Tampilkan postingan dengan label Hari4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari4. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Januari 2020

Mengulik kenangan masa lalu

Dengan padatnya jadwal emak roadshow hari ini, si emak sungguh tak punya tenaga extra untuk menghadapi mata berbinar-binar duo jenderal yang berharap ada sesi dongeng kembali malam ini.

Sebagai penyelamat selain koyo, minyak angin gosong dan bergelas-gelas air putih hangat, maka buku cerita adalah hero yang tak tertukar.

Membiarkan mereka berimajinasi seperti apakah keadaan bumi jaman prasejarah, apakah di saat itu Nabi Adam AS telah turun ke bumi atau masih berada di surgaNya Allah...

Senin, 25 November 2019

Buah Tangan sang Pengikat Cinta


Saling memberi hadiah adalah salah satu faktor yang menumbuhkan saling cinta di antara kaum muslimin. Sampai ada sebuah pepatah Arab yang tertulis:

"Hadiah yang di berikan oleh sebagian orang kepada oramg lainnya bisa menumbuhkan kasih sayang diantara keduanya"


Seperti budaya dari Osin Family dimana kami senantiasa membawakan oleh-oleh baik sesuatu yang khas daerah kami maupun sesuatu yang kami produksi sendiri dari rumah dan dapur kami.





Seperti halnya dalam Tration kami kali ini dengan waktu perjalanan yang cukup singkat maka kamipun menyempatkan untuk membawakan buah tangan bagi teman-teman yang memang sudah janjian untuk bertemu atau yang janjian on the spot.

Dengan sebelumnya mengkalkulasi total biaya produksi kami memutuskan untuk membuat semdiri "Kue Ketawa" Salah satu panganan khas Pematang Siantar. Melibatkan anak2 untuk proses produksi


Menghitung biaya produksi serta melakukam secara mandiri roti ketawa yang akan mereka berikan.

Dari serangkaian proses produksi, Anak-anak membuat kesimpulan bahwa dengan memproduksi sendiri jauh menghasilkan jumlah yang lebih banyak dengan barang produkai kualitas di atas rata-rata

Selain dapat berhemat mereka mendapat kepuasan sendiri karena dapat memberikan persembahan terbaik bagi para sahabat.

Rabu, 17 Juli 2019

Menu Sehat dari dapurku sendiri



Saat telah memasuki masa sekolah, artinya masa di mana freezer harus terisi dengan aneka logistik sebagai amunisi untuk bekal sekolah duo jenderal (hihihihi adek yeza mulai ngerasa kalau dia juga sekolah jadi ya tetap masuk hitungan untuk di buatkan bekal😃)

Dan melibatkan anak-anak dalam proses ini menjadi aktivitas menyenangkan untuk kami. Di mulai dengan menyusun menu frozen food, merancang anggaran yang di butuhkan, berbelanja hingga proses mengolah bahan mentah menjadi sajian untuk penghuni Osin Family.



Di pekan ini kami memutuskan membuat frozen food berupa nugget ayam, chicken roll ala-ala yang mirip dengan sajian di salah satu gerai food waralaba favorit anak-anak, serta bakso sapi yang bisa kami olah kembali menjadi aneka masakan turunan.

Proses berbelanja telah kami lewati di hari kemarin. Sehingga hari ini tersajilah aneka frozen food untuk perbekalan kami satu pekan ke depan. Pengamatan terhadap reaksi mereka pun mendapat hasil yang hampir serupa, saat mendapat instruksi dalam mengolah menu, duo jenderal cenderung terkesan abai karena mereka sibuk bercengkrama satu sama lain, walaupun ternyata instruksi di kerjakan secara runut dan mendekati sesuai dengan apa yang menjadi runutan dalam proses.


Memilih makanan sehat adalah pilihan utama untuk kami, dan menyiapkannya secara mandiri adalah proses untuk kami berbahagia bersama. Seperti itulah mungkin perkara mengenai Jodoh, seperti saat kita tengah memilih makanan sehat. Sebetulnya sudah tersaji dekat dengan kita, hanya kadang kita mengabaikannya dengan alasan tak cocok dengan selera kita.

Beruntungnya saya, yang berjodoh dengan kawan-kawan dan pasangan hidup yang mampu membuat saya bersemangat untuk tetap hidup sehat agar semakin banyak lagi memberi manfaat untuk yang lainnya.


Bandar Lampung, 17 Juli 2019
Puspaning Dy

Senin, 17 Juni 2019

Belajar dari sang Guru Kehidupan



Baginda nabi Muhammad SAW pernah berkata:
"Kenapa kita harus jadi pengusaha? Karena 9 dari 10 pintu rezeki berasal dari dunia perdagangan"

Islam mengajarkan untuk selalu menjadi pekerja keras dan melarang umatnya bergantung hidup pada orang lain. Bukankah rahmat Allah SWT terbentang begitu luas? Hasil bumi, hasil alam serta berbagai sektor lain tersedia, bisa di kerjakan oleh manusia untuk kemudian di olah dan di manfaatkan menjadi rezeki

Dan karena Allah SWT akan senang manakala melihat hambaNya bersungguh-sungguh dalam mencari dan memanfaatkan rizki yang telah di peroleh.

Kak Nad yang tengah memilih sayuran


Atas dasar itulah petuangan Duo Jenderal hari ini di mulai dengan menjelajah pasar tradisional, salah satu tempat kunjungan favorit si emak sebagai bab permulaan project BURAS MASAMBA kami untuk mempraktikkan berbagai teknik dan cara memasak 😀🤣
Terlebih masih dalam suasana bulan syawal hingga tak ada salahnya mengajak duo jenderal turut serta bersilaturahim dengan para Guru Kehidupan sembari mengisi logistik kami hingga beberapa hari ke depan.

Salah seorang Guru Kehidupan yang kami jumpai hari ini

Dengan bagun pagi dan menyelesaikan segala standar pagi, kami bertiga (emak dan duo jenderal) berangkat menuju salah satu pasar tradisional yang letaknya tak seberapa jauh dari kantor ayana (sekalian nganterin barang pesanan ayana sih sebenernya 🤣)

Interaksi Kak Nad bersama bude penjual tahu 

Banyak interaksi yang di lakukan oleh duo jenderal, mereka melihat langsung proses transaksi dengan sistim tawar menawar yang tak kan di jumpai di supermarket atau pasar swalayan modern, menjumpai pasar dengan segala atributnya (kios/lapak dagangan, bank pasar, TPS alias Tempat Pembuangan Sampah sementara, dll), mengenal berbagai profesi (tukang parkir, tukang panggul, tukang jagal, tukang kebersihan, sales/marketing produk, dll), mengidentifikasi plot lapak dagangan (mana bagian lapak sayur, daging, ikan, buah dan aneka cemilan/snack)

Kak Nad memilih kacang dan bumbu dapur


Di kesempatan kali ini Kak Nad mempraktikkan ilmu public speaking dan berhitung melalui proses transaksi yang berlangsung, bertanya berapa harga barang yang di butuhkan, menghitung uang dan kembalian saat proses pembayaran serta tak lupa mengucapkan terima kasih saat segala urusan telah selesai. Dalam proses ini membangkitkan Intelectual Curiosity dan banyak pertanyaan di benaknya, tentang kenapa kita sebaiknya gak menawar dagangan, lalu kenapa lapaknya gak teratur dan tercampur hingga gak keliatan rapi, bukannya limbah-limbah masih bisa di manfaatkan? Kenapa harus berakhir di tempat sampah semua? (Limbah parutan kelapa, kulit bawang dan sayuran lainnya, sampah organik dan non organik yang saling bercampur, dan banyak pertanyaan lainnya yang mewarnai perjalanan kembali kami dari pasar), dan tentu saja pertanyaan pamungkas (gimana ya biar  doi bisa njualin produk-produknya di pasar🤣)

Mengamati proses pengupasan kelapa

Aapkah project ini selesai hanya sampai di sini? Oo tentu tidak, bukankah masih ada rentetan tugas yang menyertainya? Seperti memilah kembali sayuran mana yang perlu masuk lemari pendingin? Bagaimana menata di dalam lemari pendingin agar memudahkan saat memasak sesuai dengan jutlak menu yang telah di buat untuk satu pekan ke depan? Bagaimana perlakuan kita terhadap limbah yang di hasilkan baik itu sampah organik maupun sampah non organik dan tak lupa di tutup dengan memasak bersama untuk sajian santap siang hari ini. Akhirnya paket pecel dan tahu tempe bacem menjadi pemanja lidah kami siang ini, sebagai Rizki yang telah di titipkan pada kami untuk di manfaatkan menjadi energi dalam berbuat kebaikan dan beribadah dalam balutan iman dan takwa pada Sang Pencipta ☺

Oopzh jangan berharap terlalu tinggi mereka akan tumbuh paripurna dengan 8 Multiple Intelligence jika stimulus tak pernah di tawarkan pada mereka. Maka yuuuk mari kita sederhanakan konsep, sesederhana mereka dalam menyikapi hidup dan kehidupan.

Dengan modal stimulus sederhana dan interaksi dengan banyak karakter seperti ini saja sudah menjadi perjalanan yang menyenangkan untuk anak-anak, daya kritis dan kemampuannya berempati pada sesama akan terangsang dan terasah dengan cara yang natural.


Teringat kembali pesan gurunda perihal adab sebelum ilmu, bahwa dahulukanlah Adab sebelum Ilmu. Saya tidak mampu membayangkan mereka akan tumbuh menjadi generasi cerdas namun miskin akhlak, sekedar karena di picu sisi-sisi humanis yang kurang "disentil".

Bukankah adab hanya bisa di tularkan dan bukan di ajarkan? Maka mulailah tularkan kebiasan-kebiasaan baik pada calon pemimpin masa depan ini sedini mungkin.


Mari bersama menjadi barisan Ibu beradab agar mereka tak tumbuh menjadi generasi tuna adab.





Bandar Lampung, 17 Juni 2019
Puspaning Dyah, seorang Ibu yang tertatih belajar menjadi Ibu beradab