Tampilkan postingan dengan label Tantangan10hari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tantangan10hari. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Desember 2019

Bijak Dengan Apa Yang Ada



Menjelang akhir pekan dan masa uas di sekolah kak nad. Kami bersepakat untuk berkunjung ke sebuah mini market dengan ketersediaan logistik yang cukup lengkap. Berbelanja aneka kebutuhan dapur serta aneka jajanan anak-anak.


"Menggeledah aneka barang yang kami beli dengan maksud agar dapat diketahui secara presisi barang-barang apa saja yang masih tersedia.

Ternyata diketemukan di beberapa barang dan jenis yang sama.

Artinya kami sudah cukup menghabiskan banyak dana untuk membelanjakan barang untuk keperluan yang tak digunakan saat ini atau dalam waktu dekat. Terutama dibagian snack anak-anak.

Berdasarkan hasil temuan tersebut, kami buat list barang-barang apa saja yang akan kami cari saat kunjungan ke supermarket sehingga apa yang kami belanjakan hanya barang yang benar-benar kami butuhkan.


Selasa, 30 April 2019

Memasak Melatih Sensitifitas Rasaku



Ada yang mengatakan kalau salah satu skill yang harus di miliki perempuan adalah "Kemampuan Memasak", demi apa? Demi mengenyangkan suami konon kabarnya 🤣🤣🤣
Entahlah idiom ini sekedar hoax atau wacana yang belum terbukti kebenarannya, trus ada lagi kemudian yang menimpali,


" Mengapa Ibu Rumah Tangga harus bisa masak? Padahal itu kan Rumah Tangga, bukan Rumah Makan?"
Hiyyaaaa jeder...jeder..jeder... 🤣🤣🤣


Baiklah, sekarang pilihan ada di tangan anda, mau jadi genk yang pertama atau penganut mahzhab yang kedua? #oopzh

Hahahahaaa....
Ono opo tho yo si emak malem-malem nglantur kayak orang kurang shopping aza???
Well, sakjane ki si emak cuman mau cerita beberapa hal tentang memasak.


Jadiiiiiiii, dulu tuh karena Almarhumah Mama saya doyan bener sama yang namanya dunia boga (dan pancen masakan beliau ki oye tenan lho 😁) saya jadi terbiasa menyaksikan aneka atraksi beliau di dapur, mencicipi segala hasil kreasi beliau, mengamati dengan seksama bahan dan aneka bumbu yang di masukkannya dalam sebuah hidangan.


Lama kelamaan mendapat tugas dari Ibunda Ratu untuk berbelanja aneka bumbu dan sayur mayur di pasar tradisional yang letaknya cukup jauh dan membuat lumayan berkeringat jika berangkat ke sana menggunakan sepeda roda dua dengan keranjang manis di depannya. Lambat laun saya terbiasa turut meracik dan meramu aneka bahan untuk menjadi sebuah sajian, dari menu sederhana hingga aneka hidangan dengan kerumitan yang cukup pelik untuk usia kanak-kanak saya di saat itu.


Jika di runut, kebiasaan Mama memasak rupanya di tularkan pula oleh Almarhumah Nenek saya, dengan berbagai keahlian beliau membuat aneka kudapan khas negri Belanda tempat Kakek beliau berasal. Aroma dapur yang selalu "ngebul" dengan aroma wangi kue membuat saya ketagihan untuk selalu berkunjung ke rumah beliau.


Lalu apakah kebiasaan ini kembali berulang? Sepertinya akan seperti itu, berulang di keluarga kami 😃 Kak Nad sejak usia 4 tahun mulai menunjukkan ketertarikannya pada dunia kuliner. Yang semula hanya mengenal aneka bumbu, saat ini ia mulai mahir mamadupadankan aneka bumbu dan bahan untuk di sulap menjadi suatu bentuk yang berbeda. Sensitifitas rasanya mulai tumbuh hingga bisa membedakan dan mengidentifikasi bumbu apa saja yang ia kecap di setiap suapan yang masuk ke mulutnya.


Berhubung saat ini kami tinggal di suatu perumahan dinas yang membuat tiada "abang-abang penggoda" penjaja cilok, bakso, gorengan, donat dll yang biasanya rajin bersliweran di perkampungan. Kami cukup puas dengan sekotak freezer berisi makanan beku untuk bekal cemilan kami sehari-hari. Mungkin inilah yang menjadi latar belakang Kak Nad hingga mulai terbiasa untuk mengolah bahan-bahan menjadi suatu bentuk kudapan untuk kami konsumsi sehari-hari.


Seperti di sore ini, Kak Nad yang masih merasa lapar lepas sesi makan siangnya, saya pun menyarankan untuk ia mencari sendiri kudapan yang akan ia konsumsi. Pilihannya jatuh pada cireng keju yang kami simpan si dalam freezer. Melalui proses thawing sembari kan nad menyelesaikan urusan pasca sekolah. Lanjut proses goreng menggoreng hingga siap di santap bersama sang adik, semua proses di kerjakannya sendiri dengan minim bantuan dari si emak.


Kesehariannya memang telah terbiasa menyiapkan menu sarapan untuk kami semua, menunjang hobinya yang gemar eksplorasi aneka bumbu untuk menjadi sebuah hidangan. Anda sudah pernah merasakan mi goreng dengan bumbu jahe, kencur dan ketumbar? Atau sayur bayam rasa lengkuas? Mungkin anda tertarik mencoba tumis pare yang telah di rendam gula jawa semalaman? Hahahahhaa datanglah ke rumah kami untuk mencoba aneka menu ajaib tersebut, karena baginya Dapur si emak adalah laboratorium yang menyenangkan untuknya 😃😃😃


Kak Nad yang mulai menggoreng kudapan sorenya



Kak Nad saat proses finishing



Tidak semua orang harus bisa masak, terlebih harus menghapalkan serentetan resep atau pun harus membedakan banyaknya bumbu yang ada di menu-menu khas kuliner nusantara, namun bagi kami ada banyak insight yang bisa kami dapatkan dalam proses ini. Membiasakan anak-anak untuk bisa menyiapkan setidaknya menu sederhana untuk dirinya sendiri (semacam telur goreng atau sayur bening macam sayur bayam dan katuk)
Jiwa kesabarannya akan tumbuh seiring dengan ketekunannya di bidang ini, mereka akan menikmati dan menghargai suatu proses tanpa bergantung pada banyak hal-hal instan.


Belajar memasak merupakan bekal bagi mereka di masa dewasanya kelak. Mereka akan terbiasa mengerjakan segala sesuatunya sendiri tanpa bantuan dari yang lain. Ketika merasa lapar ia tak hanya menunggu kita untuk menyiapkan hidangan bagi mereka. Mereka dapat menyiapkannya sendiri dengan catatan para orang tua telah meyiapkan bahan dan menu yang mudah di olah mereka.


Coba mintalah mereka mencicipi hasil makanan yang telah jadi. Biarkan ia berkomentar dengan hasilnya, lama kelamaan lidahnya akan peka dengan aneka rasa.
Saat sedari kecil mereka terlatih untuk mengecap aneka rasa, aroma, bumbu maupun bahan dari suatu sajian. Merekapun akan mampu membedakan aroma makanan yang telah matang dengan yang masih mentah. Efeknya adalah, inderanya akan semakin tajam dan terasah dengan baik. Dengan menyiapkan kebutuhannya seorang diri, anakpun akan tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan mampu bertahan hidup saat harus hidup berjauhan dari orang tua.


So? Lets happy coocking with your child ☺


Bandar Lampung, 30 April 2019
Puspaning Dyah, Catatan Bunda Pembelajar





#hari6
#gamelevel2
#tantangan10 hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Senin, 29 April 2019

Focus On Your Track

Mengawali pekan dengan rutinitas seperti biasanya, saat kehidupan kembali pada jam normal dan bertemu dengan kebiasaan yang rutin kami temui. Kak Nad kembali sekolah, ayana kembali ngantor, si mak yang kembali menjadi sang manajer dengan berbagai keahlian, serta adek yeza dengan seabrek kegiatannya yang berpusat dari rumah.

Menjawab tantangan dari Kelas Bunda Sayang dengan tema Melatih Kemandirian pasca Tration (Travelling Education) OSIN FAMILY lalu, kami buka dengan obrolan ringan pada Kak Nad. Hal-hal apa saja yang mampu di kerjakannya secara mandiri. Hingga kemudian keluar inisiatif dari Kak Nad untuk menuliskan berbagai stndar yang memang telah berlaku di rumah kami. Dengan sedikit penyesuaian waktu kegiatan yang harus di mulai lebih pagi karena jadwal berangkat sekolah yang harus maju setengah jam dari jadwal seharusnya (hiks..hiks.. efek kurang baiknya jalur yang kami lalui untuk menuju sekolah formal Kak Nad).

Jadwal dan standar yang di buat sendiri oleh Kak Nad


Kak Nad mengklasifikasikan menjadi 3 standar utama, yaitu Standar Pagi berisi kegiatan di pagi hari sebelum berangkat sekolah, Standar Sore adalah waktu sepulang sekolah hingga menjelang waktu petang dan terakhir adalah Standar Malam yaitu kegiatan yang di lakukan pasca Shalat Isya.

Perkara apakah setiap hari akan berlalu secara rutin? kita lihat saja nanti, setidaknya anak-anak akan belajar bertanggungjawab pada dirinya sendiri, mencukupkan dahulu kebutuhan primer baru menuntaskan kebutuhan sekunder bahkan tersier mereka. Mereka berlatih membuat skala prioritas yang harus mereka tunaikan dan mana yang bisa di delegasikan, memacu semangat untuk fokus dengan apa yang ada di muka tanpa menunda hingga yang lain terbaikan.


Bandar Lampung, 29 April 2019
Puspaning Dyah, Catatan Bunda Pembelajar


#hari5
#gamelevel2
#tantangan10hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang

Minggu, 28 April 2019

Alam Mengajariku Banyak Hal

Melatih Kemandirian Day#4
Bermain dan bergembira adalah dua hal pokok yang menjadi aktifitas anak-anak. Karena lazimnya anak-anak usia dini gemar sekali melakukan suatu permainan. Misalnya saat saya mengenalkan konsep angka pada Adek Yeza, maka saya bawa ia ke tanah lapang di depan rumah kami, kami kumpulkan beberapa daun kering sembari menghitung dan mengurutkan dari bagian paling kecil hingga paling besar. Terkadang di sertai beberapa nyanyian yang ceria dan menarik hati hingga anak lupa bahwa ia sedang menjalani proses belajar.

Ada proses penyaluran energi dalam bentuk positif bagi anak-anak, merangsang seluruh inderawinya bekerja merespon suara alam. Melalui rabaan ia akan belajar bentuk dan menguatkan sensor motoriknya, melalui nyanyian menguatkan keceriaan dan memudahkan proses menghafal, melalui pencarian demi pencarian menumbuhkan rasa ingin tahu yang lebih serta banyak hal berharga lainnya yang bisa kita dapatkan saat anak-anak berkegiatan di luar rumah.

Bermain di alam mengajarkan beberapa point membangun untuk mereka. Di antaranya anak akan belajar konsep mengikuti aturan dan SOP, ia belajar sosialisasi dengan sekitarnya, pintar menempatkan diri dan mampu mengelola emosinya dengan baik, semangat bekerjasama serta tak lupa mengembangkan beberapa aspek kecerdasan anak di antaranya, kecerdasan mental, spiritual, bahasa dan tak lupa kemampuan motoriknya yang akan sangat berpengaruh pada kehidupan mereka di masa mendatang.

