Tampilkan postingan dengan label Aliran Rasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aliran Rasa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 November 2019

Kamis, 16 Mei 2019

Mandiri itu Artinya Kamu Lebih Menghargai dirimu di banding Sebelumnya


Saat di minta menuliskan aliran rasa mengenai tantangan yang kami terima di level 2 kelas bunda sayang Ibu Profesional, saya sempat menunda untuk menuliskannya. Karena apa? Karena alibi ini masih bulan Ramadhan, jadwal cukup padat dengan berbagai project Ramadhan dan sosial, komunitas di regional yang lumayan menyita fikiran, belum lagi jadwal organisasi yang kadang gak bisa di ajak kompromi...
Fyiuuugh intinya mah kesimpulan alibi di atas Males 🤣🤣🤣
Huahahahhahaaa....

Males koq di piara yak? Mending pelihara arwana yang konon kabarnya bawa rejeki buat yang ngerawat😆

Ini lah akibat manajemen waktu yang belum pas sehingga rasanya energi sudah cukup terkuras dengan aktivitas sekunder hingga lupa pada yang primer.

Saat mendapat materi mengenai Melatih Kemandirian, kami merefleksi kembali si titik kemandirian yang mana pijakan kami hari ini, dalam hal apa saja kami berempat sudah bisa di kategorikan menjadi pribadi mandiri?

Ayana seorang lelaki dewasa berusia 35 tahun dengan aktivitas di ranah publik yang terkadang lupa untuk meletakkan kembali handuk seusai ritual mandinya,
Si emak perempuan kebanyakan gaya dengan kemampuan spasial di bawah rata-rata di usianya yang memasuki tahun ke-33 sehingga masih sangat bergantung pada Ayana dalam hal membaca peta jalan,
Kak Nad wanita muda menjelang usia Akil Baligh yang masih butuh "di ceriwisin" saat harus meletakkan barang kembali ke asal
Atau Adek Yeza pemuda tanggung berlesung pipit yang terkadang belum tergerak untuk mengambil "jatah makan" jika tidak di sediakan si emak


Akhirnya perlahan kami coba untuk bertransformasi dan meninggalkan kebiasaan-kebiaan yang terlacur
Menet
Alah bisa karena biasa...
Pepatah lama di atas masih kah relevan? Kalau saya sih yes gak tau deh Raul Lemas 🤣

Karena menurut saya pribadi "tantangan" sesungguhnya baru di mulai pasca lepas masa tantangan, apakah kita masih bisa konsisten menjalankan segala petunjuk dari setiap materi yang di berikan? Apakah mengerjakan tantangan T10 hanya sebagai penggugur kewajiban untuk bisa lulus dari kelas ini? Ataukah untuk sebuah "gaya" dan "naik kelas" karena berhasil mengumpulkan suatu badge tertentu?


Weelll.. Tidak semudah itu Fergusso, Mandiri itu letaknya ada di jiwa yang tercermin dari perilaku keseharian, bukan sekedar berbagai kata yang di ukir dalam bingkai sebuah tugas.

Selamat memaknai kembali arti kemandirian versi terbaikmu
Dan nikmatilah manisnya menjadi pribadi yang percaya dan lebih mencintai dirimu tanpa suatu alasan yang melemahkan rasa itu



Bandar Lampung, 11 Ramadhan 1440H
Puspaning Dyah, menulis adalah menorehkan rasa


Kamis, 18 April 2019

Bahasa Indonesia Resep Mujarab Memulai Komunikasi Produktif

Beruntunglah kita terlahir di bumi pertiwi yang walaupun berasal dari suku yang berbeda, tinggal di pulau yang berbeda serta adat dan istiadat yang berbeda, namun kita memiliki Bahasa Indonesia yang menyatukan kita semua. Penah gak melakukan uji analisa, jika tiada Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional, akan seperti apa kita berkomunikasi dengan individu yang “berbeda”dengan kita? Orang-orang dari ujung barat Indonesia bisa berkomunikasi dengan saudaranya di ujung timur negri dengan bahasa Indonesia sebagai penyelamat dan penengah mereka. Bayangkan saja jika para penduduk tidak bisa saling berkomunikasi, mempersatukan mereka bisa jadi hal tersulit bagi kita semua.
Komunikasi Produktif

Selasa, 09 Mei 2017

Don't Teach Me, I Love to Learn



Saat saya menikah, kemudian Allah hadirkan sesosok nyawa baru dalam rahim saya, hingga kemudian ia terlahir maka di detik tersebut, janin dalam kandungan saya resmi menyandang status sebagai "ANAK" dan serta merta saya dan ayana sah secara de'facto dan yuridis bergelar "ORANG TUA".

