat ini memasuki masa menjelang inagurasi kelulusannya). Sekaligus sebagai apresiasi dan luapan rasa terima kasih untuk Bu Eel dan bu Nur,  tim fasilitator Nadia di sekolah formalnya. Jadilah kami berdiskusi memilih foto yang akan di tampilkan, mengedit video, memilih sountrack film, hingga detail kecil seperti alur film kami bahas dan diskusikan bersama hingga lahirlah sebuah film pendek berisi perjalanan kisah Nadia selama menghabiskan waktunya di sekolah bersama teman-teman dan guru-gurunya.
Bukan hasil yang spektakuler memang, namun kami lebih melihat bagaimana Nadia mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan semangat dalam belajar sesuatu tantangan baru yang kami apresiasi di dirinya, hanya melalui stimulus kecil dari kami bisa lahir sebuah project sederhana, sebagai kenang-kenangan di masa depannya kelak.

Satu hal ibroh yang ingin saya ajarkan kepada Nadia, bahwa sekecil apapun usaha kita hari ini, bisa jadi akan bernilai besar di kemudian hari. Nadia kecil kami pastinya akan selalu tumbuh menjadi gadis yang ceria, yang yakin pada dirinya bahwa ia mampu menaklukkan seberat apapun rintangan di hadapannya selama ia percaya, bahwa ia mampu mengalahkan rasa takutnya.







Bandar Lampung, 9 Mei 2017
Puspaning Dyah, seorang bunda yang tak letih membersamai buah hatinya


#level4
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak
#aliranrasa


Kamis, 04 Mei 2017

Superheroku_Level 4_Gaya Belajar Anak_Hari ke-10

Agenda rutin kami setiap pagi adalah pengantarkan Ayana dan Nadia (6y1m) menuju stasiunnya di hari kerja 😀

Mengantar Ayana sampai di depan pintu masuk kantornya, lanjut perjuangan melawan kemacetan Bandar Lampung di pagi hari dengan mengantar Nadia ke sekolah formalnya yang berjarak sekitar 20km dengan waktu tempuh 30-45 menit 😀😀😀

Seperti biasa Yeza (2y6m) menjadi navigator andalan saya dalam hal berkemudi di jalan raya


Sepulang mengantar Nadia ke sekolahnya, kami sempatkan untuk mampir berbelanja beberapa kebutuhan rumah tangga si suatu toserba. Perhatian Yeza tertuju pada sebungkus mainan superhero yang memang beberapa waktu lalu menjadi incarannya.

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke rumah dengan tak lupa menenteng superhero baru di tangan Yeza


Setelah menyelesaikan beberapa urusan domestik sembari menunggu Nadia kembali dari sekolahnya, kami berdua (saya dan Yeza) bermain peran dalam melakonkan superhero versi Yeza



Yeza tampak antusias dan menikmati saat kami berlarian seolah-olah superhero yang tengah terbang mengejar musuh, atau saat superhero berdiskusi dengan sesama superhero. Hingga lelap dalam tidurnya pun bayang-bayang lakon superhero yang kami mainkan seharian ini masih melekat kuat di ingatannya dan terbawa sampai di alam bawah sadarnya malam ini.


#level4
#gayabelajaranak
#kelasbunsayiip
#harike-10

Selasa, 02 Mei 2017

Membaca Ku Paling Suka_Level 4_Gaya Belajar Anak_Hari Ke-Delapan

Kepulangan Ayana adalah suatu momentum yang di tunggu oleh anak-anak, terlebih jika Ayana pulang tidak dengan tangan hampa (oleh-oleh berupa snack saat Ayana rapat di kantornya)


Seletih apapun Ayana, akam di sempatkan untuk bermain dan menemani mereka hingga menjelang jam tidur anak-anak.

Ritual yang menjadi rutinitas wajib saat menjelang jam tidur malam. Membacakan buku cerita bergambar, dan kemudian mengulangnya dengan bahasa dan interpretasi ayana, atau terkadang meminta anak-anak mengulang isi cerita yabg telah di bacakan Ayana.  Tak jarang pula dari satu cerita sederhana menjadi cerita berkembang luas karena imajinasi anak-anak yang tanpa batas.

Membaca menjadi sebuah kurikulum di dalam Home Education kami, dengan harapan mampu menambah kosakata anak-anak, merangsang logika berfikir mereka, serta membiasakan anak-anak berfikir tidak hanya dari satu sisi.


