Jumat, 07 April 2017

Level 3_My Family My Team_Hari Keenam Belas_Detoks Harta

Akhirnya tibalah kami di hari final pelaksanaan Family Project Omah Sinau,
Beberapa rangkaian pelaksanaan project mulai kami persiapkan beberapa hari sebelumnya, mulai dari proses diskusi dengan seluruh anggota keluarga, urun dan saling menimbang saran antar anggota keluarga, kemudian tahap perencanaan dan perumusan kegiatan hingga tibalah hari ini, hari pelaksanaan eksekusi kegiatan.

Ketika mendapat tugas di level 3 Kelas Bunda Sayang ini, semula kami berpikir terlalu rumit mengenai konsep family project seperti apa yang akan kami adaptasi di Omah Sinau kami. Akhirnya kami tersadar akan tulisan Pak Dodik Maryanto mengenai rumusan Family Project


FAMILY PROJECT = DAILY ACTIVITY + ORGANIZE + MANAGEMENT


Berangkat dari konsep tersebut kami berusaha menyederhanakan kembali konsep Family Project versi Omah Sinau.

Memanfaatkan kebiasaan dan tradisi yang berlaku di Omah Sinau, di mana kami rutin melakukan "Stock Opname" terhadap beberapa barang "Daily User" di rumah kami, semisal Pakaian, Mainan, Buku, dan perkakas rumah tangga untuk kemudian kami sortir barang-barang mana yang perlu kami keluarkan atau tetap kami pertahankan.

Mengembangkan konsep berbagi barang pantas pakai tersebut, tercetuslah ide untuk menggunakannya sebagai Family Project Omah Sinau.

Brainstorming saya dan Ayana melibatkan peran anak-anak di dalamnya. Saya mencoba mengusulkan untuk kami membuka semacam bazzar di rumah kami dengan mengundang para punggawa rumah tangga di komplek rumah kami. Gayung bersambut, usul saya di terima oleh sang Kepala Suku. Mulailah saya berkomunikasi secara efektif kepada anak-anak, terutama pada Nadia (5y11m), dalam sessi diskusi saya bersama Nadia, saya kutipkan beberapa ayat Al-Quran mengenai konsep berbagi dan bersedekah

Qs. Al-Mu'minum Ayat 60
(kebetulan Halaqoh di Omah Sinau beberapa waktu yang lalu menyinggung mengenai adzab dan siksa neraka)

"dan mereka yang memberikan apa yang mereka berikan (sedekah) dengan hati penuh rasa takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan-Nya"

Saya singgung pula salah satu tafsir yang pernah saya dengan saat kajian tafsir (dalam surat Saba Ayat 39)

"Katakanlah, "Sungguh Tuhanku melapangkan rezeki dan membatasinya bagi siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan apa saja yang kamu infakkan, Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi Rezeki yang terbaik"


Dalam setiap rangkaian tahap persiapan acara, kami berusaha melibatkan anak-anak untuk turut serta melakukan sortir terhadap beberapa pakaian dan mainan yang perlu untuk mereka relakan berpindah kepemilikan :)


Tak jarang diskusi terjadi antara saya dan Nadia, Nadia yang masih sedikit enggan mengeluarkan beberapa baju Princess kesayangannya yang tak muat lagi meng-kover badannya yang semakin meninggi. Begitu pula Yeza yang masih enggan mainan-mainannya berpindah tangan.

Hingga tibalah hari eksekusi, undangan kami kirimkan kepada para Budhe sang punggawa urusan domestik yang bekerja di komplek rumah kami ( kami tinggal di dalam area komplek rumah dinas dengan sedikit sekali warganya), tepat hari ini, Jumat 7 April 2017, pukul 13.00 para budhe berdatangan ke rumah kami.

Wajah-wajah gembira tergambar dari raut wajah lelah mereka, manakala menerima undangan yang kami kirimkan, dan aura kebahagiaan mereka terjejak jelas saat mereka memasuki rumah kami. Nadia yang memang sudah kembali dari sekolah formalnya, menyambut para Budhe dengan senyum ramah dan bersahabat. Obrolan ringan membuka pembicaraan kami siang ini, saling bertukar kabar, menanyakan kabar kerabat mereka yang kebetulan juga kami kenal, bertanya hal-hal ringan sebagai selingan.

"Dagangan"pun akhirnya di gelar, para budhe memilih dengan sangat antusias deretan pakaian bekas layak pakai, buku majalah dan mainan anak-anak yang telah kami siapkan sebelumnya.


Budhe Nia dan Teh Neng memilih beberapa pakaian untuk kerabat di rumah




Ketika para Budhe ini datang ke rumah saja sudah cukup membuat saya sangat terharu manakala mereka memilih pakaian-pakaian kami dengan wajah gembira.

Ya Rabb, betapa kami seringkali menyia-nyiakan nikmat yang Kau beri pada kami ya Allah, sesuatu yang di mata kami nampak biasa namun di mata mereka terlihat seperti harta karun yang bernilai luar biasa.

Sembari obrolan kami, sajian berupa tape goreng hangat dan teh manis hangat yang telah di persiapkan oleh Nadia dan Mbak Yeni (asisten kami di rumah) membuat suasana siang yang cukup terik terasa hangat dan sejuk di dalam rumah.

Mengalirlah cerita tentang kabar keluarga para budhe di rumah,

Seperti cerita Budhe Nia yang kakaknya harus segera berobat mata karena debu yang masuk di matanya saat ia bekerja (beliau bekerja sebagai tukang bangunan)

Kemudian cerita Teh Mastu yang suaminya sakit dan tidak memungkinkan mencari pekerjaan di luar rumah sehingga saat ini Teh Mastulah sebagai tulang punggung keluarga dan harus mencukupi kebutuhan hidup untuk dua anak dan mertua yang masih tinggal satu rumah dengan beliau

Atau Teh Neng yang anaknya sakit dan belum cukup uang untuk berobat

Lain lagi cerita yang di tuturkan oleh Budhe Suyud terhadap sakit "tak kasat mata" yang di derita putri bungsunya



Ya Rabbi,
Melihat mereka tertawa lepas beberapa menit sebelumnya, dan kemudian menjadi adegan drama dan mata yang berkaca-kaca di antara mereka mendengar cerita dari teman-teman seprofesinya, betapa hati kami seolah merasakan penderitaan yang mereka rasakan.

Betapa sedikit sekali usaha yang bisa kami lakukan paling tidak untuk melepas beban mereka sejenak. Betapa sungguh seharusnya kam menjadi hamba-Mu yang patut bersyukur atas segala apa yang kami dapatkan.

Terimakasih atas kesempatan yang Kau berikan pada kami untuk lebih mengenal mereka, bercengkrama dan tertawa bersama, berbagi duka bersama walaupun dalam hal fisik  maupun secara materi kami tak mampu menawarkan kedukaan mereka

Buah hatiku, hari ini kalian belajar langsung pada apa yang bunda katakan sebagai "Guru Kehidupan"

Dari merekalah kita bisa memetik banyak pelajaran berharga untuk saling menghargai sesama, sekecil dan serendah apapun profesinya, agar kelak anakku, kau mampu tumbuh menjadi generasi yang tak hanya cerdas dalam hal intelektual saja, namun di imbangi dengan kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual yang Ayah dan Bundamu kenalkan sedari usia dini

Anakku, hari ini kita semua belajar betapa sedikit saja kebaikan kecil yang kita lakukan bisa jadi akan membawa dampak yang berbeda untuk kehidupan orang lain.

Lihatlah anakku, ketika para Budhe meninggalkan rumah kita, ada beban yang sedikit berkurang dari sorot mata mereka, beban yang hilang lewat tawa lepas mereka, lewat obrolan yang kita habiskan saat makan bersama siang tadi walaupun hanya dengan menu sederhana sebagai syarat penggugur kewajiban makan siang.

Beliau adalah Budhe Nia, sahabat kami yang selalu sigap membersihkan rumah kami

Budhe Nia bergaya dengan topi Ayana



Anakku, jangan letih berproses, dan belajar bersama kami, Ayah dan Bundamu
Semoga bekal kebaikan seperti ini akan selalu membekas di hati dan ingatanmu, untuk kau jadikan perisai manakala hatimu di racuni oleh perasaan Riya, dan cinta pada dunia.

Mari anakku, kita berproses ke arah yang lebih, tugas kita hanya berusaha, namun soal hasil biarlah itu menjadi hak prerogatif Allah SWT.




Nama Project : Detoks Harta
Pimpro : Bunda Sasha
Konseptor : Ayana
Juru Cekrek : Bunda
Pelaksana : Nadia, Yeza, Mbak Yeni
Transportasi : Om Adi
Durasi : 5 hari



Omah Sinau, 7 April 2017
Puspaning Dyah, saat menulis bukan sekedar mengalirkan rasa


#level3
#kelasbunsayiip
#myfamilymyteam
#hari16

#TDoLM_WritingChallenge
#JurnalIbuPembelajar.JIP4
#Portofolio.FBE.Nadia
#FitrahIman
#FitrahSeksualitas
#FitrahBelajar
#day5of7days

Kamis, 06 April 2017

Jurnal Ibu Pembelajar_Hari Keempat_Di manapun Aku Bisa Belajar

Memaknai konsep "Family Project" kami memandangnya sebagai sebuah bentuk fasilitas untuk memperkuat bonding di antara anggota keluarga.

Kami berusaha menyederhanakan konsep "Family Project" ini dengan menjalankan rutinitas keseharian kami hanya dengan sedikit sentuhan perencanaan yang baik.

Tanpa mengesampingkan konsep bahwa "Belajar Bisa terjadi di mana saja, kapan saja dalam keadaan bagaimana saja dan dengan pihak siapa saja.

Menelusur jadwal hari ini yang cukup padat, di tambah Ayana tengah menjalani tugas kantornya di luar kota, melahirkan konsekuensi beberapa tugas Ayana di rumah harus saya handle dengan baik.

Kisah kami di mulai dari perjalanan menuju sekolah, saya lanjutkan dengan meluncur ke tempat rapat untuk membicarakan beberapa hal teknis kegiatan keorganisasian saya (saat rapat-pun tetap menggunakan prinsip dan rumus Komunikasi Produktif) lanjut dengan perjalanan menjemput Nadia dari sekolahnya.

Jarak dan waktu tempuh yang cukup lama dan jauh dari rumah menuju Sekolah formal Nadia, sengaja kami pilih, agar dengan jarak dan waktu tersebutlah saya mempunyai keluangan waktu mendengarkan segala curahan hatinya dan berkomunikasi dengan lebih intens, semacam waktunya "Girls Talk" yang sengaja kami hadirkan dalam keseharian kami.

Sesampainya di rumah, konsep kemandirian seakan melekat di diri Nadia, pengembalian barang-barang yang melekat di tubuhnya, menyiapkan menu makan siang dan proses makan di siapkan oleh Nadia.





Kebetulan jadwal hari ini adalah saatnya Nadia kontrol ke dokter gigi untuk melakukan pencabutan dan penambalan gigi. Seperti biasa yang sering kami lakukan di rumah, beberapa hari menjelang jadwal kontrol, kami persiapkan dengan baik mental dan keberanian Nadia menghadapi "jarum bor".

Strategi yang saya gunakan kali ini adalah dengan membawa buju gambar dan peralatan menggambar Nadia.
Ssmbari menunggu kami saling bekerja sama menyelesaikan beberapa gambar yang perlu di warnai. Selain bertujuan menjaga Nadia berada dalam Mood yang baik saat masuk ke ruang praktik dokter, cara ini saya tawarkan untuk Nadia berdasarkan kecenderungan Nadia untuk berkreasi melalui warna.



Setidaknya cara ini ampuh untuk megusir rasa takutnya, menjaga moodnya berada dalam keadaan baik sehingga siap dengan semua perlakuan dokter giginya 😚😚😚😂

Nadia pun sukses menjalani proses cabut gigi dengan riang gembira, dan meninggalkan ompong di giginya, tanpa proses mengharu biru (red : menangis dan di sertai aksi tutup mulut) sebagaimana kunjungan sebelumnya 😘😘😘😂


Nadia dan formasi giginya yang baru



#TDoLM_WritingChallenge
#Portofolio.FBE.Nadia
#FitrahBelajar
#JurnalIbuPembelajar.JIP4
#day4of7days

#level3
#kelasbunsayiip
#myfamilymyteam
#hari15

Rabu, 05 April 2017

Jurnal Ibu Pembelajar_Hari Ketiga_Its So Fun When Im In Home

Bermain dan belajar atau belajar sembari bermain adalah rutinitas wajib yang ada di dalam "Omah Sinau" kami. Kadangkala anak-anak tak sadar manakala mereka sedang di "paksa" belajar oleh saya maupun Ayana dalam proses bermain yang kami sering lakukan di dalam maupun di luar lingkungan rumah.

Nadia : "Bunda, aku gak mau berhitung sekarang, aku mau metik mangga aja"
Bunda : "Oke, pakai sepatu boot-mu nak, ajak adek Yeza keluar rumah dan minta adek Yeza pakai sepatunya"

Saya ambilkan galah, dan meminta bantuan beberapa bapak OB di komplek rumah kami (kebetulan kami menempati rumah dinas)

Galah di ambil alih oleh Bapak OB

Bunda : "Oke Nadia, sekarang ambil mangga yang telah di petik pak OB, pisahkan antara mangga yang besar dan mangga yang kecil, pisahkan pula mangga yang tidak sengaja terjatuh dan mangga yang di ambil dalam keadaan utuh"

Bunda : "Nadia, minta tolong di jumlah ada berapa mangga yang ada, lalu tolong di masukkan di dalam plastik masing-masing dua buah yang satu besar dan yang satu yang agak sedang ya Kak untuk kita bagi ke tetangga-tetangga"

(tanpa kau sadari sebetulnya saat itu kau tengah belajar mengenai kumpulan, penjumlahan, pengurangan, pembagian, pecahan, dan bilangan dan tanpa kau sadari pula proses rela berbagi seperti inilah yang kau perlukan sebagai latihan untuk meningkatkan kecerdasan sosialmu anakku) 

Nadia : " Bunda daun-daunnya pada jatuh"
Bunda : "Lalu gimana baiknya kak? "
Nadia : "Aku ambil sapu sebentar ya bund"

Tak lama nampak pemandangan Nadia tengah menyapu halaman dengan arah yang tidak beraturan

Anakku, tanpa kau sadari sejatinya saat itu kau tengah belajar arti tanggung jawab dan kemandirian, serta kebaikan yang kau lakukan hari ini kelak akan menjadi pembelajaran yang baik untuk adikmu, tanpa kau sadari pula engkau tengah berproses menjadi pembelajar mandiri

Nak, bunda pun tak pernah memaksa dalam setiap proses yang kau lalui, seperti hari ini di saat jadwal belajar di rumah adalah membaca dan berlatih menulis, namun kau lebih memilih untuk mewarnai dan menggambar, sesuatu hal yang menjadi kegemaranmu nomer satu saat ini.



Tugas Ayana dan Bunda adalah mengarahkan kau berkembang sesuai dengan fitrahmu Nak, di saat kau bersenang-senang namun tetaplah bertanggung jawab terhadap setiap pilihan yang kau ambil.

Nak, jika memang benar suatu saat kelak cita-citamu menjadi seorang pelukis menjadi kenyataan, maka tugas Ayana dan Bunda hanya mengarahkan agar kau benar-benar mampu menjadi seorang pelukis yang profesional yang tetap dapat memperjuangankan syiar Islam lewat goresan indah tintamu.

Nak berlatihlah tanpa henti, dan berbahagialah atas setiap langkah kecil yang kau pijak hari ini, maknailah setiap pengalaman yang menempamu menjadi sebuah sahabat baik yang bersamanya akan menjadikanmu pribadi yang kuat dan matang


Omah Sinau, 5 April 2017
Puspaning Dyah, seorang Ibu yang selali bangga pada anaknya

#level3
#kelasbunsayiip
#myfamilymyteam
#hari14

#TDoLMWritingChallenge
#JurnalIbuPembelajar.JIP4
#Portofolio.FBE.Nadia
#FitrahBelajar
#Day3of7days

Selasa, 04 April 2017

Jurnal Ibu Pembelajar_Hari Kedua_Kreasi bersama Kertas Roti

Di sela-sela persiapan menyelesaikan project utama dalam tantangan level 3 Kelas Bunsay IIP, kami menyempatkan untuk selalu bermain dan bergembira.

Seperti biasa kegiatan "Sekolah dirumah" di mulai dengan diskusi akan bermain apa kita hari ini, di saat proses "cerita" tanpa sengaja pintu lemari tempat penyimpanan harta karun saya terbuka (harta karun = peralatan baking saya, seperti case cupcake, mika plastik, sendok kue, dll 😄)

Melihat tumpukan cupcake case dan kertas roti di ujung lemari, mencetuskan ide untuk memanfaatkanya sebagai bahan bermain dan belajar kami sore ini


Untuk permulaan saya memberikan contoh untuk Nadia kreasi yang bisa di hasilkan dari kertas roti, untuk kemudian Nadia mampu kembangkan sesuai imajinasi, kreatifitasan-nya, dan keunikan daya fikirnya.



Kembali pada minat utamanya saat ini, yaitu melukis (doi masih setia dengan cita-citanya untuk jadi pelukis 😁😁😁)
Maka apapun media dan bentuk crafting apapun yang saya tawarkan, akan di sisipi dengan aktifitas melukis


Pola lukisan Nadia Saat ini mulai menunjukkan perubahan ke arah lebih baik di banding saat pertama kali melukis, kali ini komposisi warna mulai di mainkannya, gambarnya-pun sudah mulai "bercerita" dan saling melengkapi satu sama lain dalam setiap komponen yang di lukisnya.




Demikianlah perjalanan Sekolah dirumah kami, di sela-sela aktifitas persiapan untuk project utama kami yang hampir menyentuh angka 75% persiapan

#level3
#kuliahbunsayiip
#myfamilymyteam
#hari13

#TDoLM_WritingChallenge
#Portofolio.FBE.Nadia
#JurnalIbuPembelajar.JIP4
#FitrahBakat
#FitrahBelajar
#day2to7days

Senin, 03 April 2017

Jurnal Ibu Pembelajar_Hari Pertama_Bersenang-senang di museum

Sebagai pendatang di Provinsi Lampung, menjadi sebuah pengalaman dan pembelajaran yang menarik manakala kita berhasil memahami karakteristik, warisan budaya dan tak lupa kuliner asli masyarakat setempat 😍😍😍

Omah Sinau senang sekali melakukan penjelajahan di pelosok negeri demi mendapatkan suatu pengalaman baru, yang dapat kami wariskan untuk garis keturunan kami kelak.

Salah satu cara belajar sejarah tercepat, termudah dan terefisien adalah melalui museum. Sebuah tempat yang menyimpan berbagai barang peninggalan masa terdahulu ssbagai warisan berharga untuk anak-anak.

Dengan tanpa sengaja kami melakukan outing ke Museum Lampung, yang letaknya sekitar 30km dari kediaman kami. Dengan waktu tempuh yang relatif singkat (untuk jalanan kota Lampung 😁) yaitu berkisar 30 - 45 menit, kami tiba di museum Lampung, salah satu museum terbesar di Provinsi Lampung.

Tampak dari muka wajah Museum Lampung


Nadia tengah antri membeli tiket

Nadia berpose di depan loket museum

Harga tiket yang cukup murah, kami cukup mengeluarkan uang sebesar Rp. 18.000,- untuk 4 tiket dewasa dan 2 tiket anak-anak.

Penjelajahan pun dimulai, museum ini terdiri dari dua lantai.  Lantai dasar museum berisi peralatan-peralatam megalitikum, alat-alat bercocok tanam, mata uang lama, serta berbagai perlengkapan perang yang di gunakan saat jaman dahulu. Di lantai ini pula digambarkan perjuangan heroik pahlawan Lampung Radin Intan II, melalui trip ini Nadia baru betul-betul mengenal sosok Radin Intan II yang selama ini hanya saya kenalkan melalui cerita sepintas lalu.

Masih di lantai yang sama terdapat koleksi fosil, dan berbagai prasasti. Patung-patung yang sepertinya saat jaman dahulu di jadikan sesembahan oleh masyarakat setempat, melalui patung-patung ini Nadia mendapatkan gambaran konsep "berhala" yang biasa saya ceritakan kepadanya.

Beranjak di lantai kedua yang berisi mengenai kebudayaan, terbagi menjadi dua bagian, bagian pertama adalah Lampung Pesisir dan Lampung Papadun. Mulai dari proses pernikahan, kelahiran,  khitanan dan cara hidup masyarakat setempat.

Diaroma letusan gunung krakatau

Di antara lorong penghubung terdapat diaroma letusan gunung krakatau, letusannya yang begitu dahsyat, menerbangkan lonceng mercusuar yang ada di dekat gunung krakatau, membawa terbang hingga ke tengah kota Bandar Lampung. Replika Lonceng tersebut kini di letakkan di pelataran museum Lampung.




Setiap outing sebisa mungkin kami maknai sebagai salah satu proses belajar dan mengajar, Nadia belajar mengenai sejarah secara langsung dan tidak hanya sebatas buku teks ataupun cerita kami kepadanya, namun melihat dan menyentuh secara langsung apa yang selama ini hanya ada dalam imajinasinya.


"Belajarlah dari sejarah, untuk bekal perbaikan di masa depan"

Omah Sinau,  April 2017
#jurnalibupembelajar.JIP4
#TDoLM_writingchalleges
#Portofolio.FBE.Nadia
#FitrahBelajar
#day1to7days

#level3
#myfamilymyteam
#hari12
#kuliahbunsayiip

Minggu, 02 April 2017

Level 3_My Family My Team_Hari Kesebelas_Detoks Harta

Beberapa prinsip positif di rumah kami, kami buat dan kami biasakan kepada anak-anak di rumah. Salah satu prinsip yang saya tularkan kepada anak-anak adalah saat ada barang baru masuk, maka harus diimbangi dengan sejumlah minimal sama dengan barang lama yang keluar, semacam penerapan prinsip FIFO (First In First Out)  dalam prinsip persediaan ilmu Akuntansi.

Demikianlah kami mengadopsi ilmu FIFO tersebut dalam manajemen persediaan di rumah kami, secara rutin setiap bulan kami menyortir barang-barang daily user dalam rumah kami, semisal pakaian, sepatu, barang pecah belah, hingga mainan anak-anak.

Manakala dalam kurun waktu satu bulan kami melakukan pembelanjaan barang maka dalam bulan itu pula kami perlu melakukan investigasi terhadap persediaan lama yang menumpuk di dalam lemari.

Memaknai project dalam game level 3 ini, kami mengolah kebiasaan yang kami jalankan setiap bulannya dengan sedikit sentuhan manis kekreatifitasan di dalamnya. Saya coba berikan gambaran kepada Nadia untuk melakukan hal yang tidak biasa dari yang biasa kami kerjakan bersama. Jika biasanya kami sekedar menitipkan hasil sortiran kami kepada Bude Nia (ART yang membantu kami di rumah), maka kali ini kami mengajak Nadia turut serta secara aktif dari mulai proses sortir, dan pendistribusiannya.


Beberapa hasil sortiran kami perlu melalui diskusi yang cukup alot, Nadia yang masih merasa ingin memiliki beberapa barang kesayangannya (terutama pakaian dengan tema kartun kesayangannya) walaupun tubuhnya yang kini membesar dan meninggi sudah tak cukup lagi menampung pakaian tersebut di badannya.


Menyortir barang hingga ke setiap sudut, seakan membuka memori lama, dan sejarah di balik adanya beberapa barang tersebut bermukim manja di dalam lemari kami.


Sebagai orang pindahan yang tak memungkinkan kami membawa banyak barang ke kota hijrah kami, membuat kami menyortir di awal hanya barang-barang paling dibutuhkan dan barang-barang yang menyimpan kenangan membekas saja yang kami bawa serta. Mata saya kembali terpadu dengan sebuah daster tua, dengan aroma yang mengingatkan saya pada sosok lembut dan berhati mulia yang biasa menggunakannya.

Mama, duhai anakmu menjadi rindu seketika dengan sosok penyayangmu tatkala mata ini beradu dengan sesuatu yang terhubung denganmu, kelembutan hatimu, segala kebaikanmu, segala sentuhanmu, bahkan aroma tubuhmu yang selalu membuatku nyaman sebagaimanapun situasi hatiku.

Semacam film kehidupan kembali terputar di pelupuk mata, menghadirkan berjuta makna yang anakmu  rasakan saat ini. Mama, masih sedikit sekali keteladanan yang kau ajarkan pada anakmu ini, yang sanggup ku tularkan pada cucu-mu. Sungguh masih jauh dari kata sempurna bagiku dalam membersamai cucu-cucumu, mah maafkan pula anakmu yang belum mampu menghadiahkan mahkota dan jubah terbaik untukmu karena betapa susahnya anakmu ini menghafal kalam-kalam Illahi, bagaimana mungkin mah, anakmu ini berharap dengan sedemikian rupanya mendapatkan anak solihah sedangkan diri ini masih jauh dari kata solihah.

Duhai bundaku, mamaku, entahlah jika bukan dengan kekuatan cintamu, aku takkan mampu berdiri dengan tegak saat ini. Mah, terimakasih atas segala kebaikan yang telah kau tabur semasa hidupmu di dunia, sehingga atas kebaikanmu itu, membuatku untuk selalu bersemangat dalam mengerjakan beberapa kebaikan lainnya, dan menularkannya pada cucu-cucumu.

Semoga anakmu ini, mampu menjadi solihah di mata Tuhan kita mah, sebagaimana itu pula doaku yang kulantunkan di ujung sajadah, untuk memampukan aku menjadikan anak-anakku, anak-anak yang solihah dan bersama kita kembali dapat berkumpul di Jannah-Nya suatu saat kelak.


Omah sinau
Puspaning Dyah, berproject bukan semata demi mengerjakan sebuah tugas


Nama Project : Persiapan Detoks Harta
Pimpro : Bunda
Administrator : Ayana
Eksekutor : Bunda, Nadia
Tukang Cekrek : Bunda
Penggembira : Yeza


#level3
#myfamilymyteam
#kelasbunsayiip
#hari11



Sabtu, 01 April 2017

Level 3_My Family My Team_Hari Kesepuluh_Ini Hari-ku

This is the day 😍😍😍😍😍

Setelah berlatih dengan keras beberapa hari yang lalu, tibalah hari Playdate IIP Lampung di mana Nadia (5y11m) akan menjadi tutor bagi teman-temannya. Nadia akan bertugas menjadi tutor dalam segmen Fun Coocking sebagai bagian dari rangkaian Playdate IIP Lampung.

