Tampilkan postingan dengan label IIP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IIP. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2019

Senin, 01 April 2019

Monday Is Wonderful Day


Komunikasi Produktif Day#5
MONDAY IS WONDERFUL DAY” adalah kata-kata penyemangat yang selalu kami gunakan sebagai pemantik semangat di awal pekan, terutama awal pekan yang identik dengan segala hal berbau kericuhan dan kepanika... wekawekaweka.... yaaah anggap aja deh sebagai alibi untuk mengalihkan bad mood menjadi straight mood 😊

Rabu, 06 Desember 2017

Fairy Tale pengantar makan Sore



Sampai pula di hari ketujuh tantangan level 10, Alhamdulillah anak-anak sudah membaik dari demam, walau virus flu masih belum menyingkir dengan baik. Kak Nad juga telah selesai dengan jadwal UAS dan tinggal menunggu hasilnya, apakah perlu remedi atau sudah cukup dengan hasil yang ada.

Hari yang cukup melelahkan, karena tubuh saya yang masih dalam taraf detoks sehingga belum bisa di paksa bekerja lebih keras, namun tuntutan pekerjaan membuat saya harus profesional dalam menentukan sikap. Malam ini saya harus menghadiri undangan liputan dari Bekraf bersama Pemprov Lampung, yang artinya quality time di malam hari bersama anak-anak sedikit terabaikan. Sebagai ganti jatah mendongeng, di alihkan dengan membaca buku dongeng fairy tale dari buku dongeng hasil buruan kak Nad di Toko buku Ahad yang lalu.

Bismillah semoga esok ada waktu lebih untuk merapel jatah mendongeng hari ini

Selasa, 09 Mei 2017

Don't Teach Me, I Love to Learn



Saat saya menikah, kemudian Allah hadirkan sesosok nyawa baru dalam rahim saya, hingga kemudian ia terlahir maka di detik tersebut, janin dalam kandungan saya resmi menyandang status sebagai "ANAK" dan serta merta saya dan ayana sah secara de'facto dan yuridis bergelar "ORANG TUA".

Ketika menjadi orang tua, banyak perubahan yang kami alami, kami yang tadinya berdua, kemudian menjadi bertiga hingga hari ini komplit menjadi ber-empat. Mencoba mengamati pola unik anak-anak dengan "ilmu titen" membuat kami yakin bahwa sesungguhnya mereka adalah pembelajar sejati. Bahkan misalnya pun kami ini nol persen terhadap ilmu parenting, tak mengubah konsep bahwa mereka adalah pembelajar yang unggul.

Hingga kemudian pada suatu titik kami semakin menyadari bahwa kebutuhan krusial untuk anak-anak bukanlah ilmu parenting yang kami miliki, melainkan lebih pada waktu dan perhatian kami dalam membersamainya, karena pada akhirnya setiap orang tua yang akan menemukan pola parenting mana yang bisa di terapkan kepada buah hati, dan bukan hasik dikte dari pakar parenting manapun.


Rasanya saat menghadapi materi Level 4 seperti lagi ngalamin jatuh cinta, jatuh hati sampai jatuh bangun 😥😅😂


Lagi-lagi kami merasa di tampar bolak-balik hingga tak kunjung usai dalam menyelesaikan perkuliahan Bunda Sayang ini.  Fyiiiuuuuh rasa lelah tapi tetap harus melangkah 😅😅😅


Betul sekali jika anak-anak adalah pembelajar yang alami, beri mereka rangsangan melalui stimulus maka dengan sendirinya mereka akan temui jalan keluar.

Nadia yang tampak ceria, namun memiliki PR besar terhadap kepercayaan dirinya, hingga berimbas pada hal-hal sederhana yang berkaitan dengan kepercayaan dirinya, misalnya contoh keberaniannya untuk berbicara dan menyapa temannya di dalam suatu forum, keberaniannya untuk mengungkapkan isi hatinya baik kepada saya, Ayana maupun pihak di luar kami berdua.

Qadarullahnya saat mendapat tugas memahami Gaya Belajar Anak, bertepatan dengan di terimanya hasil psikotest Nadia di sekolah formalnya. Hasil psikotest menunjukkan hasil yang menggembirakan sekaligus membanggakan untuk kami selaku orangtuanya, bagaimana tidak bangga jika ananda tergolong anak-anak dengan kecerdasan intelektual di atasnya di atas rata-rata (superior),  walaupun dengan satu catatan kecil mengenai kemampuan motorik kasarnya. Melirik ke belakang dengan sifat dan sikap Nadia kami menjadi mahfum bahwa ada PR besar di depan mata, bagaimana kami mampu memberikan stimulus lebih untuk mendongkrak kekurangan kecil dari dirinya, dan menjadi salah satu cara bagi kami memaksimalkan potensi unik yang dimilikinya.


Kecenderungan Nadia akan warna dan grafis berusaha kami gabungkan dengan berbagai aktifitas motorik kasar saat proses membersamai Nadia. Kami ajak Nadia berbelanja raket bulu tangkis dan memilih senar serta perangkat lainnya sesuai dengan warna kesayangannya. Hingga kami selipkan cerita (mengingat aspek Visual dan Auditori Nadia sangat kuat) mengapa kita perlu berolahraga, siapa atlit kebanggaan Indonesia, dan hal-hal sederhana yang bisa di tangkap oleh logikanya.


Ayana berperan penting saat proses melatih motorik kasar Nadia, saya berperan dalam mempertajam kemampuan visual dan auditorinya. Proses LEARN senantiasa kami tumbuhkan di dalam keluarga kami, berusaha dengan maksimal membersamai ananda dengan proses yang menyenangkan dan jauh dari kesan paksaan.

