Sabtu, 11 Maret 2017

Tantangan#2_Melatih kemandirian Keluarga_Hari Ketujuh



Kami berusaha membiasakan anak-anak bertanggungjawab terhadap apa yang mereka pilih. Ketika Nadia memilih menggunakan semua koleksi bonekanya untuk bermain petak umpet atau semua permainan hasil ciptaannya maka Nadia berkewajiban mengembalikan kembali seluruh boneka ke tempat semula.

Begitu pula ada konsekuensi yang harus kita pilih  atas sebuah keadaan maupun sesuatu yang telah di sepakati untuk dijalankan. Hari ini Ayana pulang dengan membawa oleh-oleh tiada tara, Ayana membawa pulan sepasang merpati yang akan dipelihara Nadia.

Dengan bertambahnya anggota keluarga baru dirumah berimbas pada beberapa kewajiban yang melekat padanya, misal memberi makan, dan minum membersihkan lantai yang terkena kotoran burung
Pekerjaan sederhana seperti memberi makan burung merpati kami percayakan kepada Nadia, dan Nadia secara mandiri dan bertanggungjawab mengemban tugas yang diberikan padanya.

Tantangan#2_Melatih Kemandirian Keluarga_Hari Keenam



"Tidak ada yang namanya LIMIT karena sesungguhnya LIMIT kita adalah UNLIMITED"

Setidaknya begitulah tamparan keras yang saya dapatkan lewat pernyataan yang di sampaikan oleh Ibu Septi Peni Wulandani selaku Founder IIP.

Hari ini saya dan ayana berusaha menantang Nadia untuk keluar dari Zona Nyamannya di mana ia hanya asyik memasak di sekitar rumahnya tanpa mendapat interaksi dan feedback langsung oleh orang lain. Jadilah hari ini kami mengikutsertakan Nadia pada Cocking Class yang diselenggarakan salah satu hotel terbesar di kota kami, yang pastinya akan di ikuti oleh beberapa peserta yang bisa jadi belum di kenal oleh Nadia.

Selain menumbuhkan kepercayaan dirinya, kami harapkan kesempatan ini menjadi ladang dan wahana Nadia mampu untuk menjadi pribadi lebih mandiri. Saya sengaja memberi jarak antara saya dan Nadia dalam proses kali ini, membiarkan Nadia langsung belajar kepada sang Maestro di bidangnya.

Dan hasilnya tidak kurang dari 15 menit Nadia mampu menemukan teman baru yang mampu membuat suasana hati Nadia kembali ceria kembali.

Tantantangan#2_Melatih Kemandirian Keluarga_Hari Kelima




Dalam hal mengasah kemampuan dan kemandirian Nadia dalam hal memasak, kami berusaha menantangnya mengerjakan sesuatu yang belum pernah di kerjakan olehnya. Kali ini saya dan Nadia ber-project menyelesaikan "muffin" yang akan kami suguhkan untuk beberapa pekerja di rumah kami (bapak tukang yang sedang bekerja memelihara rumah dan bangunan vital di komplek perumahan kami).

Nadia seolah faham bahwa Project-nya kali ini bukan sekedar konsumsi kalangan terbatas seperti biasanya (keluarga inti), namun akan di suguhkan kepada orang lain sehingga membuat Nadia harus memberikan hasil sebaik mungkin.

Kali ini saya izinkan Nadia dalam mengoperasionalkan beberapa alat tempur saya (misal : mixer, loyang, oven dll), Segala proses sedari awal (menimbang bahan), pengadukan hingga menjadi adonan yang siap panggang, cup adonan ke dalam cetakan kue hingga proses penyajian semua di kerjakan oleh Nadia dan sangat minim bantuan dari saya.

Walaupun hasil akhirnya memang tak mirip dengan kue hasil bakey ternama, paling tidak melalui proses ini Nadia akan belajar bagaimana bertanggungjawab atas setiap hasil yang kita dapat  

Tantangan#2_Melatih Kemandirian Keluarga_Hari Keempat


Salah satu jenis ketrampilan yang harus dikuasai Nadia (5y11m) adalah ketrampilan dan kemampuannya dalam mengolah bahan dan menu masakan sederhana untuk di konsumsinya bersama anggota keluarga.

Mengajarkan kemampuan memasak justru menjadi moment yang selalu di nanti oleh Nadia, bagaimana memasak menjadi rutinitas yang tak boleh untuk dilewatkannya. Berawal dari tugas yang sederhana seperti memetik sayuran dari kebun belakang rumah dan menyiangi Sayuran lambat laun nadia secara aktif meminta tugas yang lebih dari sekedar pekerjaan sederhana menurutnya.