Dalam suasana liburan dan menuntaskan misi "TRATION (Travelling Education) Osin Family, kami membawa anak-anak untuk menikmati salah satu tempat wisata edukasi di wilayah Bandung daerah agak atas 🤣

Duo Jenderal saat mencoba mainan edukatif

Duo Jenderal belajar konsep Katrol

Diaroma Gunung Meletus

Mencoba Olahraga Panahan


Adalah sebuah tempat bernama " Bandung Science Center" atau di kenal dengan nama BSC. Sebuah wahana permainan edukasi yang baru di buka tiga tahun yang lalu.
Nah sebagai salah satu uji kemandirian serta keberanian duo jenderal pada saat mengelilingi arena BSC ini duo jenderal hanya di temani oleh seorang kakak manis yang bertugas sebagai pemandu mereka.

Petualangan di mulai saat mereka menjelajah dan mengenal apa itu bumi dan ruang angkasa, di lanjut dengan eksplorasi beberapa percobaan dari beberapa disiplin ilmu, dari mulai percobaan fisika, kimia, alat peraga biologi dll. Tour science di akhiri dengan menikmati area outdoor sembari berlatih mengendalikan busur dan anak panah, dan tetap di kawal oleh seorang pemandu ya 😃
Hari ini, selain belajar sains dan berbagai ilmu pengetahuan langsung para praktik di lapangan, anak-anak belajar mandiri dan berani menjelajah tanpa dampingan Ayana dan Bunda, hanya di temani oleh kakak pemandu. Seperti apa yang pernah di tulis Merry Riana dalam sebuah bukunya, "Aku akan perintahkan diriku untuk berkata mampu, aku akan mengalahkan keraguan, rasa takut, perasaan minder dan menukarnya dengan keberanian".




Jakarta, 28 April 2019
Puspaning Dyah, catatan bunda pembelajar






#hari4
#gamelevel2
#tantangan10 hari
#melatihkemandirian
#kuliahbundasayang
@institut.ibu.profesional

Rabu, 03 Mei 2017

Mengamati Bintang_Level 4_Hari Kesembilan_Gaya Belajar Anak

Dalam rangka menunaikan tugas dari sekolah formalnya untuk melakukan pengamatan bintang bersama Ayana dan Bunda, malam ini Nadia berkunjung ke kantor Ayana (karena ayana gak bisa pulang sesuai jadwal jam pulang kantor jadi terpaksa deh di susul di tempat kerja 😥)


Setelah intermezo dengan menamani sebentar ayana yang masih rapat dengan anggota timnya, akhirnya kami bergegas menuju area parkir kantor ayana untuk melakukan pengamatan bintang di malam ini.

Sayang cuaca tidak bersahabat, langit yang sedikit mendung membuat bintang-bintang seolah bersembunyi di balik pekatnya awan.


Dan akhirnya kami kembali ke rumah dengan tidak membawa hasil karena tidak ada pengamatan yang bisa kami lakukan.


Pengamatan bintang kami lanjutka. di rumah melalui hasil penelusuran di buku maupun selancar media online.


#level4
#kelasbunsayiip
#gayabelajaranak

Senin, 01 Mei 2017

Vintage Toys_Level 4_Gaya Belajar Anak_Hari Ketujuh

Memasuki Senin rasa Minggu kali ini kami manfaatkan dengan bermain bersama anak-anak di area sekitar "Omah Sinau". Rutinitas pagi kami lalui seperti biasanya, ibadah pagi bersama, di lanjutkan dengan olahraga ringan di lapangan depan rumah kami, menyusul berolahraga bulu tangkis bersama.

Untuk kali pertama anak-anak berlatih bermain bulu tangkis bersama Ayana, di awal mereka terlihat enggan mencoba, ngos-ngosan mengejar sang bulu ayam yang terbang kian kemari, namun perlahan mereka menemukan keasyikan saat bermain dan mengejar "bulu ayam" yang terbang kian kemari.


Aktifitas bonding antar anggota keluarga di lanjut dengan kegiatan di dalam rumah, Ayana mengenalkan anak-anak terhadap permainan tradisional berupa "congklak atau dakon". Sebuah permainan tradisional yang mengajarkan kesabaran, play fair dan kejujuran. Sembari bermain, Ayana dan saya bergantian menceritakan manfaat dari bermain congklak serta betapa permainan ini menjadi favorit untuk di mainkan saat saya maupun ayana berada di rentang usia Nadia saat ini.




Di tengah ketertarikan Yeza (2y6m) terhadap segala objek yang berwarna cerah, alih-alih ikut dalam permainan congklak bersama kami, Yeza lebih cenderung memilih bermain mandi bola dan memisahkan warna bola-bola plastik tersebut ke dalam kelompok warna yang sama.

Kecenderungan yang ada saat ini,  Yeza lebih suka mengamati benda yang secara visual menarik mata dan hatinya. Demikian pula kegemarannya dalam membaca buku, Yeza menggemari buku-buku dengan banyak corak warna dan gambar.





#level4
#harikeTujuh
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak

Minggu, 30 April 2017

Minggu Ceria Bersama Ayana_Level 4_Hari Keenam_Gaya Belajar Anak

Me-refresh fikiran atas hasil psikotest Nadia (6y1m) saat proses masuk tingKat Sekolah Dasar di sekolah formal pilihannya, di mana dari psikotest yang di adakan (tidak ada test semacam berhitung maupun membaca layaknya beberapa test permulaan saat anak-anak masuk SD)  menunjukkan hasil kemampuan intelegensia (IQ)  Nadia yang berada di kategori Superior dan dinilai matang untuk memasuki jenjang tingkat sekolah di atasnya saat ini (Kelas 1 SD),  hanya dengan penambahan catatan terkait dengan kemampuan motorik kasarnya.

Hihihi...  Memang jika di amati pola saat Nadia mengikuti outbond semasa TK-A dan TK-B nampak bahwa Nadia kurang menikmati proses outbond (sessi olahraga)  di kelasnya. Sehingga beberapa kemampuan terkait dengan motorik kasarnya perlu di genjot ekstra saat proses Home Education di rumah


Dan Ayana mengambil peran sebagai pimpro dalam hal melatih motorik kasar ananda sekaligus menyalurkan kemampuan kinestetik ananda.

Di mulailah hari ini dengan aktifitas di mushola, Yeza yang masih tertidur di gendong oleh ayana untuk tetap mengikuti sholat berjamaah di musholla. Sepulang kegiatan ibadah pagi, kami lanjutkan dengan aktifitas olahraga di stadion olahraga yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman kami.


Jogging pagi mengelilingi lapangan stadion, di lanjutkan dengan sarapan bersama di kedai bubur ayam langganan kami, di lanjut dengan proses istirahat (dan tak lupa mandi pagi yang sudah terlalu siang 😁😁😁)

Berhubung hari ini ada jadwal menghadiri walimah pernikahan sahabat kami, jadilah siang hari ini di isi dengan agenda "kondangan"


Melanjutkan rencana untuk semakin intens melatih motorik kasar anak-anak, perjalanan kami lanjutkan dengan outing ke toko sport untuk membeli raket bulu tangkis yang akan kami pergunakan bersama anak-anak


Sore ini pun di tutup dengan kegiatan berlatih bulu tangkis bersama.









#level4
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak
#harike-6

Sabtu, 29 April 2017

Berkunjung ke kebun_Level 4_Hari Kelima_Gaya Belajar Anak

Seperti biasanya hari libur adalah harinya Ayana bersama anak-anak. Berhubung di pagi ini telah ada agenda untuk menghadiri pertemuan orang tua dan fasilitator di sekolah formal Nadia (6y1m) walhasil waktu olahraga pagi kami pangkas dan di ganti dengan kegiatan outing setelah kami melakukan pertemuan di sekolah.

Saat bunda dan Ayana menghadiri rapat PMOG


Tujuan outing kami kali ini adalah desa tempat Mbak Yeni (Asisten yang bekerja di rumah kami) berasal. Menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, Elang laut yang bergengger manja di pucuk-pucuk pohon sepanjang pantai yang kami lewati, memperhatikan dengan seksama gerbong kereta api berisi muatan batubara yang melintas saat kami dalam perjalanan, menghitung dengan ceria berbagai jenis kendaraan yang kami lewati menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan untuk anak-anak. Berhubung Nadia belum pernah bertemu dengan elang laut, maka ketika pertama kalinya melihat hewan tersebut,beberapa waktu dalam perjalanan kami habiskan mencari informasi tentang elang laut melalui media internet di gadget.


Sesampainya di tempat mba yeni, anak-anak begitu antusias untuk melihat kebun di belakang rumah mba yeni, karena di sana lah letak para sapi, kambing dan ayam di pelihara dan beraktifitas di sekitarannya.

Melihat sapi dan berbagai hewan ternak, menyentuhnya secara langsung dengan mereka, menjadi pengalaman menarik untuk anak-anak.

Sepulang kami dari tempat mba yeni, saya mencoba mengulang kembali perjalanan kami hari ini, memancing Nadia untuk melanjutkan cerita yang telah saya mulai.




Hari ini saya dan Ayana belajar lagi hal-hal kecil mengenai parenting. Sekecil apapun, sesederhana apapun yang kita berikan untuk anak-anak sepanjang kita bisa menyikapinya dengan lebih bijaksana, memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk media belajar anak-anak, dan memberikan stimulus positif untuk tumbuh kembangnya saat ini dan kelak di kemudian hari.


#level4
#harikelima
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak


Jumat, 28 April 2017

Menulis dengan ceria_Level 4_Hari Keempat_Gaya Belajar Anak

Menulis sebetulnya menjadi aktifitas yang kurang di minati oleh Nadia (6y1m), aktifitas bersama pena dan kertas yang paling diminatinya sejauh ini masihlah seputar melukis dan mewarnai.

Untuk itulah terkadang saya perlu mencari beberapa alternatif cara untuk menyajikan "kurikulum" menulis di tengah aktifitas Home Education di rumah kami, sehingga menjadi sebuah aktifitas yang menyenangkan dan jauh dari kata membosankan.

Seperti halnya hari ini, Nadia dan Yeza belajar mengenal huruf melalui media visual dan audio.

Saya mencoba menuliskan beberapa huruf yang telah familier untuk Nadia serta membacanya melalui lagu, jika saat bertemu dengan suatu huruf, saya mencoba mengkolerasikannya dengan sebuah nama hewan atau benda,  jika kemudian huruf tersebut sebagai perwakilan nama hewan, maka saya berpura-pura menirukan sura dan tingkah laku hewan tersebut. Jika misalnya huruf tersebut mewakili sebuah benda, saya mengajak Nadia dan Yeza menunjuk benda tersebut jika berada di sekitar rumah kami.






Rupanya metode pembelajaran seperti ini jauh lebih efektif, metode pembelajaran yang justru membuat anak nyaman dan tertarik untuk terus mencoba dan mempraktikkan berulang-ulang kali.


Nak, tau gak sih? Kalau hari ini Bunda sedang mengajarkan membaca dan menulis melalui konsep audio visual, selain agar kalian nyaman dan jauh dari kesan terpaksa untuk melakukannya, bunda sebenarnya sedang mengemban misi menemukan gaya belajar mana sih yang paling asyik untuk kalian 😀😀😀


Hihihihi....  Jangan bosen ya nak, kita uji coba di banyak hal-hal baik berikutnya 😀😀😀



#level4
#harike-4
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak

Kamis, 27 April 2017

Aku senang bergerak_Level 4_Hari Ketiga_Gaya Belajar Anak

Mengawali hari kami buka dengan berkegiatan di luar rumah, niat hati ingin praktik Senam Kesegaran Jasmani (SKJ 88) ala-ala jaman saya dan Ayana masih duduk di bangku Sekolah Dasar dahulu, tapi pada kenyataannya baru lima menit berselang anak-anak sudah mengeluh lelah dan bosan (dan bunda-pun hanya bisa tepok jidat sambil mengelus dada, melihat lipatan lemak di perut sambil berbisik, duhai LEMAK untuk saat ini kamu masih bisa tinggal di perut mamak ya karena mamak batal olahraga pagi ini 😂😂😂)