Di akhir pelaksanaan tugas bulan ini, saya mencoba mengajak Nadia mereview kembali perjalanan kami sepekan terakhir, intensitas latihan motorik kasar dan "titen" terhadap gaya belajarnya, kami gelarlah sebuah Family Project yang sasarannya adalah Nadia bisa berkreasi dengan sesuatu hal yang ia sukai namun merangsang keinginannya untuk tetap berlatih motorik kasarnya.

Jatuhlah pilihan pada membuat film sederhana (melalui aplikasi di gadget) berisi perjalanan Nadia sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Kelas TK-B (mengingat Nadia saat ini memasuki masa menjelang inagurasi kelulusannya). Sekaligus sebagai apresiasi dan luapan rasa terima kasih untuk Bu Eel dan bu Nur,  tim fasilitator Nadia di sekolah formalnya. Jadilah kami berdiskusi memilih foto yang akan di tampilkan, mengedit video, memilih sountrack film, hingga detail kecil seperti alur film kami bahas dan diskusikan bersama hingga lahirlah sebuah film pendek berisi perjalanan kisah Nadia selama menghabiskan waktunya di sekolah bersama teman-teman dan guru-gurunya.
Bukan hasil yang spektakuler memang, namun kami lebih melihat bagaimana Nadia mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan semangat dalam belajar sesuatu tantangan baru yang kami apresiasi di dirinya, hanya melalui stimulus kecil dari kami bisa lahir sebuah project sederhana, sebagai kenang-kenangan di masa depannya kelak.

Satu hal ibroh yang ingin saya ajarkan kepada Nadia, bahwa sekecil apapun usaha kita hari ini, bisa jadi akan bernilai besar di kemudian hari. Nadia kecil kami pastinya akan selalu tumbuh menjadi gadis yang ceria, yang yakin pada dirinya bahwa ia mampu menaklukkan seberat apapun rintangan di hadapannya selama ia percaya, bahwa ia mampu mengalahkan rasa takutnya.







Bandar Lampung, 9 Mei 2017
Puspaning Dyah, seorang bunda yang tak letih membersamai buah hatinya


#level4
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak
#aliranrasa


Kamis, 04 Mei 2017

Superheroku_Level 4_Gaya Belajar Anak_Hari ke-10

Agenda rutin kami setiap pagi adalah pengantarkan Ayana dan Nadia (6y1m) menuju stasiunnya di hari kerja 😀

Mengantar Ayana sampai di depan pintu masuk kantornya, lanjut perjuangan melawan kemacetan Bandar Lampung di pagi hari dengan mengantar Nadia ke sekolah formalnya yang berjarak sekitar 20km dengan waktu tempuh 30-45 menit 😀😀😀

Seperti biasa Yeza (2y6m) menjadi navigator andalan saya dalam hal berkemudi di jalan raya


Sepulang mengantar Nadia ke sekolahnya, kami sempatkan untuk mampir berbelanja beberapa kebutuhan rumah tangga si suatu toserba. Perhatian Yeza tertuju pada sebungkus mainan superhero yang memang beberapa waktu lalu menjadi incarannya.

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke rumah dengan tak lupa menenteng superhero baru di tangan Yeza


Setelah menyelesaikan beberapa urusan domestik sembari menunggu Nadia kembali dari sekolahnya, kami berdua (saya dan Yeza) bermain peran dalam melakonkan superhero versi Yeza



Yeza tampak antusias dan menikmati saat kami berlarian seolah-olah superhero yang tengah terbang mengejar musuh, atau saat superhero berdiskusi dengan sesama superhero. Hingga lelap dalam tidurnya pun bayang-bayang lakon superhero yang kami mainkan seharian ini masih melekat kuat di ingatannya dan terbawa sampai di alam bawah sadarnya malam ini.


#level4
#gayabelajaranak
#kelasbunsayiip
#harike-10

Senin, 01 Mei 2017

Vintage Toys_Level 4_Gaya Belajar Anak_Hari Ketujuh

Memasuki Senin rasa Minggu kali ini kami manfaatkan dengan bermain bersama anak-anak di area sekitar "Omah Sinau". Rutinitas pagi kami lalui seperti biasanya, ibadah pagi bersama, di lanjutkan dengan olahraga ringan di lapangan depan rumah kami, menyusul berolahraga bulu tangkis bersama.

Untuk kali pertama anak-anak berlatih bermain bulu tangkis bersama Ayana, di awal mereka terlihat enggan mencoba, ngos-ngosan mengejar sang bulu ayam yang terbang kian kemari, namun perlahan mereka menemukan keasyikan saat bermain dan mengejar "bulu ayam" yang terbang kian kemari.


Aktifitas bonding antar anggota keluarga di lanjut dengan kegiatan di dalam rumah, Ayana mengenalkan anak-anak terhadap permainan tradisional berupa "congklak atau dakon". Sebuah permainan tradisional yang mengajarkan kesabaran, play fair dan kejujuran. Sembari bermain, Ayana dan saya bergantian menceritakan manfaat dari bermain congklak serta betapa permainan ini menjadi favorit untuk di mainkan saat saya maupun ayana berada di rentang usia Nadia saat ini.




Di tengah ketertarikan Yeza (2y6m) terhadap segala objek yang berwarna cerah, alih-alih ikut dalam permainan congklak bersama kami, Yeza lebih cenderung memilih bermain mandi bola dan memisahkan warna bola-bola plastik tersebut ke dalam kelompok warna yang sama.