#level4
#harikedelapan
#gayabelajaranak
#kuliahbunsayiip

Senin, 01 Mei 2017

Vintage Toys_Level 4_Gaya Belajar Anak_Hari Ketujuh

Memasuki Senin rasa Minggu kali ini kami manfaatkan dengan bermain bersama anak-anak di area sekitar "Omah Sinau". Rutinitas pagi kami lalui seperti biasanya, ibadah pagi bersama, di lanjutkan dengan olahraga ringan di lapangan depan rumah kami, menyusul berolahraga bulu tangkis bersama.

Untuk kali pertama anak-anak berlatih bermain bulu tangkis bersama Ayana, di awal mereka terlihat enggan mencoba, ngos-ngosan mengejar sang bulu ayam yang terbang kian kemari, namun perlahan mereka menemukan keasyikan saat bermain dan mengejar "bulu ayam" yang terbang kian kemari.


Aktifitas bonding antar anggota keluarga di lanjut dengan kegiatan di dalam rumah, Ayana mengenalkan anak-anak terhadap permainan tradisional berupa "congklak atau dakon". Sebuah permainan tradisional yang mengajarkan kesabaran, play fair dan kejujuran. Sembari bermain, Ayana dan saya bergantian menceritakan manfaat dari bermain congklak serta betapa permainan ini menjadi favorit untuk di mainkan saat saya maupun ayana berada di rentang usia Nadia saat ini.




Di tengah ketertarikan Yeza (2y6m) terhadap segala objek yang berwarna cerah, alih-alih ikut dalam permainan congklak bersama kami, Yeza lebih cenderung memilih bermain mandi bola dan memisahkan warna bola-bola plastik tersebut ke dalam kelompok warna yang sama.

Kecenderungan yang ada saat ini,  Yeza lebih suka mengamati benda yang secara visual menarik mata dan hatinya. Demikian pula kegemarannya dalam membaca buku, Yeza menggemari buku-buku dengan banyak corak warna dan gambar.





#level4
#harikeTujuh
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak

Minggu, 30 April 2017

Minggu Ceria Bersama Ayana_Level 4_Hari Keenam_Gaya Belajar Anak

Me-refresh fikiran atas hasil psikotest Nadia (6y1m) saat proses masuk tingKat Sekolah Dasar di sekolah formal pilihannya, di mana dari psikotest yang di adakan (tidak ada test semacam berhitung maupun membaca layaknya beberapa test permulaan saat anak-anak masuk SD)  menunjukkan hasil kemampuan intelegensia (IQ)  Nadia yang berada di kategori Superior dan dinilai matang untuk memasuki jenjang tingkat sekolah di atasnya saat ini (Kelas 1 SD),  hanya dengan penambahan catatan terkait dengan kemampuan motorik kasarnya.

Hihihi...  Memang jika di amati pola saat Nadia mengikuti outbond semasa TK-A dan TK-B nampak bahwa Nadia kurang menikmati proses outbond (sessi olahraga)  di kelasnya. Sehingga beberapa kemampuan terkait dengan motorik kasarnya perlu di genjot ekstra saat proses Home Education di rumah


Dan Ayana mengambil peran sebagai pimpro dalam hal melatih motorik kasar ananda sekaligus menyalurkan kemampuan kinestetik ananda.

Di mulailah hari ini dengan aktifitas di mushola, Yeza yang masih tertidur di gendong oleh ayana untuk tetap mengikuti sholat berjamaah di musholla. Sepulang kegiatan ibadah pagi, kami lanjutkan dengan aktifitas olahraga di stadion olahraga yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman kami.


Jogging pagi mengelilingi lapangan stadion, di lanjutkan dengan sarapan bersama di kedai bubur ayam langganan kami, di lanjut dengan proses istirahat (dan tak lupa mandi pagi yang sudah terlalu siang 😁😁😁)

Berhubung hari ini ada jadwal menghadiri walimah pernikahan sahabat kami, jadilah siang hari ini di isi dengan agenda "kondangan"


Melanjutkan rencana untuk semakin intens melatih motorik kasar anak-anak, perjalanan kami lanjutkan dengan outing ke toko sport untuk membeli raket bulu tangkis yang akan kami pergunakan bersama anak-anak


Sore ini pun di tutup dengan kegiatan berlatih bulu tangkis bersama.