Demi tetap ingin berolahraga sekaligus sebagai sarana untuk merangsang kemampuan kinestetik anak-anak, kegiatan pagi kami alihkan dari yang semula hanya seputaran rumah menjadi berpindah ke area seputaran lapangan tenis dan taman komplek (Alhamdulillah fasilitas olahraga di komplek rumah dinas kami terbilang lumayan lengkap)

Jadilah pagi ini kami berolahraga di lapangan dengan agenda "Gowes dan jogging ringan"


Yeza (2y6m) terlihat betul menikmati pagi ini dengan aktifitas fisik di luar rumah, entahlah sudah melewati berapa putaran saat ia menggowes sepeda warisan kakaknya itu, dan entah berapa ember pula keringat yang terkeluarkan karena saya berlarian mengejar Yeza dengan sepedanya.


Bagaimana dengan Nadia (6y1m)? Nampaknya Nadia kurang begitu menyukai aktifitas di luar ruangan terlebih yang harus melibatkan fisik, hanya bertahan 10 menit saja Nadia memutuskan untuk menunggu kami dari atas kursi ayunan yang tersedia di taman.


This is our journey for today, melihat minat dan ketertarikan ananda atas aktifitas di luar rumah, sembari tafakur alam atas segala kebesaran Allah SWT, serta tak lupa menyelipkan pesan moral yang baik betapa rasa sayang kita pada Allah perlu di buktikan pula dengan cara kita menyayangi tubuh kita, salah satunya menjaga kesehatan dan kebugaran melalui rutinitas berolahraga

Mens sana in  corpore sano, di dalam jiwa yang kuat terdapat tubuh yang sehat






Omah Sinau, 27 April 2017
Its fun when we're doing activity together


#level4
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak
#hariketiga

Rabu, 26 April 2017

Berkarya Tanpa Lelah_Level 4_Hari Kedua_Gaya Belajar Anak

Masih dengan suasana euforia sepulang dari toko buku di hari kemarin, Nadia (6y1m) semakin giat mencoba menyelesaikan beberapa permainan yang di desain dalam Tabloid Bobo pilihan Nadia.

Beberapa tugas sederhana mampu di kerjakan oleh Nadia, hanya dengan bekal pengamatan intens pada gambar petunjuk yang di sediakan pada setiap lembar fun task.  Minim sekali intervensi yang Bunda berikan kepada Nadia dalam menyelesaikannya. Hanya beberapa pertanyaan yang cenderung bersifat menanyakan kepastian dari hasil interprestasinya atas petunjuk gambar yang di lihatnya, sekedar memastikan bahwa apa yang di kerjakannya masih berada dalam jalur yang sesuai.




#level4
#gayabelajaranak
#kuliahbunsayiip
#tantangan10hari

Selasa, 25 April 2017

Aku Senang Membaca_Level 4_Hari Pertama_Gaya Belajar Anak

Salah satu dari beberapa tempat yang paling senang di kunjungi oleh Nadia (6y1m) adalah saat berkunjung ke toko buku.

Setelah menemani Bunda untuk sharing Discussion dengan Ibu Septi sembari mengantar kepergiaan beliau ke Bandara pagi ini.

Selepas sharing discussion (dan beberapa obrolan "intim" malam-malam sebelumnya bersama Pak Dodik, Mas Elan dan Mbak Ara) membuat kami (saya dan Ayana) merasa cukup dengan bekal amunisi yang kami gunakan dalam proses membersamai anak-anak.





Kembali ke dunia nyata (hihihihi) setelah berminggu-minggu dengan aktifitas yang cukup memberi banyak kejutan, di mulai dari beberapa persiapan acara Kartini di beberapa tempat hingga persiapan dan pelaksanaan Training Family Strategic Planning IIP Lampung yang cukup menguras waktu dan energi, akhirnya kami kembali kepada aktifitas normal 😀😀😀


Oke, back to the real life hari ini kami menawarkan kepada Nadia apakah ia mau bersekolah atau mengikuti jadwal bunda untuk servis mobil, Nadia memilih mengikuti tugas domestik Bunda, dengan tak lupa merajuk untuk bisa outing ke toko Buku yang letaknya tak jauh dari bengkel mobil langganan kami.


Jadilah hari ini Nadia tidak berangkat ke sekolah dan melakukan outing ke toko buku bersama Bunda. Sasaran pertama yang di tuju adalah deretan Tabloid Bobo sebagai bacaan rutin setiap kali berkunjung ke toko buku, di dalam Tabloid menceritakan beberapa tutorial membuat beberapa kerajinan (tas kertas serta simulasi gunung meletus) dengan melihat secara seksama, membolak balik beberapa halaman yang saling berkaitan Nadia berujar ingin mempraktikkan isi tabloid tersebut sesampainya di rumah.



Pengamatan berikutnya tertuju pada deretan rak buku pengetahuan tentang bintang (project di sekolahnya bulan ini adalah pengamatan tentang bintang),  karena tak kunjung menemui buku yang sesuai denganyang kami inginkan akhirnya kami putuskan untuk pulang dan membawa bekal oleh-oleh Tabloid Bobo incaran Nadia


#tantangan10hari
#level4
#gayabelajaranak
#kuliahbunsayiip





Jumat, 07 April 2017

Level 3_My Family My Team_Hari Keenam Belas_Detoks Harta

Akhirnya tibalah kami di hari final pelaksanaan Family Project Omah Sinau,
Beberapa rangkaian pelaksanaan project mulai kami persiapkan beberapa hari sebelumnya, mulai dari proses diskusi dengan seluruh anggota keluarga, urun dan saling menimbang saran antar anggota keluarga, kemudian tahap perencanaan dan perumusan kegiatan hingga tibalah hari ini, hari pelaksanaan eksekusi kegiatan.

Ketika mendapat tugas di level 3 Kelas Bunda Sayang ini, semula kami berpikir terlalu rumit mengenai konsep family project seperti apa yang akan kami adaptasi di Omah Sinau kami. Akhirnya kami tersadar akan tulisan Pak Dodik Maryanto mengenai rumusan Family Project


FAMILY PROJECT = DAILY ACTIVITY + ORGANIZE + MANAGEMENT


Berangkat dari konsep tersebut kami berusaha menyederhanakan kembali konsep Family Project versi Omah Sinau.

Memanfaatkan kebiasaan dan tradisi yang berlaku di Omah Sinau, di mana kami rutin melakukan "Stock Opname" terhadap beberapa barang "Daily User" di rumah kami, semisal Pakaian, Mainan, Buku, dan perkakas rumah tangga untuk kemudian kami sortir barang-barang mana yang perlu kami keluarkan atau tetap kami pertahankan.

Mengembangkan konsep berbagi barang pantas pakai tersebut, tercetuslah ide untuk menggunakannya sebagai Family Project Omah Sinau.

Brainstorming saya dan Ayana melibatkan peran anak-anak di dalamnya. Saya mencoba mengusulkan untuk kami membuka semacam bazzar di rumah kami dengan mengundang para punggawa rumah tangga di komplek rumah kami. Gayung bersambut, usul saya di terima oleh sang Kepala Suku. Mulailah saya berkomunikasi secara efektif kepada anak-anak, terutama pada Nadia (5y11m), dalam sessi diskusi saya bersama Nadia, saya kutipkan beberapa ayat Al-Quran mengenai konsep berbagi dan bersedekah

Qs. Al-Mu'minum Ayat 60
(kebetulan Halaqoh di Omah Sinau beberapa waktu yang lalu menyinggung mengenai adzab dan siksa neraka)

"dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan-Nya"

Saya singgung pula salah satu tafsir yang pernah saya dengan saat kajian tafsir (dalam surat Saba Ayat 39)

"Katakanlah, "Sungguh Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik"


Dalam setiap rangkaian tahap persiapan acara, kami berusaha melibatkan anak-anak untuk turut serta melakukan sortir terhadap beberapa pakaian dan mainan yang perlu untuk mereka relakan berpindah kepemilikan :)


Tak jarang diskusi terjadi antara saya dan Nadia, Nadia yang masih sedikit enggan mengeluarkan beberapa baju Princess kesayangannya yang tak muat lagi meng-kover badannya yang semakin meninggi. Begitu pula Yeza yang masih enggan mainan-mainannya berpindah tangan.

Hingga tibalah hari eksekusi, undangan kami kirimkan kepada para Budhe sang punggawa urusan domestik yang bekerja di komplek rumah kami ( kami tinggal di dalam area komplek rumah dinas dengan sedikit sekali warganya), tepat hari ini, Jumat 7 April 2017, pukul 13.00 para budhe berdatangan ke rumah kami.

Wajah-wajah gembira tergambar dari raut wajah lelah mereka, manakala menerima undangan yang kami kirimkan, dan aura kebahagiaan mereka terjejak jelas saat mereka memasuki rumah kami. Nadia yang memang sudah kembali dari sekolah formalnya, menyambut para Budhe dengan senyum ramah dan bersahabat. Obrolan ringan membuka pembicaraan kami siang ini, saling bertukar kabar, menanyakan kabar kerabat mereka yang kebetulan juga kami kenal, bertanya hal-hal ringan sebagai selingan.

"Dagangan"pun akhirnya di gelar, para budhe memilih dengan sangat antusias deretan pakaian bekas layak pakai, buku majalah dan mainan anak-anak yang telah kami siapkan sebelumnya.


Budhe Nia dan Teh Neng memilih beberapa pakaian untuk kerabat di rumah




Ketika para Budhe ini datang ke rumah saja sudah cukup membuat saya sangat terharu manakala mereka memilih pakaian-pakaian kami dengan wajah gembira.

Ya Rabb, betapa kami seringkali menyia-nyiakan nikmat yang Kau beri pada kami ya Allah, sesuatu yang di mata kami nampak biasa namun di mata mereka terlihat seperti harta karun yang bernilai luar biasa.

Sembari obrolan kami, sajian berupa tape goreng hangat dan teh manis hangat yang telah di persiapkan oleh Nadia dan Mbak Yeni (asisten kami di rumah) membuat suasana siang yang cukup terik terasa hangat dan sejuk di dalam rumah.

Mengalirlah cerita tentang kabar keluarga para budhe di rumah,

Seperti cerita Budhe Nia yang kakaknya harus segera berobat mata karena debu yang masuk di matanya saat ia bekerja (beliau bekerja sebagai tukang bangunan)

Kemudian cerita Teh Mastu yang suaminya sakit dan tidak memungkinkan mencari pekerjaan di luar rumah sehingga saat ini Teh Mastulah sebagai tulang punggung keluarga dan harus mencukupi kebutuhan hidup untuk dua anak dan mertua yang masih tinggal satu rumah dengan beliau

Atau Teh Neng yang anaknya sakit dan belum cukup uang untuk berobat

Lain lagi cerita yang di tuturkan oleh Budhe Suyud terhadap sakit "tak kasat mata" yang di derita putri bungsunya



Ya Rabbi,
Melihat mereka tertawa lepas beberapa menit sebelumnya, dan kemudian menjadi adegan drama dan mata yang berkaca-kaca di antara mereka mendengar cerita dari teman-teman seprofesinya, betapa hati kami seolah merasakan penderitaan yang mereka rasakan.

Betapa sedikit sekali usaha yang bisa kami lakukan paling tidak untuk melepas beban mereka sejenak. Betapa sungguh seharusnya kam menjadi hamba-Mu yang patut bersyukur atas segala apa yang kami dapatkan.