Kecenderungan yang ada saat ini,  Yeza lebih suka mengamati benda yang secara visual menarik mata dan hatinya. Demikian pula kegemarannya dalam membaca buku, Yeza menggemari buku-buku dengan banyak corak warna dan gambar.





#level4
#harikeTujuh
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak

Minggu, 30 April 2017

Minggu Ceria Bersama Ayana_Level 4_Hari Keenam_Gaya Belajar Anak

Me-refresh fikiran atas hasil psikotest Nadia (6y1m) saat proses masuk tingKat Sekolah Dasar di sekolah formal pilihannya, di mana dari psikotest yang di adakan (tidak ada test semacam berhitung maupun membaca layaknya beberapa test permulaan saat anak-anak masuk SD)  menunjukkan hasil kemampuan intelegensia (IQ)  Nadia yang berada di kategori Superior dan dinilai matang untuk memasuki jenjang tingkat sekolah di atasnya saat ini (Kelas 1 SD),  hanya dengan penambahan catatan terkait dengan kemampuan motorik kasarnya.

Hihihi...  Memang jika di amati pola saat Nadia mengikuti outbond semasa TK-A dan TK-B nampak bahwa Nadia kurang menikmati proses outbond (sessi olahraga)  di kelasnya. Sehingga beberapa kemampuan terkait dengan motorik kasarnya perlu di genjot ekstra saat proses Home Education di rumah


Dan Ayana mengambil peran sebagai pimpro dalam hal melatih motorik kasar ananda sekaligus menyalurkan kemampuan kinestetik ananda.

Di mulailah hari ini dengan aktifitas di mushola, Yeza yang masih tertidur di gendong oleh ayana untuk tetap mengikuti sholat berjamaah di musholla. Sepulang kegiatan ibadah pagi, kami lanjutkan dengan aktifitas olahraga di stadion olahraga yang letaknya tidak terlalu jauh dari kediaman kami.


Jogging pagi mengelilingi lapangan stadion, di lanjutkan dengan sarapan bersama di kedai bubur ayam langganan kami, di lanjut dengan proses istirahat (dan tak lupa mandi pagi yang sudah terlalu siang 😁😁😁)

Berhubung hari ini ada jadwal menghadiri walimah pernikahan sahabat kami, jadilah siang hari ini di isi dengan agenda "kondangan"


Melanjutkan rencana untuk semakin intens melatih motorik kasar anak-anak, perjalanan kami lanjutkan dengan outing ke toko sport untuk membeli raket bulu tangkis yang akan kami pergunakan bersama anak-anak


Sore ini pun di tutup dengan kegiatan berlatih bulu tangkis bersama.









#level4
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak
#harike-6

Sabtu, 29 April 2017

Berkunjung ke kebun_Level 4_Hari Kelima_Gaya Belajar Anak

Seperti biasanya hari libur adalah harinya Ayana bersama anak-anak. Berhubung di pagi ini telah ada agenda untuk menghadiri pertemuan orang tua dan fasilitator di sekolah formal Nadia (6y1m) walhasil waktu olahraga pagi kami pangkas dan di ganti dengan kegiatan outing setelah kami melakukan pertemuan di sekolah.

Saat bunda dan Ayana menghadiri rapat PMOG


Tujuan outing kami kali ini adalah desa tempat Mbak Yeni (Asisten yang bekerja di rumah kami) berasal. Menikmati pemandangan sepanjang perjalanan, Elang laut yang bergengger manja di pucuk-pucuk pohon sepanjang pantai yang kami lewati, memperhatikan dengan seksama gerbong kereta api berisi muatan batubara yang melintas saat kami dalam perjalanan, menghitung dengan ceria berbagai jenis kendaraan yang kami lewati menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan untuk anak-anak. Berhubung Nadia belum pernah bertemu dengan elang laut, maka ketika pertama kalinya melihat hewan tersebut,beberapa waktu dalam perjalanan kami habiskan mencari informasi tentang elang laut melalui media internet di gadget.


Sesampainya di tempat mba yeni, anak-anak begitu antusias untuk melihat kebun di belakang rumah mba yeni, karena di sana lah letak para sapi, kambing dan ayam di pelihara dan beraktifitas di sekitarannya.

Melihat sapi dan berbagai hewan ternak, menyentuhnya secara langsung dengan mereka, menjadi pengalaman menarik untuk anak-anak.

Sepulang kami dari tempat mba yeni, saya mencoba mengulang kembali perjalanan kami hari ini, memancing Nadia untuk melanjutkan cerita yang telah saya mulai.




Hari ini saya dan Ayana belajar lagi hal-hal kecil mengenai parenting. Sekecil apapun, sesederhana apapun yang kita berikan untuk anak-anak sepanjang kita bisa menyikapinya dengan lebih bijaksana, memanfaatkan peluang sekecil apapun untuk media belajar anak-anak, dan memberikan stimulus positif untuk tumbuh kembangnya saat ini dan kelak di kemudian hari.


#level4
#harikelima
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak


Jumat, 28 April 2017

Menulis dengan ceria_Level 4_Hari Keempat_Gaya Belajar Anak

Menulis sebetulnya menjadi aktifitas yang kurang di minati oleh Nadia (6y1m), aktifitas bersama pena dan kertas yang paling diminatinya sejauh ini masihlah seputar melukis dan mewarnai.

Untuk itulah terkadang saya perlu mencari beberapa alternatif cara untuk menyajikan "kurikulum" menulis di tengah aktifitas Home Education di rumah kami, sehingga menjadi sebuah aktifitas yang menyenangkan dan jauh dari kata membosankan.

Seperti halnya hari ini, Nadia dan Yeza belajar mengenal huruf melalui media visual dan audio.