#level4
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak
#harike-6

Sabtu, 29 April 2017

Berkunjung ke kebun_Level 4_Hari Kelima_Gaya Belajar Anak

Seperti biasanya hari libur adalah harinya Ayana bersama anak-anak. Berhubung di pagi ini telah ada agenda untuk menghadiri pertemuan orang tua dan fasilitator di sekolah formal Nadia (6y1m) walhasil waktu olahraga pagi kami pangkas dan di ganti dengan kegiatan outing setelah kami melakukan pertemuan di sekolah.

Saat bunda dan Ayana menghadiri rapat PMOG


Tujuan outing kami kali ini adalah desa tempat Mbak Yeni (Asisten yang bekerja di rumah kami) berasal. Menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, Elang laut yang bergengger manja di pucuk-pucuk pohon sepanjang pantai yang kami lewati, memperhatikan dengan seksama gerbong kereta api berisi muatan batubara yang melintas saat kami dalam perjalanan, menghitung dengan ceria berbagai jenis kendaraan yang kami lewati menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan untuk anak-anak. Berhubung Nadia belum pernah bertemu dengan elang laut, maka ketika pertama kalinya melihat hewan tersebut,beberapa waktu dalam perjalanan kami habiskan mencari informasi tentang elang laut melalui media internet di gadget.


Sesampainya di tempat mba yeni, anak-anak begitu antusias untuk melihat kebun di belakang rumah mba yeni, karena di sana lah letak para sapi, kambing dan ayam di pelihara dan beraktifitas di sekitarannya.

Melihat sapi dan berbagai hewan ternak, menyentuhnya secara langsung dengan mereka, menjadi pengalaman menarik untuk anak-anak.

Sepulang kami dari tempat mba yeni, saya mencoba mengulang kembali perjalanan kami hari ini, memancing Nadia untuk melanjutkan cerita yang telah saya mulai.




Hari ini saya dan Ayana belajar lagi hal-hal kecil mengenai parenting. Sekecil apapun, sesederhana apapun yang kita berikan untuk anak-anak sepanjang kita bisa menyikapinya dengan lebih bijaksana, memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk media belajar anak-anak, dan memberikan stimulus positif untuk tumbuh kembangnya saat ini dan kelak di kemudian hari.


#level4
#harikelima
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak


Jumat, 28 April 2017

Menulis dengan ceria_Level 4_Hari Keempat_Gaya Belajar Anak

Menulis sebetulnya menjadi aktifitas yang kurang di minati oleh Nadia (6y1m), aktifitas bersama pena dan kertas yang paling diminatinya sejauh ini masihlah seputar melukis dan mewarnai.

Untuk itulah terkadang saya perlu mencari beberapa alternatif cara untuk menyajikan "kurikulum" menulis di tengah aktifitas Home Education di rumah kami, sehingga menjadi sebuah aktifitas yang menyenangkan dan jauh dari kata membosankan.

Seperti halnya hari ini, Nadia dan Yeza belajar mengenal huruf melalui media visual dan audio.

Saya mencoba menuliskan beberapa huruf yang telah familier untuk Nadia serta membacanya melalui lagu, jika saat bertemu dengan suatu huruf, saya mencoba mengkolerasikannya dengan sebuah nama hewan atau benda,  jika kemudian huruf tersebut sebagai perwakilan nama hewan, maka saya berpura-pura menirukan sura dan tingkah laku hewan tersebut. Jika misalnya huruf tersebut mewakili sebuah benda, saya mengajak Nadia dan Yeza menunjuk benda tersebut jika berada di sekitar rumah kami.






Rupanya metode pembelajaran seperti ini jauh lebih efektif, metode pembelajaran yang justru membuat anak nyaman dan tertarik untuk terus mencoba dan mempraktikkan berulang-ulang kali.


Nak, tau gak sih? Kalau hari ini Bunda sedang mengajarkan membaca dan menulis melalui konsep audio visual, selain agar kalian nyaman dan jauh dari kesan terpaksa untuk melakukannya, bunda sebenarnya sedang mengemban misi menemukan gaya belajar mana sih yang paling asyik untuk kalian 😀😀😀


Hihihihi....  Jangan bosen ya nak, kita uji coba di banyak hal-hal baik berikutnya 😀😀😀



#level4
#harike-4
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak