Minggu, 14 Mei 2017

Puisi Rindu

Puisi ini kubuat untuk kamu
Seorang lugu nan lucu yang buatku tak jemu
Kuberikan tanpa ragu untuk siratkan aku rindu kamu
Walaupun mungkin kamu tak pernah tahu derajat rindu ini

Tak peduli ini hari minggu
Yang ku tahu pasti cuman aku rindu kamu
Ku relakan rasa ini menikamku hingga lisanku jadi kelu
Bisu tak bersuara, penuh dengan letupan berwarna biru

Ada rindu di ujung sembilu
Tertikam jemu yang datang tanpa malu-malu
Duhai kamu yang namanya ku buru di riaknya sendu
Kapankah rinduku di akhirkan oleh sang penguasa waktu




#rindu #puisibunsha #bunshajourney #omahsinaulistiyono

Selasa, 09 Mei 2017

Don't Teach Me, I Love to Learn



Saat saya menikah, kemudian Allah hadirkan sesosok nyawa baru dalam rahim saya, hingga kemudian ia terlahir maka di detik tersebut, janin dalam kandungan saya resmi menyandang status sebagai "ANAK" dan serta merta saya dan ayana sah secara de'facto dan yuridis bergelar "ORANG TUA".

Ketika menjadi orang tua, banyak perubahan yang kami alami, kami yang tadinya berdua, kemudian menjadi bertiga hingga hari ini komplit menjadi ber-empat. Mencoba mengamati pola unik anak-anak dengan "ilmu titen" membuat kami yakin bahwa sesungguhnya mereka adalah pembelajar sejati. Bahkan misalnya pun kami ini nol persen terhadap ilmu parenting, tak mengubah konsep bahwa mereka adalah pembelajar yang unggul.

Hingga kemudian pada suatu titik kami semakin menyadari bahwa kebutuhan krusial untuk anak-anak bukanlah ilmu parenting yang kami miliki, melainkan lebih pada waktu dan perhatian kami dalam membersamainya, karena pada akhirnya setiap orang tua yang akan menemukan pola parenting mana yang bisa di terapkan kepada buah hati, dan bukan hasik dikte dari pakar parenting manapun.


Rasanya saat menghadapi materi Level 4 seperti lagi ngalamin jatuh cinta, jatuh hati sampai jatuh bangun 😥😅😂


Lagi-lagi kami merasa di tampar bolak-balik hingga tak kunjung usai dalam menyelesaikan perkuliahan Bunda Sayang ini.  Fyiiiuuuuh rasa lelah tapi tetap harus melangkah 😅😅😅


Betul sekali jika anak-anak adalah pembelajar yang alami, beri mereka rangsangan melalui stimulus maka dengan sendirinya mereka akan temui jalan keluar.

Nadia yang tampak ceria, namun memiliki PR besar terhadap kepercayaan dirinya, hingga berimbas pada hal-hal sederhana yang berkaitan dengan kepercayaan dirinya, misalnya contoh keberaniannya untuk berbicara dan menyapa temannya di dalam suatu forum, keberaniannya untuk mengungkapkan isi hatinya baik kepada saya, Ayana maupun pihak di luar kami berdua.

Qadarullahnya saat mendapat tugas memahami Gaya Belajar Anak, bertepatan dengan di terimanya hasil psikotest Nadia di sekolah formalnya. Hasil psikotest menunjukkan hasil yang menggembirakan sekaligus membanggakan untuk kami selaku orangtuanya, bagaimana tidak bangga jika ananda tergolong anak-anak dengan kecerdasan intelektual di atasnya di atas rata-rata (superior),  walaupun dengan satu catatan kecil mengenai kemampuan motorik kasarnya. Melirik ke belakang dengan sifat dan sikap Nadia kami menjadi mahfum bahwa ada PR besar di depan mata, bagaimana kami mampu memberikan stimulus lebih untuk mendongkrak kekurangan kecil dari dirinya, dan menjadi salah satu cara bagi kami memaksimalkan potensi unik yang dimilikinya.


Kecenderungan Nadia akan warna dan grafis berusaha kami gabungkan dengan berbagai aktifitas motorik kasar saat proses membersamai Nadia. Kami ajak Nadia berbelanja raket bulu tangkis dan memilih senar serta perangkat lainnya sesuai dengan warna kesayangannya. Hingga kami selipkan cerita (mengingat aspek Visual dan Auditori Nadia sangat kuat) mengapa kita perlu berolahraga, siapa atlit kebanggaan Indonesia, dan hal-hal sederhana yang bisa di tangkap oleh logikanya.


Ayana berperan penting saat proses melatih motorik kasar Nadia, saya berperan dalam mempertajam kemampuan visual dan auditorinya. Proses LEARN senantiasa kami tumbuhkan di dalam keluarga kami, berusaha dengan maksimal membersamai ananda dengan proses yang menyenangkan dan jauh dari kesan paksaan.

Di akhir pelaksanaan tugas bulan ini, saya mencoba mengajak Nadia mereview kembali perjalanan kami sepekan terakhir, intensitas latihan motorik kasar dan "titen" terhadap gaya belajarnya, kami gelarlah sebuah Family Project yang sasarannya adalah Nadia bisa berkreasi dengan sesuatu hal yang ia sukai namun merangsang keinginannya untuk tetap berlatih motorik kasarnya.

Jatuhlah pilihan pada membuat film sederhana (melalui aplikasi di gadget) berisi perjalanan Nadia sejak pertama kali menginjakkan kakinya di Kelas TK-B (mengingat Nadia saat ini memasuki masa menjelang inagurasi kelulusannya). Sekaligus sebagai apresiasi dan luapan rasa terima kasih untuk Bu Eel dan bu Nur,  tim fasilitator Nadia di sekolah formalnya. Jadilah kami berdiskusi memilih foto yang akan di tampilkan, mengedit video, memilih sountrack film, hingga detail kecil seperti alur film kami bahas dan diskusikan bersama hingga lahirlah sebuah film pendek berisi perjalanan kisah Nadia selama menghabiskan waktunya di sekolah bersama teman-teman dan guru-gurunya.
Bukan hasil yang spektakuler memang, namun kami lebih melihat bagaimana Nadia mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan semangat dalam belajar sesuatu tantangan baru yang kami apresiasi di dirinya, hanya melalui stimulus kecil dari kami bisa lahir sebuah project sederhana, sebagai kenang-kenangan di masa depannya kelak.

Satu hal ibroh yang ingin saya ajarkan kepada Nadia, bahwa sekecil apapun usaha kita hari ini, bisa jadi akan bernilai besar di kemudian hari. Nadia kecil kami pastinya akan selalu tumbuh menjadi gadis yang ceria, yang yakin pada dirinya bahwa ia mampu menaklukkan seberat apapun rintangan di hadapannya selama ia percaya, bahwa ia mampu mengalahkan rasa takutnya.







Bandar Lampung, 9 Mei 2017
Puspaning Dyah, seorang bunda yang tak letih membersamai buah hatinya


#level4
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak
#aliranrasa


Sabtu, 06 Mei 2017

Serendipity dan sebuah kesempatan baik



Terkadang kita terhubung dengan manusia lain dengan sebuah cara yang unik. Bahkan jika kita sedikit jeli dalam melihat sesuatu, ada beragam cara "aneh" yang membuat kita merasa "klik" dengan manusia yang lainnya.


Di kisahkan dalam sebuah film bertajuk "SERENDIPITY" di mana alur cerita berpusat pada kehidupan yang dimulai pada sebuah "kebetulan". Seorang Jonathan Trager (John Kussack) dan Sara Thomas (Kate Beckinsale) yang bertemu di sebuah pusat perbelanjaan di Bloomingdale, New York saat menjelang perayaan Natal. Pertemuan mereka dimulai dari sebuah kebetulan, yaitu sama-sama menginginkan sepasang kaus kaki hitam yang ternyata stoknya tinggal satu. Mengetahui Sara begitu menginginkan benda tersebut membuat John akhirnya mengalah. Perjumpaan mereka yang secara kebetulan itu berakhir di sebuah rumah makan yang bernama Serendipity (yang memiliki arti a fortunate accident).


Di sini saya tidak akan mengulas resensi dari film tersebut, saya justru lebih tertarik membahas pada banyaknya kebetulan yang justru mengantarkan kita pada sebuah titik yang sama, hingga tak sadar ketika kita sudah mencari ke sana ke mari, menanti tak kunjung jemu, alhasil kita tertuju pada arah yang menurut kita membosankan, rute yang kita lalui semakin "mbulet", ruwet dan melelahkan, namun di ending kisah kita menyadari bahwa "oooo.... Akhirnya ke sini juga tho...."


Kembali pada film tersebut, saya lebih senang memilih untuk melihat pembelajaran dari kisah yang di tuturkan sang tokoh utama. Tentang asumsi-asumsi sesaat akan sebuah keadaan. Terkadang saya dan mungkin sebagian pembaca cerita ini lebih sering menganalogikan jika suatu A bertemu dengan suatu B, maka bisa jadi hasilnya adalah AB. Kawan, padahal hidup itu bukanlah tentang ilmu pasti, ada banyak alasan dan kemungkinan kenapa sebuah A yang di gabung menjadi B bisa saja tidak akan bergabung membentuk AB.



Ada banyak asumsi yang kemudian menyelimuti prasangka-prasangka kita, yang tanpa kita sadari mungkin kejadian-kejadian yang menjauhkan pada suatu keadaan akhir adalah penghalang dan menjadi keniscayaan bagi kita sampai di titik akhir yang kita inginkan. Bagaimana semua itu bisa terbentuk? Bisa jadi karena kita sedang melihatnya melalui kacamata diri kita, tidak jika kita menjadi penonton dari film Serendipity di atas. Dengan mudah kita berasumsi bahwa banyaknya kebetulan yang tercipta justru di situlah titik betapa berjodohnya kedua tokoh sentral di film tersebut. Dengan menjadi penonton dengan mudah kita menarik kesimpulan bahwa relasi di antara kedua tokoh tersebut sangatlah kuat, betapa mereka berdua saling mencintai, saling berharap, bahkan kemudian sama-sama berusaha keras untuk menepis harapan tersebut. Padahal hanya butuh kesabaran dan waktu yang baik untuk mematahkan asumsi tersebut.

Namun di dalam ajaran Islam, sudah selayaknya kita tidak menyebutnya sebagai sebuah "kebetulan". Mari kita bersama-sama menengok kembali ayat 255 dalam surat Al-Baqarah (ayat kursi)

Allah SWT berfirman:

اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْحَـيُّ الْقَيُّوْمُ   ۚ  لَا تَأْخُذُهٗ سِنَةٌ وَّلَا نَوْمٌ  ؕ  لَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ  ؕ  مَنْ ذَا الَّذِيْ يَشْفَعُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا بِاِذْنِهٖ  ؕ  يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۚ  وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِّنْ عِلْمِهٖۤ اِلَّا بِمَا شَآءَ  ۚ  وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ ۚ  وَلَا يَــئُوْدُهٗ حِفْظُهُمَا  ۚ  وَ هُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ


"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Maha Hidup, yang terus-menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka dan mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang ilmu-Nya melainkan apa yang Dia kehendaki. Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dan Dia tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Dia Maha Tinggi, Maha Besar."
(QS. Al-Baqarah: Ayat 255)


Atau mari kita tengok ke dalam Surat Al-An'am ayat 59


Allah SWT berfirman:

وَعِنْدَهٗ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَاۤ اِلَّا هُوَ  ؕ  وَيَعْلَمُ مَا فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ  ؕ  وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَّرَقَةٍ اِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِيْ ظُلُمٰتِ الْاَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَّلَا يَابِسٍ اِلَّا فِيْ كِتٰبٍ مُّبِيْنٍ

"Dan kunci-kunci semua yang gaib ada pada-Nya; tidak ada yang mengetahui selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur yang tidak diketahui-Nya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, yang tidak tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)."
(QS. Al-An'am: Ayat 59)


Kemudian, mari kita simak lagi sifat ALLOH SWT, Ilmu (Maha Mengetahui), Sama’ (Maha Mendengar), Bashar (Maha Melihat), ‘Aliman (Dzat yang Maha Mengetahui)  Sami’an (Dzat Yang Maha Mendengar), Bashiran (Dzat Yang Maha Melihat).


Ambillah sebuah contoh sederhana sebagaimana ilustrasi di bawah ini :

" Si Fulan bertemu Fulani dalam sebuah pengajian, selanjutnya mereka menikah dan berbahagia hingga akhir hayat"

Atau contoh berikut ini :
"Saat berjalan-jalan di suatu pasar, kita menemukan selembar uang seratus ribu, lalu kita namakan ini sebagai suatu kebetulan".


Baik mari kita lihat jawaban sederhana dari dua perumpamaan di atas. Dalam contoh pertama jodoh sudah ditentukan ALLOH SWT. Adapun bagaimana mereka bertemu, itu adalah kuasa-Nya dalam menentukan.

Sementara untuk perumpamaan kedua, ALLAH SWT sudah menetapkan rejeki bagi kita, dengan ‘menyediakan’ Rp 100 ribu di jalan yang kita lalui.  Dan ALLAH SWT sudah tahu bahwa kita akan melewati jalan tersebut.

Beberapa kali saat mendengarkan curcolan kawan, tak jarang saya mendengar lontaran kalimat mereka :

"Ah saya mah gimana Allah aja lah kan semua-semuanya juga uda di tentukan tho sama gusti Allah?"


"Kalau emang uda takdirnya miskin ya mau usaha apa aja tetep bakalan kayak gini mbak, tetep miskin"

Geli ya membacanya? Jadi berasa pingin ngunyah nasi padang pake ayam pop #lho...

Heheheee....
Jelas kita faham ada kesalahkaprahan yang terjadi, betapa kita bisa paham bahwa kedua pernyataan di atas adalah sebuah hal yang keliru jika mengingat beberapa ayat Al-Quran dan sifat Allah yang saya kutip di atas. Bukankah Allah SWT tetap memperintahkan kita untuk selalu berusaha hingga sampai pada waktunya "Beliau" menjatuhkan Takdir dan hasil yang di dapat hamba-Nya.

Duuuuh jadi inget lho sama salah satu ayat favorit saya 😍😍😍


Allah SWT berfirman:

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ  مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ  ؕ  اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا  بِاَنْفُسِهِمْ  ؕ  وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ  وَمَا لَهُمْ  مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ


"Baginya (manusia) ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
(QS. Ar-Ra'd: Ayat 11)


Kembali ke soal film SERENDIPITY, setidaknya dari film tersebut mengajarkan pada kita tentang gambaran yang indah betapa kita jangan mudah menyimpulkan suatu keadaan, karena kehidupan kita di bentuk dari takdir-takdir kecil yang telah di atur oleh-Nya. Hanya butuh keyakinan dalam hati, bahwa selalu ada takdir baik di antara prasangka-prasangka buruk kita.



Berangkat dari pemikiran tersebutlah, yang membuat saya senang membuka diri pada banyak orang yang saya temui. Membuka kesempatan hal-hal baik untuk menghampiri saya, membuka peluang sebanyak-banyaknya "Serendipity" karena saya selalu percaya setiap manusia memiliki sisi unik yang bisa kita jadikan pembelajaran, dan tak jarang membuka pada banyak kesempatan baik yang akan di rasakan manfaatnya di masa-masa mendatang.


Selalu ada alasan di setiap kejadian, hanya bagaimana cara kita memandang kejadian tersebut, bisa bernilai tambahkah atau justru menjadi penurun kualitas diri.






Bandar Lampung, 7 Mei 2017
Puspaning Dyah, menulis saat lagi-lagi menemukan serendipity pada seseorang

Kamis, 04 Mei 2017

Superheroku_Level 4_Gaya Belajar Anak_Hari ke-10

Agenda rutin kami setiap pagi adalah pengantarkan Ayana dan Nadia (6y1m) menuju stasiunnya di hari kerja 😀

Mengantar Ayana sampai di depan pintu masuk kantornya, lanjut perjuangan melawan kemacetan Bandar Lampung di pagi hari dengan mengantar Nadia ke sekolah formalnya yang berjarak sekitar 20km dengan waktu tempuh 30-45 menit 😀😀😀

Seperti biasa Yeza (2y6m) menjadi navigator andalan saya dalam hal berkemudi di jalan raya


Sepulang mengantar Nadia ke sekolahnya, kami sempatkan untuk mampir berbelanja beberapa kebutuhan rumah tangga si suatu toserba. Perhatian Yeza tertuju pada sebungkus mainan superhero yang memang beberapa waktu lalu menjadi incarannya.

Kami pun kembali melanjutkan perjalanan ke rumah dengan tak lupa menenteng superhero baru di tangan Yeza


Setelah menyelesaikan beberapa urusan domestik sembari menunggu Nadia kembali dari sekolahnya, kami berdua (saya dan Yeza) bermain peran dalam melakonkan superhero versi Yeza



Yeza tampak antusias dan menikmati saat kami berlarian seolah-olah superhero yang tengah terbang mengejar musuh, atau saat superhero berdiskusi dengan sesama superhero. Hingga lelap dalam tidurnya pun bayang-bayang lakon superhero yang kami mainkan seharian ini masih melekat kuat di ingatannya dan terbawa sampai di alam bawah sadarnya malam ini.


#level4
#gayabelajaranak
#kelasbunsayiip
#harike-10

Rabu, 03 Mei 2017

Mengamati Bintang_Level 4_Hari Kesembilan_Gaya Belajar Anak

Dalam rangka menunaikan tugas dari sekolah formalnya untuk melakukan pengamatan bintang bersama Ayana dan Bunda, malam ini Nadia berkunjung ke kantor Ayana (karena ayana gak bisa pulang sesuai jadwal jam pulang kantor jadi terpaksa deh di susul di tempat kerja 😥)


Setelah intermezo dengan menamani sebentar ayana yang masih rapat dengan anggota timnya, akhirnya kami bergegas menuju area parkir kantor ayana untuk melakukan pengamatan bintang di malam ini.

Sayang cuaca tidak bersahabat, langit yang sedikit mendung membuat bintang-bintang seolah bersembunyi di balik pekatnya awan.


Dan akhirnya kami kembali ke rumah dengan tidak membawa hasil karena tidak ada pengamatan yang bisa kami lakukan.


Pengamatan bintang kami lanjutka. di rumah melalui hasil penelusuran di buku maupun selancar media online.


#level4
#kelasbunsayiip
#gayabelajaranak

Selasa, 02 Mei 2017

Membaca Ku Paling Suka_Level 4_Gaya Belajar Anak_Hari Ke-Delapan

Kepulangan Ayana adalah suatu momentum yang di tunggu oleh anak-anak, terlebih jika Ayana pulang tidak dengan tangan hampa (oleh-oleh berupa snack saat Ayana rapat di kantornya)


Seletih apapun Ayana, akam di sempatkan untuk bermain dan menemani mereka hingga menjelang jam tidur anak-anak.

Ritual yang menjadi rutinitas wajib saat menjelang jam tidur malam. Membacakan buku cerita bergambar, dan kemudian mengulangnya dengan bahasa dan interpretasi ayana, atau terkadang meminta anak-anak mengulang isi cerita yabg telah di bacakan Ayana.  Tak jarang pula dari satu cerita sederhana menjadi cerita berkembang luas karena imajinasi anak-anak yang tanpa batas.

Membaca menjadi sebuah kurikulum di dalam Home Education kami, dengan harapan mampu menambah kosakata anak-anak, merangsang logika berfikir mereka, serta membiasakan anak-anak berfikir tidak hanya dari satu sisi.


#level4
#harikedelapan
#gayabelajaranak
#kuliahbunsayiip

Senin, 01 Mei 2017

Vintage Toys_Level 4_Gaya Belajar Anak_Hari Ketujuh

Memasuki Senin rasa Minggu kali ini kami manfaatkan dengan bermain bersama anak-anak di area sekitar "Omah Sinau". Rutinitas pagi kami lalui seperti biasanya, ibadah pagi bersama, di lanjutkan dengan olahraga ringan di lapangan depan rumah kami, menyusul berolahraga bulu tangkis bersama.

Untuk kali pertama anak-anak berlatih bermain bulu tangkis bersama Ayana, di awal mereka terlihat enggan mencoba, ngos-ngosan mengejar sang bulu ayam yang terbang kian kemari, namun perlahan mereka menemukan keasyikan saat bermain dan mengejar "bulu ayam" yang terbang kian kemari.


Aktifitas bonding antar anggota keluarga di lanjut dengan kegiatan di dalam rumah, Ayana mengenalkan anak-anak terhadap permainan tradisional berupa "congklak atau dakon". Sebuah permainan tradisional yang mengajarkan kesabaran, play fair dan kejujuran. Sembari bermain, Ayana dan saya bergantian menceritakan manfaat dari bermain congklak serta betapa permainan ini menjadi favorit untuk di mainkan saat saya maupun ayana berada di rentang usia Nadia saat ini.




Di tengah ketertarikan Yeza (2y6m) terhadap segala objek yang berwarna cerah, alih-alih ikut dalam permainan congklak bersama kami, Yeza lebih cenderung memilih bermain mandi bola dan memisahkan warna bola-bola plastik tersebut ke dalam kelompok warna yang sama.

Kecenderungan yang ada saat ini,  Yeza lebih suka mengamati benda yang secara visual menarik mata dan hatinya. Demikian pula kegemarannya dalam membaca buku, Yeza menggemari buku-buku dengan banyak corak warna dan gambar.





#level4
#harikeTujuh
#kuliahbunsayiip
#gayabelajaranak