Saya mencoba menuliskan beberapa huruf yang telah familier untuk Nadia serta membacanya melalui lagu, jika saat bertemu dengan suatu huruf, saya mencoba mengkolerasikannya dengan sebuah nama hewan atau benda,  jika kemudian huruf tersebut sebagai perwakilan nama hewan, maka saya berpura-pura menirukan sura dan tingkah laku hewan tersebut. Jika misalnya huruf tersebut mewakili sebuah benda, saya mengajak Nadia dan Yeza menunjuk benda tersebut jika berada di sekitar rumah kami.






Rupanya metode pembelajaran seperti ini jauh lebih efektif, metode pembelajaran yang justru membuat anak nyaman dan tertarik untuk terus mencoba dan mempraktikkan berulang-ulang kali.


Nak, tau gak sih? Kalau hari ini Bunda sedang mengajarkan membaca dan menulis melalui konsep audio visual, selain agar kalian nyaman dan jauh dari kesan terpaksa untuk melakukannya, bunda sebenarnya sedang mengemban misi menemukan gaya belajar mana sih yang paling asyik untuk kalian 😀😀😀


Hihihihi....  Jangan bosen ya nak, kita uji coba di banyak hal-hal baik berikutnya 😀😀😀



#level4
#harike-4
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak

Kamis, 27 April 2017

Aku senang bergerak_Level 4_Hari Ketiga_Gaya Belajar Anak

Mengawali hari kami buka dengan berkegiatan di luar rumah, niat hati ingin praktik Senam Kesegaran Jasmani (SKJ 88) ala-ala jaman saya dan Ayana masih duduk di bangku Sekolah Dasar dahulu, tapi pada kenyataannya baru lima menit berselang anak-anak sudah mengeluh lelah dan bosan (dan bunda-pun hanya bisa tepok jidat sambil mengelus dada, melihat lipatan lemak di perut sambil berbisik, duhai LEMAK untuk saat ini kamu masih bisa tinggal di perut mamak ya karena mamak batal olahraga pagi ini 😂😂😂)


Demi tetap ingin berolahraga sekaligus sebagai sarana untuk merangsang kemampuan kinestetik anak-anak, kegiatan pagi kami alihkan dari yang semula hanya seputaran rumah menjadi berpindah ke area seputaran lapangan tenis dan taman komplek (Alhamdulillah fasilitas olahraga di komplek rumah dinas kami terbilang lumayan lengkap)

Jadilah pagi ini kami berolahraga di lapangan dengan agenda "Gowes dan jogging ringan"


Yeza (2y6m) terlihat betul menikmati pagi ini dengan aktifitas fisik di luar rumah, entahlah sudah melewati berapa putaran saat ia menggowes sepeda warisan kakaknya itu, dan entah berapa ember pula keringat yang terkeluarkan karena saya berlarian mengejar Yeza dengan sepedanya.


Bagaimana dengan Nadia (6y1m)? Nampaknya Nadia kurang begitu menyukai aktifitas di luar ruangan terlebih yang harus melibatkan fisik, hanya bertahan 10 menit saja Nadia memutuskan untuk menunggu kami dari atas kursi ayunan yang tersedia di taman.


This is our journey for today, melihat minat dan ketertarikan ananda atas aktifitas di luar rumah, sembari tafakur alam atas segala kebesaran Allah SWT, serta tak lupa menyelipkan pesan moral yang baik betapa rasa sayang kita pada Allah perlu di buktikan pula dengan cara kita menyayangi tubuh kita, salah satunya menjaga kesehatan dan kebugaran melalui rutinitas berolahraga

Mens sana in  corpore sano, di dalam jiwa yang kuat terdapat tubuh yang sehat






Omah Sinau, 27 April 2017
Its fun when we're doing activity together


#level4
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak
#hariketiga

Selasa, 25 April 2017

Aku Senang Membaca_Level 4_Hari Pertama_Gaya Belajar Anak

Salah satu dari beberapa tempat yang paling senang di kunjungi oleh Nadia (6y1m) adalah saat berkunjung ke toko buku.

Setelah menemani Bunda untuk sharing Discussion dengan Ibu Septi sembari mengantar kepergiaan beliau ke Bandara pagi ini.

Selepas sharing discussion (dan beberapa obrolan "intim" malam-malam sebelumnya bersama Pak Dodik, Mas Elan dan Mbak Ara) membuat kami (saya dan Ayana) merasa cukup dengan bekal amunisi yang kami gunakan dalam proses membersamai anak-anak.





Kembali ke dunia nyata (hihihihi) setelah berminggu-minggu dengan aktifitas yang cukup memberi banyak kejutan, di mulai dari beberapa persiapan acara Kartini di beberapa tempat hingga persiapan dan pelaksanaan Training Family Strategic Planning IIP Lampung yang cukup menguras waktu dan energi, akhirnya kami kembali kepada aktifitas normal 😀😀😀


Oke, back to the real life hari ini kami menawarkan kepada Nadia apakah ia mau bersekolah atau mengikuti jadwal bunda untuk servis mobil, Nadia memilih mengikuti tugas domestik Bunda, dengan tak lupa merajuk untuk bisa outing ke toko Buku yang letaknya tak jauh dari bengkel mobil langganan kami.


Jadilah hari ini Nadia tidak berangkat ke sekolah dan melakukan outing ke toko buku bersama Bunda. Sasaran pertama yang di tuju adalah deretan Tabloid Bobo sebagai bacaan rutin setiap kali berkunjung ke toko buku, di dalam Tabloid menceritakan beberapa tutorial membuat beberapa kerajinan (tas kertas serta simulasi gunung meletus) dengan melihat secara seksama, membolak balik beberapa halaman yang saling berkaitan Nadia berujar ingin mempraktikkan isi tabloid tersebut sesampainya di rumah.



Pengamatan berikutnya tertuju pada deretan rak buku pengetahuan tentang bintang (project di sekolahnya bulan ini adalah pengamatan tentang bintang),  karena tak kunjung menemui buku yang sesuai denganyang kami inginkan akhirnya kami putuskan untuk pulang dan membawa bekal oleh-oleh Tabloid Bobo incaran Nadia


#tantangan10hari
#level4
#gayabelajaranak
#kuliahbunsayiip





Jumat, 07 April 2017

Level 3_My Family My Team_Hari Keenam Belas_Detoks Harta

Akhirnya tibalah kami di hari final pelaksanaan Family Project Omah Sinau,
Beberapa rangkaian pelaksanaan project mulai kami persiapkan beberapa hari sebelumnya, mulai dari proses diskusi dengan seluruh anggota keluarga, urun dan saling menimbang saran antar anggota keluarga, kemudian tahap perencanaan dan perumusan kegiatan hingga tibalah hari ini, hari pelaksanaan eksekusi kegiatan.

Ketika mendapat tugas di level 3 Kelas Bunda Sayang ini, semula kami berpikir terlalu rumit mengenai konsep family project seperti apa yang akan kami adaptasi di Omah Sinau kami. Akhirnya kami tersadar akan tulisan Pak Dodik Maryanto mengenai rumusan Family Project


FAMILY PROJECT = DAILY ACTIVITY + ORGANIZE + MANAGEMENT


Berangkat dari konsep tersebut kami berusaha menyederhanakan kembali konsep Family Project versi Omah Sinau.

Memanfaatkan kebiasaan dan tradisi yang berlaku di Omah Sinau, di mana kami rutin melakukan "Stock Opname" terhadap beberapa barang "Daily User" di rumah kami, semisal Pakaian, Mainan, Buku, dan perkakas rumah tangga untuk kemudian kami sortir barang-barang mana yang perlu kami keluarkan atau tetap kami pertahankan.

Mengembangkan konsep berbagi barang pantas pakai tersebut, tercetuslah ide untuk menggunakannya sebagai Family Project Omah Sinau.

Brainstorming saya dan Ayana melibatkan peran anak-anak di dalamnya. Saya mencoba mengusulkan untuk kami membuka semacam bazzar di rumah kami dengan mengundang para punggawa rumah tangga di komplek rumah kami. Gayung bersambut, usul saya di terima oleh sang Kepala Suku. Mulailah saya berkomunikasi secara efektif kepada anak-anak, terutama pada Nadia (5y11m), dalam sessi diskusi saya bersama Nadia, saya kutipkan beberapa ayat Al-Quran mengenai konsep berbagi dan bersedekah

Qs. Al-Mu'minum Ayat 60
(kebetulan Halaqoh di Omah Sinau beberapa waktu yang lalu menyinggung mengenai adzab dan siksa neraka)

"dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan-Nya"

Saya singgung pula salah satu tafsir yang pernah saya dengan saat kajian tafsir (dalam surat Saba Ayat 39)

"Katakanlah, "Sungguh Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik"


Dalam setiap rangkaian tahap persiapan acara, kami berusaha melibatkan anak-anak untuk turut serta melakukan sortir terhadap beberapa pakaian dan mainan yang perlu untuk mereka relakan berpindah kepemilikan :)


Tak jarang diskusi terjadi antara saya dan Nadia, Nadia yang masih sedikit enggan mengeluarkan beberapa baju Princess kesayangannya yang tak muat lagi meng-kover badannya yang semakin meninggi. Begitu pula Yeza yang masih enggan mainan-mainannya berpindah tangan.

Hingga tibalah hari eksekusi, undangan kami kirimkan kepada para Budhe sang punggawa urusan domestik yang bekerja di komplek rumah kami ( kami tinggal di dalam area komplek rumah dinas dengan sedikit sekali warganya), tepat hari ini, Jumat 7 April 2017, pukul 13.00 para budhe berdatangan ke rumah kami.

Wajah-wajah gembira tergambar dari raut wajah lelah mereka, manakala menerima undangan yang kami kirimkan, dan aura kebahagiaan mereka terjejak jelas saat mereka memasuki rumah kami. Nadia yang memang sudah kembali dari sekolah formalnya, menyambut para Budhe dengan senyum ramah dan bersahabat. Obrolan ringan membuka pembicaraan kami siang ini, saling bertukar kabar, menanyakan kabar kerabat mereka yang kebetulan juga kami kenal, bertanya hal-hal ringan sebagai selingan.

"Dagangan"pun akhirnya di gelar, para budhe memilih dengan sangat antusias deretan pakaian bekas layak pakai, buku majalah dan mainan anak-anak yang telah kami siapkan sebelumnya.


Budhe Nia dan Teh Neng memilih beberapa pakaian untuk kerabat di rumah




Ketika para Budhe ini datang ke rumah saja sudah cukup membuat saya sangat terharu manakala mereka memilih pakaian-pakaian kami dengan wajah gembira.

Ya Rabb, betapa kami seringkali menyia-nyiakan nikmat yang Kau beri pada kami ya Allah, sesuatu yang di mata kami nampak biasa namun di mata mereka terlihat seperti harta karun yang bernilai luar biasa.

Sembari obrolan kami, sajian berupa tape goreng hangat dan teh manis hangat yang telah di persiapkan oleh Nadia dan Mbak Yeni (asisten kami di rumah) membuat suasana siang yang cukup terik terasa hangat dan sejuk di dalam rumah.

Mengalirlah cerita tentang kabar keluarga para budhe di rumah,

Seperti cerita Budhe Nia yang kakaknya harus segera berobat mata karena debu yang masuk di matanya saat ia bekerja (beliau bekerja sebagai tukang bangunan)

Kemudian cerita Teh Mastu yang suaminya sakit dan tidak memungkinkan mencari pekerjaan di luar rumah sehingga saat ini Teh Mastulah sebagai tulang punggung keluarga dan harus mencukupi kebutuhan hidup untuk dua anak dan mertua yang masih tinggal satu rumah dengan beliau

Atau Teh Neng yang anaknya sakit dan belum cukup uang untuk berobat

Lain lagi cerita yang di tuturkan oleh Budhe Suyud terhadap sakit "tak kasat mata" yang di derita putri bungsunya



Ya Rabbi,
Melihat mereka tertawa lepas beberapa menit sebelumnya, dan kemudian menjadi adegan drama dan mata yang berkaca-kaca di antara mereka mendengar cerita dari teman-teman seprofesinya, betapa hati kami seolah merasakan penderitaan yang mereka rasakan.

Betapa sedikit sekali usaha yang bisa kami lakukan paling tidak untuk melepas beban mereka sejenak. Betapa sungguh seharusnya kam menjadi hamba-Mu yang patut bersyukur atas segala apa yang kami dapatkan.

Terimakasih atas kesempatan yang Kau berikan pada kami untuk lebih mengenal mereka, bercengkrama dan tertawa bersama, berbagi duka bersama walaupun dalam hal fisik  maupun secara materi kami tak mampu menawarkan kedukaan mereka

Buah hatiku, hari ini kalian belajar langsung pada apa yang bunda katakan sebagai "Guru Kehidupan"

Dari merekalah kita bisa memetik banyak pelajaran berharga untuk saling menghargai sesama, sekecil dan serendah apapun profesinya, agar kelak anakku, kau mampu tumbuh menjadi generasi yang tak hanya cerdas dalam hal intelektual saja, namun di imbangi dengan kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual yang Ayah dan Bundamu kenalkan sedari usia dini

Anakku, hari ini kita semua belajar betapa sedikit saja kebaikan kecil yang kita lakukan bisa jadi akan membawa dampak yang berbeda untuk kehidupan orang lain.

Lihatlah anakku, ketika para Budhe meninggalkan rumah kita, ada beban yang sedikit berkurang dari sorot mata mereka, beban yang hilang lewat tawa lepas mereka, lewat obrolan yang kita habiskan saat makan bersama siang tadi walaupun hanya dengan menu sederhana sebagai syarat penggugur kewajiban makan siang.

Beliau adalah Budhe Nia, sahabat kami yang selalu sigap membersihkan rumah kami

Budhe Nia bergaya dengan topi Ayana



Anakku, jangan letih berproses, dan belajar bersama kami, Ayah dan Bundamu
Semoga bekal kebaikan seperti ini akan selalu membekas di hati dan ingatanmu, untuk kau jadikan perisai manakala hatimu di racuni oleh perasaan Riya, dan cinta pada dunia.

Mari anakku, kita berproses ke arah yang lebih, tugas kita hanya berusaha, namun soal hasil biarlah itu menjadi hak prerogatif Allah SWT.




Nama Project : Detoks Harta
Pimpro : Bunda Sasha
Konseptor : Ayana
Juru Cekrek : Bunda
Pelaksana : Nadia, Yeza, Mbak Yeni
Transportasi : Om Adi
Durasi : 5 hari



Omah Sinau, 7 April 2017
Puspaning Dyah, saat menulis bukan sekedar mengalirkan rasa


#level3
#kelasbunsayiip
#myfamilymyteam
#hari16

#TDoLM_WritingChallenge
#JurnalIbuPembelajar.JIP4
#Portofolio.FBE.Nadia
#FitrahIman
#FitrahSeksualitas
#FitrahBelajar
#day5of7days

Kamis, 06 April 2017

Jurnal Ibu Pembelajar_Hari Keempat_Di manapun Aku Bisa Belajar

Memaknai konsep "Family Project" kami memandangnya sebagai sebuah bentuk fasilitas untuk memperkuat bonding di antara anggota keluarga.

Kami berusaha menyederhanakan konsep "Family Project" ini dengan menjalankan rutinitas keseharian kami hanya dengan sedikit sentuhan perencanaan yang baik.

Tanpa mengesampingkan konsep bahwa "Belajar Bisa terjadi di mana saja, kapan saja dalam keadaan bagaimana saja dan dengan pihak siapa saja.

Menelusur jadwal hari ini yang cukup padat, di tambah Ayana tengah menjalani tugas kantornya di luar kota, melahirkan konsekuensi beberapa tugas Ayana di rumah harus saya handle dengan baik.

Kisah kami di mulai dari perjalanan menuju sekolah, saya lanjutkan dengan meluncur ke tempat rapat untuk membicarakan beberapa hal teknis kegiatan keorganisasian saya (saat rapat-pun tetap menggunakan prinsip dan rumus Komunikasi Produktif) lanjut dengan perjalanan menjemput Nadia dari sekolahnya.

Jarak dan waktu tempuh yang cukup lama dan jauh dari rumah menuju Sekolah formal Nadia, sengaja kami pilih, agar dengan jarak dan waktu tersebutlah saya mempunyai keluangan waktu mendengarkan segala curahan hatinya dan berkomunikasi dengan lebih intens, semacam waktunya "Girls Talk" yang sengaja kami hadirkan dalam keseharian kami.

Sesampainya di rumah, konsep kemandirian seakan melekat di diri Nadia, pengembalian barang-barang yang melekat di tubuhnya, menyiapkan menu makan siang dan proses makan di siapkan oleh Nadia.





Kebetulan jadwal hari ini adalah saatnya Nadia kontrol ke dokter gigi untuk melakukan pencabutan dan penambalan gigi. Seperti biasa yang sering kami lakukan di rumah, beberapa hari menjelang jadwal kontrol, kami persiapkan dengan baik mental dan keberanian Nadia menghadapi "jarum bor".

Strategi yang saya gunakan kali ini adalah dengan membawa buju gambar dan peralatan menggambar Nadia.
Ssmbari menunggu kami saling bekerja sama menyelesaikan beberapa gambar yang perlu di warnai. Selain bertujuan menjaga Nadia berada dalam Mood yang baik saat masuk ke ruang praktik dokter, cara ini saya tawarkan untuk Nadia berdasarkan kecenderungan Nadia untuk berkreasi melalui warna.



Setidaknya cara ini ampuh untuk megusir rasa takutnya, menjaga moodnya berada dalam keadaan baik sehingga siap dengan semua perlakuan dokter giginya 😚😚😚😂

Nadia pun sukses menjalani proses cabut gigi dengan riang gembira, dan meninggalkan ompong di giginya, tanpa proses mengharu biru (red : menangis dan di sertai aksi tutup mulut) sebagaimana kunjungan sebelumnya 😘😘😘😂


Nadia dan formasi giginya yang baru



#TDoLM_WritingChallenge
#Portofolio.FBE.Nadia
#FitrahBelajar
#JurnalIbuPembelajar.JIP4
#day4of7days

#level3
#kelasbunsayiip
#myfamilymyteam
#hari15

Rabu, 05 April 2017

Jurnal Ibu Pembelajar_Hari Ketiga_Its So Fun When Im In Home

Bermain dan belajar atau belajar sembari bermain adalah rutinitas wajib yang ada di dalam "Omah Sinau" kami. Kadangkala anak-anak tak sadar manakala mereka sedang di "paksa" belajar oleh saya maupun Ayana dalam proses bermain yang kami sering lakukan di dalam maupun di luar lingkungan rumah.

Nadia : "Bunda, aku gak mau berhitung sekarang, aku mau metik mangga aja"
Bunda : "Oke, pakai sepatu boot-mu nak, ajak adek Yeza keluar rumah dan minta adek Yeza pakai sepatunya"

Saya ambilkan galah, dan meminta bantuan beberapa bapak OB di komplek rumah kami (kebetulan kami menempati rumah dinas)

Galah di ambil alih oleh Bapak OB

Bunda : "Oke Nadia, sekarang ambil mangga yang telah di petik pak OB, pisahkan antara mangga yang besar dan mangga yang kecil, pisahkan pula mangga yang tidak sengaja terjatuh dan mangga yang di ambil dalam keadaan utuh"

Bunda : "Nadia, minta tolong di jumlah ada berapa mangga yang ada, lalu tolong di masukkan di dalam plastik masing-masing dua buah yang satu besar dan yang satu yang agak sedang ya Kak untuk kita bagi ke tetangga-tetangga"

(tanpa kau sadari sebetulnya saat itu kau tengah belajar mengenai kumpulan, penjumlahan, pengurangan, pembagian, pecahan, dan bilangan dan tanpa kau sadari pula proses rela berbagi seperti inilah yang kau perlukan sebagai latihan untuk meningkatkan kecerdasan sosialmu anakku) 

Nadia : " Bunda daun-daunnya pada jatuh"
Bunda : "Lalu gimana baiknya kak? "
Nadia : "Aku ambil sapu sebentar ya bund"

Tak lama nampak pemandangan Nadia tengah menyapu halaman dengan arah yang tidak beraturan

Anakku, tanpa kau sadari sejatinya saat itu kau tengah belajar arti tanggung jawab dan kemandirian, serta kebaikan yang kau lakukan hari ini kelak akan menjadi pembelajaran yang baik untuk adikmu, tanpa kau sadari pula engkau tengah berproses menjadi pembelajar mandiri

Nak, bunda pun tak pernah memaksa dalam setiap proses yang kau lalui, seperti hari ini di saat jadwal belajar di rumah adalah membaca dan berlatih menulis, namun kau lebih memilih untuk mewarnai dan menggambar, sesuatu hal yang menjadi kegemaranmu nomer satu saat ini.



Tugas Ayana dan Bunda adalah mengarahkan kau berkembang sesuai dengan fitrahmu Nak, di saat kau bersenang-senang namun tetaplah bertanggung jawab terhadap setiap pilihan yang kau ambil.

Nak, jika memang benar suatu saat kelak cita-citamu menjadi seorang pelukis menjadi kenyataan, maka tugas Ayana dan Bunda hanya mengarahkan agar kau benar-benar mampu menjadi seorang pelukis yang profesional yang tetap dapat memperjuangankan syiar Islam lewat goresan indah tintamu.

Nak berlatihlah tanpa henti, dan berbahagialah atas setiap langkah kecil yang kau pijak hari ini, maknailah setiap pengalaman yang menempamu menjadi sebuah sahabat baik yang bersamanya akan menjadikanmu pribadi yang kuat dan matang


Omah Sinau, 5 April 2017
Puspaning Dyah, seorang Ibu yang selali bangga pada anaknya

#level3
#kelasbunsayiip
#myfamilymyteam
#hari14

#TDoLMWritingChallenge
#JurnalIbuPembelajar.JIP4
#Portofolio.FBE.Nadia
#FitrahBelajar
#Day3of7days

Selasa, 04 April 2017

Jurnal Ibu Pembelajar_Hari Kedua_Kreasi bersama Kertas Roti

Di sela-sela persiapan menyelesaikan project utama dalam tantangan level 3 Kelas Bunsay IIP, kami menyempatkan untuk selalu bermain dan bergembira.

Seperti biasa kegiatan "Sekolah dirumah" di mulai dengan diskusi akan bermain apa kita hari ini, di saat proses "cerita" tanpa sengaja pintu lemari tempat penyimpanan harta karun saya terbuka (harta karun = peralatan baking saya, seperti case cupcake, mika plastik, sendok kue, dll 😄)

Melihat tumpukan cupcake case dan kertas roti di ujung lemari, mencetuskan ide untuk memanfaatkanya sebagai bahan bermain dan belajar kami sore ini


Untuk permulaan saya memberikan contoh untuk Nadia kreasi yang bisa di hasilkan dari kertas roti, untuk kemudian Nadia mampu kembangkan sesuai imajinasi, kreatifitasan-nya, dan keunikan daya fikirnya.



Kembali pada minat utamanya saat ini, yaitu melukis (doi masih setia dengan cita-citanya untuk jadi pelukis 😁😁😁)
Maka apapun media dan bentuk crafting apapun yang saya tawarkan, akan di sisipi dengan aktifitas melukis


Pola lukisan Nadia Saat ini mulai menunjukkan perubahan ke arah lebih baik di banding saat pertama kali melukis, kali ini komposisi warna mulai di mainkannya, gambarnya-pun sudah mulai "bercerita" dan saling melengkapi satu sama lain dalam setiap komponen yang di lukisnya.




Demikianlah perjalanan Sekolah dirumah kami, di sela-sela aktifitas persiapan untuk project utama kami yang hampir menyentuh angka 75% persiapan

#level3
#kuliahbunsayiip
#myfamilymyteam
#hari13

#TDoLM_WritingChallenge
#Portofolio.FBE.Nadia
#JurnalIbuPembelajar.JIP4
#FitrahBakat
#FitrahBelajar
#day2to7days

Senin, 03 April 2017

Jurnal Ibu Pembelajar_Hari Pertama_Bersenang-senang di museum

Sebagai pendatang di Provinsi Lampung, menjadi sebuah pengalaman dan pembelajaran yang menarik manakala kita berhasil memahami karakteristik, warisan budaya dan tak lupa kuliner asli masyarakat setempat 😍😍😍

Omah Sinau senang sekali melakukan penjelajahan di pelosok negeri demi mendapatkan suatu pengalaman baru, yang dapat kami wariskan untuk garis keturunan kami kelak.

Salah satu cara belajar sejarah tercepat, termudah dan terefisien adalah melalui museum. Sebuah tempat yang menyimpan berbagai barang peninggalan masa terdahulu ssbagai warisan berharga untuk anak-anak.

Dengan tanpa sengaja kami melakukan outing ke Museum Lampung, yang letaknya sekitar 30km dari kediaman kami. Dengan waktu tempuh yang relatif singkat (untuk jalanan kota Lampung 😁) yaitu berkisar 30 - 45 menit, kami tiba di museum Lampung, salah satu museum terbesar di Provinsi Lampung.

Tampak dari muka wajah Museum Lampung


Nadia tengah antri membeli tiket

Nadia berpose di depan loket museum

Harga tiket yang cukup murah, kami cukup mengeluarkan uang sebesar Rp. 18.000,- untuk 4 tiket dewasa dan 2 tiket anak-anak.

Penjelajahan pun dimulai, museum ini terdiri dari dua lantai.  Lantai dasar museum berisi peralatan-peralatam megalitikum, alat-alat bercocok tanam, mata uang lama, serta berbagai perlengkapan perang yang di gunakan saat jaman dahulu. Di lantai ini pula digambarkan perjuangan heroik pahlawan Lampung Radin Intan II, melalui trip ini Nadia baru betul-betul mengenal sosok Radin Intan II yang selama ini hanya saya kenalkan melalui cerita sepintas lalu.

Masih di lantai yang sama terdapat koleksi fosil, dan berbagai prasasti. Patung-patung yang sepertinya saat jaman dahulu di jadikan sesembahan oleh masyarakat setempat, melalui patung-patung ini Nadia mendapatkan gambaran konsep "berhala" yang biasa saya ceritakan kepadanya.

Beranjak di lantai kedua yang berisi mengenai kebudayaan, terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama adalah Lampung Pesisir dan Lampung Papadun. Mulai dari proses pernikahan, kelahiran,  khitanan dan cara hidup masyarakat setempat.

Diaroma letusan gunung krakatau

Di antara lorong penghubung terdapat diaroma letusan gunung krakatau, letusannya yang begitu dahsyat, menerbangkan lonceng mercusuar yang ada di dekat gunung krakatau, membawa terbang hingga ke tengah kota Bandar Lampung. Replika Lonceng tersebut kini di letakkan di pelataran museum Lampung.




Setiap outing sebisa mungkin kami maknai sebagai salah satu proses belajar dan mengajar, Nadia belajar mengenai sejarah secara langsung dan tidak hanya sebatas buku teks ataupun cerita kami kepadanya, namun melihat dan menyentuh secara langsung apa yang selama ini hanya ada dalam imajinasinya.


"Belajarlah dari sejarah, untuk bekal perbaikan di masa depan"

Omah Sinau,  April 2017
#jurnalibupembelajar.JIP4
#TDoLM_writingchalleges
#Portofolio.FBE.Nadia
#FitrahBelajar
#day1to7days

#level3
#myfamilymyteam
#hari12
#kuliahbunsayiip