Terimakasih atas kesempatan yang Kau berikan pada kami untuk lebih mengenal mereka, bercengkrama dan tertawa bersama, berbagi duka bersama walaupun dalam hal fisik  maupun secara materi kami tak mampu menawarkan kedukaan mereka

Buah hatiku, hari ini kalian belajar langsung pada apa yang bunda katakan sebagai "Guru Kehidupan"

Dari merekalah kita bisa memetik banyak pelajaran berharga untuk saling menghargai sesama, sekecil dan serendah apapun profesinya, agar kelak anakku, kau mampu tumbuh menjadi generasi yang tak hanya cerdas dalam hal intelektual saja, namun di imbangi dengan kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual yang Ayah dan Bundamu kenalkan sedari usia dini

Anakku, hari ini kita semua belajar betapa sedikit saja kebaikan kecil yang kita lakukan bisa jadi akan membawa dampak yang berbeda untuk kehidupan orang lain.

Lihatlah anakku, ketika para Budhe meninggalkan rumah kita, ada beban yang sedikit berkurang dari sorot mata mereka, beban yang hilang lewat tawa lepas mereka, lewat obrolan yang kita habiskan saat makan bersama siang tadi walaupun hanya dengan menu sederhana sebagai syarat penggugur kewajiban makan siang.

Beliau adalah Budhe Nia, sahabat kami yang selalu sigap membersihkan rumah kami

Budhe Nia bergaya dengan topi Ayana



Anakku, jangan letih berproses, dan belajar bersama kami, Ayah dan Bundamu
Semoga bekal kebaikan seperti ini akan selalu membekas di hati dan ingatanmu, untuk kau jadikan perisai manakala hatimu di racuni oleh perasaan Riya, dan cinta pada dunia.

Mari anakku, kita berproses ke arah yang lebih, tugas kita hanya berusaha, namun soal hasil biarlah itu menjadi hak prerogatif Allah SWT.




Nama Project : Detoks Harta
Pimpro : Bunda Sasha
Konseptor : Ayana
Juru Cekrek : Bunda
Pelaksana : Nadia, Yeza, Mbak Yeni
Transportasi : Om Adi
Durasi : 5 hari



Omah Sinau, 7 April 2017
Puspaning Dyah, saat menulis bukan sekedar mengalirkan rasa


#level3
#kelasbunsayiip
#myfamilymyteam
#hari16

#TDoLM_WritingChallenge
#JurnalIbuPembelajar.JIP4
#Portofolio.FBE.Nadia
#FitrahIman
#FitrahSeksualitas
#FitrahBelajar
#day5of7days

Kamis, 06 April 2017

Jurnal Ibu Pembelajar_Hari Keempat_Di manapun Aku Bisa Belajar

Memaknai konsep "Family Project" kami memandangnya sebagai sebuah bentuk fasilitas untuk memperkuat bonding di antara anggota keluarga.

Kami berusaha menyederhanakan konsep "Family Project" ini dengan menjalankan rutinitas keseharian kami hanya dengan sedikit sentuhan perencanaan yang baik.

Tanpa mengesampingkan konsep bahwa "Belajar Bisa terjadi di mana saja, kapan saja dalam keadaan bagaimana saja dan dengan pihak siapa saja.

Menelusur jadwal hari ini yang cukup padat, di tambah Ayana tengah menjalani tugas kantornya di luar kota, melahirkan konsekuensi beberapa tugas Ayana di rumah harus saya handle dengan baik.

Kisah kami di mulai dari perjalanan menuju sekolah, saya lanjutkan dengan meluncur ke tempat rapat untuk membicarakan beberapa hal teknis kegiatan keorganisasian saya (saat rapat-pun tetap menggunakan prinsip dan rumus Komunikasi Produktif) lanjut dengan perjalanan menjemput Nadia dari sekolahnya.

Jarak dan waktu tempuh yang cukup lama dan jauh dari rumah menuju Sekolah formal Nadia, sengaja kami pilih, agar dengan jarak dan waktu tersebutlah saya mempunyai keluangan waktu mendengarkan segala curahan hatinya dan berkomunikasi dengan lebih intens, semacam waktunya "Girls Talk" yang sengaja kami hadirkan dalam keseharian kami.

Sesampainya di rumah, konsep kemandirian seakan melekat di diri Nadia, pengembalian barang-barang yang melekat di tubuhnya, menyiapkan menu makan siang dan proses makan di siapkan oleh Nadia.





Kebetulan jadwal hari ini adalah saatnya Nadia kontrol ke dokter gigi untuk melakukan pencabutan dan penambalan gigi. Seperti biasa yang sering kami lakukan di rumah, beberapa hari menjelang jadwal kontrol, kami persiapkan dengan baik mental dan keberanian Nadia menghadapi "jarum bor".

Strategi yang saya gunakan kali ini adalah dengan membawa buju gambar dan peralatan menggambar Nadia.
Ssmbari menunggu kami saling bekerja sama menyelesaikan beberapa gambar yang perlu di warnai. Selain bertujuan menjaga Nadia berada dalam Mood yang baik saat masuk ke ruang praktik dokter, cara ini saya tawarkan untuk Nadia berdasarkan kecenderungan Nadia untuk berkreasi melalui warna.



Setidaknya cara ini ampuh untuk megusir rasa takutnya, menjaga moodnya berada dalam keadaan baik sehingga siap dengan semua perlakuan dokter giginya 😚😚😚😂

Nadia pun sukses menjalani proses cabut gigi dengan riang gembira, dan meninggalkan ompong di giginya, tanpa proses mengharu biru (red : menangis dan di sertai aksi tutup mulut) sebagaimana kunjungan sebelumnya 😘😘😘😂


Nadia dan formasi giginya yang baru



#TDoLM_WritingChallenge
#Portofolio.FBE.Nadia
#FitrahBelajar
#JurnalIbuPembelajar.JIP4
#day4of7days

#level3
#kelasbunsayiip
#myfamilymyteam
#hari15

Rabu, 05 April 2017

Jurnal Ibu Pembelajar_Hari Ketiga_Its So Fun When Im In Home

Bermain dan belajar atau belajar sembari bermain adalah rutinitas wajib yang ada di dalam "Omah Sinau" kami. Kadangkala anak-anak tak sadar manakala mereka sedang di "paksa" belajar oleh saya maupun Ayana dalam proses bermain yang kami sering lakukan di dalam maupun di luar lingkungan rumah.