Ketika menjadi orang tua, banyak perubahan yang kami alami, kami yang tadinya berdua, kemudian menjadi bertiga hingga hari ini komplit menjadi ber-empat. Mencoba mengamati pola unik anak-anak dengan "ilmu titen" membuat kami yakin bahwa sesungguhnya mereka adalah pembelajar sejati. Bahkan misalnya pun kami ini nol persen terhadap ilmu parenting, tak mengubah konsep bahwa mereka adalah pembelajar yang unggul.

Hingga kemudian pada suatu titik kami semakin menyadari bahwa kebutuhan krusial untuk anak-anak bukanlah ilmu parenting yang kami miliki, melainkan lebih pada waktu dan perhatian kami dalam membersamainya, karena pada akhirnya setiap orang tua yang akan menemukan pola parenting mana yang bisa di terapkan kepada buah hati, dan bukan hasik dikte dari pakar parenting manapun.


Rasanya saat menghadapi materi Level 4 seperti lagi ngalamin jatuh cinta, jatuh hati sampai jatuh bangun 😥😅😂


Lagi-lagi kami merasa di tampar bolak-balik hingga tak kunjung usai dalam menyelesaikan perkuliahan Bunda Sayang ini.  Fyiiiuuuuh rasa lelah tapi tetap harus melangkah 😅😅😅


Betul sekali jika anak-anak adalah pembelajar yang alami, beri mereka rangsangan melalui stimulus maka dengan sendirinya mereka akan temui jalan keluar.

Nadia yang tampak ceria, namun memiliki PR besar terhadap kepercayaan dirinya, hingga berimbas pada hal-hal sederhana yang berkaitan dengan kepercayaan dirinya, misalnya contoh keberaniannya untuk berbicara dan menyapa temannya di dalam suatu forum, keberaniannya untuk mengungkapkan isi hatinya baik kepada saya, Ayana maupun pihak di luar kami berdua.

Qadarullahnya saat mendapat tugas memahami Gaya Belajar Anak, bertepatan dengan di terimanya hasil psikotest Nadia di sekolah formalnya. Hasil psikotest menunjukkan hasil yang menggembirakan sekaligus membanggakan untuk kami selaku orangtuanya, bagaimana tidak bangga jika ananda tergolong anak-anak dengan kecerdasan intelektual di atasnya di atas rata-rata (superior),  walaupun dengan satu catatan kecil mengenai kemampuan motorik kasarnya. Melirik ke belakang dengan sifat dan sikap Nadia kami menjadi mahfum bahwa ada PR besar di depan mata, bagaimana kami mampu memberikan stimulus lebih untuk mendongkrak kekurangan kecil dari dirinya, dan menjadi salah satu cara bagi kami memaksimalkan potensi unik yang dimilikinya.


Kecenderungan Nadia akan warna dan grafis berusaha kami gabungkan dengan berbagai aktifitas motorik kasar saat proses membersamai Nadia. Kami ajak Nadia berbelanja raket bulu tangkis dan memilih senar serta perangkat lainnya sesuai dengan warna kesayangannya. Hingga kami selipkan cerita (mengingat aspek Visual dan Auditori Nadia sangat kuat) mengapa kita perlu berolahraga, siapa atlit kebanggaan Indonesia, dan hal-hal sederhana yang bisa di tangkap oleh logikanya.


Ayana berperan penting saat proses melatih motorik kasar Nadia, saya berperan dalam mempertajam kemampuan visual dan auditorinya. Proses LEARN senantiasa kami tumbuhkan di dalam keluarga kami, berusaha dengan maksimal membersamai ananda dengan proses yang menyenangkan dan jauh dari kesan paksaan.

Di akhir pelaksanaan tugas bulan ini, saya mencoba mengajak Nadia mereview kembali perjalanan kami sepekan terakhir, intensitas latihan motorik kasar dan "titen" terhadap gaya belajarnya, kami gelarlah sebuah Family Project yang sasarannya adalah Nadia bisa berkreasi dengan sesuatu hal yang ia sukai namun merangsang keinginannya untuk tetap berlatih motorik kasarnya.