Di mulai dengan bangun pagi, mengawali hari dengan semangat tinggi dan wajah berseri, kami bergegas menyiapkan segala keperluan peralatan dan perlengkapan dalam acara hari ini.

Selain acara playdate IIP, bunda-pun harus menyiapkan beberapa detail yang perlu di diskusikan bersama rekan-rekan yang tergabung dalam kepanitian Training Family Strategic Planning, berhubung Bunda di dapuk menjadi Ketua Panitia dalam event keren ini, segala hal detail perlu dipersiapkan dengan baik, dan di rencanakan dengan sangat matang.

Segala hal detail sangat saya perhatikan agar tak luput dari pengamatan, bangun lebih pagi, karena harus menyiapkan beberapa bahan yang tak bisa di siapkan malam sebelumnya, urusan kepanitiaan, tak lupa logistik untuk Ayana yang pastinya akan di tinggal seharian oleh kami (Saya dan anak-anak).

Tugas domestik selesai, saatnya berpindah tempat menuju rumah rekan kami yang di gunakan untuk Playdate.

Di saat para bunda belajar bersama Psikolog andalan Provinsi Lampung, ibu Dra. Renyep Proborini, M. Psi yang berdiskusi asyik mengenai "Pola Komunikasi Efektif dalam Keluarga untuk mendukung Kemandirian Buah Hati"
Para buah hati pun melakukan aktifitas Fun Coocking yang di pimpin oleh Nadia dan saya

Awalnya Nadia sempat ragu dan hilang kepercayaan diri manakala harus memimpin teman-teman yang semula belum dikenalnya, lambat laun dengan saya berada di sampingnya membantu Nadia ice breaking di awal, Nadia mulai menemukan kepercayaan dirinya berbaur bersama teman-temannya.

Proses dasar saat membuat cupcake, kemudian di lanjut dengan menghias dan menabur topping pizza sesuai selera anak-anak, di lanjutkan dengan menghias cupcake sesuai dengan imajinasi mereka. Tepat sekali jika kemudian di sematkan judul "Fun Coocking" di acara playdate kali ini. Karena memang betul setiap anak menikmati proses dengan riang gembira, dari yang semula beberapa anak terlihat malu, takut dan khawatir namun lambat laun anak-anak hebat ini mampu mengikuti ritme dengan sangat dinamis.

Nadia belajar lagi bahwa ketakutan itu hanya ada di dalam hati, akan membesar manakala kita tidak percaya dengan kemampuan diri kita, namun akan menyusut dengan sendirinya jika kita mau mendobrak batasan-batasan yang memenjara kita, merobek dengan paksa sekat yang membuat kita terkungkung di dalam sebuah frase "ketakutan".

Semangat selalu buah hatiku, bersama kita akan mampu menaklukkan rintangan. Sekeras apapun tamparan kehidupan yang akan kau hadapi, namun dengan hentakan keras yang sama pula kau akan sanggup melawannya. Bersama kita saling belajar anakku, karena masa depan sungguh ada di tangan kita sendiri, hanya dengan usaha kita sendiri pula rezeki itu perlu kita jemput.

Bunda dan Ayah bangga, bisa melalui segala proses ini bersamamu duhai buah hati kami.


Nama Project : Ini Hari-ku
Pimpro : Bunda
Eksekutor : Nadia
Penyandang Dana dan Supporter Utama : Ayana
Makmum : Yeza
Juru Cekrek : Mbak Yeni
Cheerleaders : Om Adi
Durasi : 60menit

Menghias Cupcake

Antrian anak-anak yang menunggu giliran adonan pizzanya masuk ke dalam oven

Anak-anak hebat bersama pizza hasil kreasi mereka

Aktivitas anak-anak menambahkan topping pizza

Nadia memperagakan cara mencampur adonan

Beberapa anak berlatih menggunakan mikser saat mengocok adonan kue