Nadia : "Bunda, aku gak mau berhitung sekarang, aku mau metik mangga aja"
Bunda : "Oke, pakai sepatu boot-mu nak, ajak adek Yeza keluar rumah dan minta adek Yeza pakai sepatunya"

Saya ambilkan galah, dan meminta bantuan beberapa bapak OB di komplek rumah kami (kebetulan kami menempati rumah dinas)

Galah di ambil alih oleh Bapak OB

Bunda : "Oke Nadia, sekarang ambil mangga yang telah di petik pak OB, pisahkan antara mangga yang besar dan mangga yang kecil, pisahkan pula mangga yang tidak sengaja terjatuh dan mangga yang di ambil dalam keadaan utuh"

Bunda : "Nadia, minta tolong di jumlah ada berapa mangga yang ada, lalu tolong di masukkan di dalam plastik masing-masing dua buah yang satu besar dan yang satu yang agak sedang ya Kak untuk kita bagi ke tetangga-tetangga"

(tanpa kau sadari sebetulnya saat itu kau tengah belajar mengenai kumpulan, penjumlahan, pengurangan, pembagian, pecahan, dan bilangan dan tanpa kau sadari pula proses rela berbagi seperti inilah yang kau perlukan sebagai latihan untuk meningkatkan kecerdasan sosialmu anakku) 

Nadia : " Bunda daun-daunnya pada jatuh"
Bunda : "Lalu gimana baiknya kak? "
Nadia : "Aku ambil sapu sebentar ya bund"

Tak lama nampak pemandangan Nadia tengah menyapu halaman dengan arah yang tidak beraturan

Anakku, tanpa kau sadari sejatinya saat itu kau tengah belajar arti tanggung jawab dan kemandirian, serta kebaikan yang kau lakukan hari ini kelak akan menjadi pembelajaran yang baik untuk adikmu, tanpa kau sadari pula engkau tengah berproses menjadi pembelajar mandiri

Nak, bunda pun tak pernah memaksa dalam setiap proses yang kau lalui, seperti hari ini di saat jadwal belajar di rumah adalah membaca dan berlatih menulis, namun kau lebih memilih untuk mewarnai dan menggambar, sesuatu hal yang menjadi kegemaranmu nomer satu saat ini.



Tugas Ayana dan Bunda adalah mengarahkan kau berkembang sesuai dengan fitrahmu Nak, di saat kau bersenang-senang namun tetaplah bertanggung jawab terhadap setiap pilihan yang kau ambil.

Nak, jika memang benar suatu saat kelak cita-citamu menjadi seorang pelukis menjadi kenyataan, maka tugas Ayana dan Bunda hanya mengarahkan agar kau benar-benar mampu menjadi seorang pelukis yang profesional yang tetap dapat memperjuangankan syiar Islam lewat goresan indah tintamu.

Nak berlatihlah tanpa henti, dan berbahagialah atas setiap langkah kecil yang kau pijak hari ini, maknailah setiap pengalaman yang menempamu menjadi sebuah sahabat baik yang bersamanya akan menjadikanmu pribadi yang kuat dan matang


Omah Sinau, 5 April 2017
Puspaning Dyah, seorang Ibu yang selali bangga pada anaknya

#level3
#kelasbunsayiip
#myfamilymyteam
#hari14

#TDoLMWritingChallenge
#JurnalIbuPembelajar.JIP4
#Portofolio.FBE.Nadia
#FitrahBelajar
#Day3of7days

Selasa, 04 April 2017

Jurnal Ibu Pembelajar_Hari Kedua_Kreasi bersama Kertas Roti

Di sela-sela persiapan menyelesaikan project utama dalam tantangan level 3 Kelas Bunsay IIP, kami menyempatkan untuk selalu bermain dan bergembira.

Seperti biasa kegiatan "Sekolah dirumah" di mulai dengan diskusi akan bermain apa kita hari ini, di saat proses "cerita" tanpa sengaja pintu lemari tempat penyimpanan harta karun saya terbuka (harta karun = peralatan baking saya, seperti case cupcake, mika plastik, sendok kue, dll 😄)

Melihat tumpukan cupcake case dan kertas roti di ujung lemari, mencetuskan ide untuk memanfaatkanya sebagai bahan bermain dan belajar kami sore ini


Untuk permulaan saya memberikan contoh untuk Nadia kreasi yang bisa di hasilkan dari kertas roti, untuk kemudian Nadia mampu kembangkan sesuai imajinasi, kreatifitasan-nya, dan keunikan daya fikirnya.



Kembali pada minat utamanya saat ini, yaitu melukis (doi masih setia dengan cita-citanya untuk jadi pelukis 😁😁😁)
Maka apapun media dan bentuk crafting apapun yang saya tawarkan, akan di sisipi dengan aktifitas melukis


Pola lukisan Nadia Saat ini mulai menunjukkan perubahan ke arah lebih baik di banding saat pertama kali melukis, kali ini komposisi warna mulai di mainkannya, gambarnya-pun sudah mulai "bercerita" dan saling melengkapi satu sama lain dalam setiap komponen yang di lukisnya.




Demikianlah perjalanan Sekolah dirumah kami, di sela-sela aktifitas persiapan untuk project utama kami yang hampir menyentuh angka 75% persiapan

#level3
#kuliahbunsayiip
#myfamilymyteam
#hari13

#TDoLM_WritingChallenge
#Portofolio.FBE.Nadia
#JurnalIbuPembelajar.JIP4
#FitrahBakat
#FitrahBelajar
#day2to7days