Jatuhlah pilihan pada membuat film sederhana (melalui aplikasi di gadget) berisi perjalanan Nadia sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Kelas TK-B (mengingat Nadia saat ini memasuki masa menjelang inagurasi kelulusannya). Sekaligus sebagai apresiasi dan luapan rasa terima kasih untuk Bu Eel dan bu Nur,  tim fasilitator Nadia di sekolah formalnya. Jadilah kami berdiskusi memilih foto yang akan di tampilkan, mengedit video, memilih sountrack film, hingga detail kecil seperti alur film kami bahas dan diskusikan bersama hingga lahirlah sebuah film pendek berisi perjalanan kisah Nadia selama menghabiskan waktunya di sekolah bersama teman-teman dan guru-gurunya.
Bukan hasil yang spektakuler memang, namun kami lebih melihat bagaimana Nadia mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan semangat dalam belajar sesuatu tantangan baru yang kami apresiasi di dirinya, hanya melalui stimulus kecil dari kami bisa lahir sebuah project sederhana, sebagai kenang-kenangan di masa depannya kelak.

Satu hal ibroh yang ingin saya ajarkan kepada Nadia, bahwa sekecil apapun usaha kita hari ini, bisa jadi akan bernilai besar di kemudian hari. Nadia kecil kami pastinya akan selalu tumbuh menjadi gadis yang ceria, yang yakin pada dirinya bahwa ia mampu menaklukkan seberat apapun rintangan di hadapannya selama ia percaya, bahwa ia mampu mengalahkan rasa takutnya.







Bandar Lampung, 9 Mei 2017
Puspaning Dyah, seorang bunda yang tak letih membersamai buah hatinya


#level4
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak
#aliranrasa


Selasa, 14 Maret 2017

Aliran Rasa "Melatih Kemandirian"





Jatuh bangunnya keluarga kami dalam melatih kemandirian setiap anggota keluarga, menjadi sebuah kisah berharga yang rasanya perlu di abadikan dalam bentuk tulisan, sebagai oleh-oleh manis dari masa lalu untuk ananda kami di masa Akhil Baliq-nya kelak.

Melatih yang semula tidak terbiasa menjadi sesuatu yang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Tanpa kita pernah sadari sebenarnya dalam proses hidup ini, banyak bertebaran potongan-potongan kecil yang menjelma menjadi tempat kita belajar sesuatu dengan lebih efektif.

Misalnya saja, ketika Nadia belajar mengendalikan sepeda roda dua hanya karena teman bermainnya membawa sepeda dan ia iseng mencobanya. Walaupun hingga hari ini saya belum sampai di tahap menjadi "terpesona" dengan kemampuannya mengemudikan sepeda roda dua, tapi paling tidak dari titik inilah awal kemandiriannya untuk berani mencoba sesuatu di luar zona nyamannya.

Ada banyak momen spesial ketika kita belajar sesuatu di rentang usia mana-pun kita belajar. Melakukan perjalanan, bertemu banyak orang, membuka diri, mengamati, mencoba sendiri, memikirkan beberapa hal yang saling berkaitan, semua itu kami simpulkan sebagai cara tercepat untuk belajar sesuatu. Kita bisa saja jadi seorang tukang kayu yang baik jika berhari-hari kita mengunjungi lapak tukang kayu yang sedang sibuk membuat aneka macam hasil produksi dari kayu. Di lain tempat kita bisa berkesempatan menjadi tukang kue, tukang cat, pembalap, atlet, seniman, penembak, penjahat atau apa pun itu jika kita banyak menghabiskan waktu bersama orang-orang dengan profesi itu, kita akan menjadi mahir dengan sendirinya atas bidang ilmu yang mereka kuasai.

Sayangnya banyak orang yang tidak menyadari, menghabiskan waktunya menjalani rutinitas yang itu-itu saja tanpa mengizinkan pengetahuannya berkembang. Bagaimana mungkin kita tidak hafal setiap gram tepung terigu yang kita olah menjadi sebuah kue kalau kita tidak praktik langsung membuat kue?

Dengan melatih kemandirian dan jiwa pembelajar mandiri di diri anak-anak, paling tidak ini menjadi suatu usaha untuk menjadikan mereka Autodidak yang baik, bahkan keahlian kecil saja yang kita ajarkan mungkin akan besar manfaatnya di kemudian hari.



Catatan Kecil saya, sebagai bagian dari Gen Pembelajar
Puspaning Dyah, saat menulis adalah mengalirkan rasa

#bundasayangiip
#melatihkemandirian



Sabtu, 18 Februari 2017

Belajar dari Kemenangan

Belajar dari kemenangan


Naturalnya sifat manusia selalu ingin menang dan sedikit mengalah. Terlebih jika sifat natural tersebut tidak dibarengi dengan ilmu dan pemahaman adab yang baik. Pertarungan yang menghasilkan kemenangan akan di ikuti oleh sifat "jumawa", merasa besar diri dan Naudzubillah akan merasa menjadi lawan tak terkalahkan. Begitu pula sebaliknya, jika pertarungan berakhir dengan kekalahan, proteksi diri terhadap sifat egosentris yang tidak ingin dianggap kalah, justru menjadi bumerang dan semakin memperjelas terpancarnya aura negatif dari dalam diri.

Pada prinsipnya mempersiapkan kemenangan sama pentingnya dengan mempersiapkan jika kita berada dalam posisi "kalah", di pertandingan manapun, di kalangan manapun dan di rentang usia manapun.

Beberapa waktu terakhir saya dan Nadia (5y9m) sama-sama belajar berbesar hati dalam menghadapi perlombaan. Ananda Nadia mengikuti "Lomba Menyusun Puzle" dalam rangka perayaan "Salam Trash Fair" di sekolah formalnya. Dari jauh hari saya berusaha mengkondisikan mental Nadia untuk setidaknya berani maju dalam menghadapi lomba kali ini (sembari berusaha menahan ego saya pribadi -insight in- saya kepada Nadia).

Mempraktikan jurus Komunikasi Produktif, dengan menggunakan metode 7:38:55 penggunaan bahasa yang jelas dan mudah dipahami, mengkondisikan Nadia berada dalam mood yang stabil, saya berusaha mensejajarkan posisi saya dengan Nadia agar FoR dan FoE kami berada dalam frekuensi yang sama. Menceritakan beberapa konsekuensi yang akan Nadia terima jika memutuskan mengikuti lomba atau tidak berpartisipasi aktif dalam perlombaan.

Pemilihan kata-kata penyemangat menjadi kunci setiap bentuk komunikasi saya kepada Nadia.

"Nadia akan selalu menjadi anak bunda yang terhebat baik kakak menjadi pemenang ataupun tidak"

"Kalah atau menang tidak akan mengubah persentase rasa sayang bunda ke Nadia"

"Buat Yeza, Nadia akan selalu jadi kakak kebanggaan Yeza"

"Kalau kakak takut gagal justru sebetulnya Kak Nad sedang mengabaikan kesempatan untuk berhasil"

"Menurut bunda dengan segala persiapan Nadia sudah jadi langkah baik untuk Nadia"

Kata-kata positif seperti itulah yang saya tanamkan untuk "mendongkrak" kepercayaan diri Nadia.


Walaupun di hari H pelaksanaan lomba Nadia terlihat belum percaya diri jika tidak di dampingi saya, akhirnya Nadia mulai mau berani untuk sedikit "terpisah" dari saya. Berproses bersama teman-teman satu team-nya menyelesaikan tantangan dalam lomba.

Tak di sangka bahwa Ananda Nadia membawa pulang piala juara pertama dalam lomba, mungkin ini hanya lomba dengan skala kecil, namun yang terpenting bagi kami adalah kemauan Nadia untuk berani berproses dan kemauannya untuk selalu menantang dirinya di batas "limit" yang di rasa olehnya.

Benar sekali quotes yang saya dapatkan dari Ibu Septi Peni Wulandani selaku Founder Institut Ibu Profesional, bahwa limit kita adalah Unlimited, tidak ada satu pihak-pun yang bisa membatasi diri kita kecuali diri kita sendiri. Atas dasar inilah, saya selalu berusaha menantang diri saya sendiri maupun anak-anak untuk berani menetapkan limit kami setinggi mungkin, karena kami percaya bahwa kekuatan Tuhan akan berada di mana-pun, membantu kami dengan segenap Kasih Sayang-Nya, menjawab setiap ikhtiar kebaikan yang di lantunkan dalam doa, kerja keras, kerja cerdas serta kerja ikhlas setiap Hambanya.


Terima kasih Institut Ibu Profesional, memberikan saya kesempatan untuk selalu belajar dan memantaskan diri, baik untuk diri saya, keluarga saya maupun lingkungan sosial tempat saya bermukim di dalamnya.


Puspaning Dyah, menulis adalah mengalirkan rasa






#institutibuprofesional
#iiplampung
#aliranrasa
#kelasbunsayiip