Hingga kami percayakan tugas membuat snack sore kepadanya, Nadia bekerja secara profesional kepada saya untuk menyusun dan menyiapkan  menu cemilan sore.

Seperti sore ini Nadia sedang bekerja memebuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga.

Tantangan#2_Melatih Kemandirian Keluarga_Hari Ketiga

Urusan makan dan memilih menu makanan yang akan di nikmati oleh anak-anak, menjadi semacam ritual wajib saat malam hari di sessi pillow talk kami, kami membiasakan anak-anak untuk berani mengemukakan pendapat dan uneg-unegnya, apapun itu bentuknya.

Begitu pula anak-anak yang akhirnya sedikit banyak tertular pola makan saya, yang hanya sarapan dengan menu buah secara eksklusif (hanya menyantap buah di saat jam makan pagi).

Yeza yang terbiasa makan buah di pagi hari sedikit terkejut karena tak mendapati satupun buah di meja makan kami pagi ini, refleks mencari buah untuk bekal sarapan paginya hingga ke seluruh penjuru rumah.

Melihat pintu rumah yang terbuka pagi ini, Yeza langsung menuju halaman depan kami dan menunjuk pohon mangga dengan beberapa buahnya yang cukup lebat dan hampir masak, sembari memberikan isyarat bahwa ia menginginkan buah itu sebagai sarapan paginya.

Dengan beberapa penjelasan sederhana, Yeza mau menuruti saya untuk mengubah menu sarapannya, dan pilihannya pun jatuh kepada roti yang memang hanya itu yang kami sediakan di pagi ini. Dengan tetap berprinsip bahwa ia mulai bisa untuk mengatasi kebutuhannya akan rasa lapar, kami hanya menyediakan sarana dan prasarana, anak-anak pembelajar mandirilah yang akan dengan sendirinya menemukan solusi dari setiap tantangan dan permasalahan yang mereka temui di sepanjang lintasan kehidupannya.


Tantangan#2_Melatih Kemandirian_Hari Kedua

Memulai melatih kemandirian ananda Nadia (5y11m) dan Yeza (2y6m) kami memulai dengan beberapa hal dasar kemandirian yang bisa di latih anak-anak sesuai rentang usianya.

Untuk ananda Yeza kami fokus pada kemandiriannya dalam menjalani rutinitas sehari-harinya. Hari ini saya mencoba membiasakan Yeza menyiapkan beberapa keperluan pribadinya,
Misal :
1. Mengambil handuk saat akan mandi
2. Membiarkan Yeza memilih lauk/menu yang akan di santapnya
3. Menggunakan alat makan dan menyiapkan makanan yang akan di santapnya.
4. Melatih Yeza mencuci tangan manakala tanganna kotor atau saat sebelum dan sesudah makan

Sedangkan untuk Nadia, saya fokus pada kemandiriannya untuk menyiapkan segala keperluan sekolah tanpa satupun tertinggal di rumah, melatih dan menumbuhkan kepercayaan dirinya untuk mau menuju kelas seorang diri tanpa perlu saya dampingi lagi hingga ke depan pintu kelasnya



Kamis, 09 Maret 2017

Tantangan#2_Melatih Kemandirian Keluarga_Hari Pertama

Mendapat wacana mengenai "Kemandirian" seakan menjadi tamparan keras yang menyadarkan saya betapa saya pribadi terlena dalam mempersiapkan hal yang satu ini.

Selama ini saya hanya fokus kemampuan kognitif anak-anak tanpa menyadari bahwa kemandirian bisa di latih dan di tumbuh kembangkan bersamaan dengan latihan kemandirian ananda. Dan sejatinya proses melatih kemandirian kami para orang tua, yang juga berperan sebagai suami dan istri bisa di latih di waktu dan kesempatan yang sama.

Proses awal yang kami lakukan adalah saling berdiskusi (melibatkan saya 30y11m, ayana 33y1m, dan nadia 5y11m, sedangkan Yeza 2y6m tidak secara aktif mengikuti proses diskusi),  kami membicarakan apa itu kemandirian dan jenis kemandirian apa yang perlu kami latih selama sebulan ke depan.

Akhirnya kami memutuskan untuk melatih kemandirian masing-masing anak untuk satu atau dua jenis kemandirian yang bisa di latih secara bersamaan selama sepekan ke depan.

Untuk Adek Yeza kami akan konsisten melatih kemandirian Yeza dalam hal makan dan toilet training, sedangkan untuk Nadia kami akan melatih kemandiriannua dalam mempersiapkan segala keperluan sekolahnya secara mandiri.

Bismillah, semoga pekan ini mampu kami lewati dengan baik