Friday, December 8, 2017

Petualangan Tiga Sahabat Gigagu



Hari Kamis adalah hari keramat untuk Kak Nad? Kenapa jadi keramat, karema setiap hari kamis adalah jadwal kunjungan rutin Kak Nad untuk kontrol ke Dokter Gigi.

Yach beberapa waktu ke belakang Kak Nad memang bermasalah dengan gigi, bermula dari gigi yang berlubang, lalu kemudian di tambal, tapi rupanya tambalan ini tidak cukup kuat sehingga meninggalkan bengkak di gusi serta mengharuskan tambal ulang di gigi yang bermasalah.

Beberapa penyebab kerusakan di gigi Kak Nad, salah satunya adalah kebiasaan Kak Nad menyantap kudapan manis tanpa  sikat gigi setelah mengkonsumsi kudapan manis maupun susu UHT kesukaannya.

Sehingga kemudian mengalirlah cerita persahabatan tiga Orang anak kec bernama Giga, Gagi dan Gigu. Bahwa ketiganya berkawan karib, namun memilik kebiasaan yang berbeda. Giga yang gemar makan permen, Gagi penyuka gorengan, dan Gigu sang fanatik buah. Kisahpun berlanjut dengan kebiasaan masing-masing sahabat tersebut menjelang tidur malamnya.
Giga yang tak mau sikat gigi di malam hari, Gagu yang harus minum susu sebelum tidur, dan Gigu yang tak bisa tertidur jika belum bersih-bersih diri.


Lampung gak cuman Punya Pisang dan Begal, Percaya gak?


El's Coffee House

Begal dan Pisang adalah dua hal yang pertama kali terbesit kala pertama kali harus hijrah ke Lampung. Kenapa kemudian dua hal tersebut yang paling dominan jika mengingat kata Lampung? Yach karena hanya terbatas pada dua informasi tersebut yang sampai di telinga saya.

Data statistik berbicara jika produksi pisang di Provinsi Lampung diperkirakan mencapai 6,5 juta ton per tahun, yang kemudian diolah menjadi keripik pisang aneka rasa dan di kemas menjadi oleh-oleh khas dari Provinsi Lampung. Jumlah produksi pisang tersebut ternyata mencakup 35% dari total produk hortikultura di dalam negeri. Dan tercatat pula bahwa pisang menduduki tiga besar produk holtikultura di Provinsi Lampung. Sehingga wajar saja jika kemudian Lampung begitu terkenal dengan Keripik pisang sebagai buah tangan khasnya.

Mengenai Begal, entah mengapa setiap kali mendengar berita kriminal di berbagai media, selalu terkait dengan begal Lampung. Jadi seperti menjadi restu semesta bahwa dua hal tersebut adalah sesuatu yang identik untuk menggambarkan Lampung.

Jika ada pepatah mengatakan ”Tak kenal maka tak sayang, sudah kenal koq si doi gak sayang-sayang” (huahahahhahaa.... please timpuk emak dengan uang merah segepok ya 😊 😊 😊 ). Seperti itulah keadaan kita jika belum mengenal dengan baik potensi suatu daerah, walaupun kemudian saya mencoba menyingkirkan aneka macam ke-under estimate- saya terhadap Lampung dan mencoba menggali dengan baik segala hal positif yang akan saya temui selama perjalanan hijrah kami di Lampung, yang terkenal dengan slogan Sang Bumi Ruwa Jurai (mengenai filosofi frasa tersebut ada baiknya akan saya jelaskan di bagian terpisah).
Yusuf Kohar dalam sambutannya

Semakin mengenal, semakin cintalah kami dengan Lampung, banyak hidden paradise tak terungkap di Provinsi Lampung, tengoklah sektor pariwisatanya, budaya, kultur dan adat istiadat masyarakat asli Lampung, kuliner, potensi sumber daya alam maupun sumber daya manusianya. Seperti contoh hari ini saya berkesempatan menghadiri Launching El’s Creative Hub Community & Coworking Space yang di selenggarakan oleh El’s Coffee yang mengklaim sebagai Pure Indonesian Coffee. Adalah seorang Elkana Riswan, seorang Lelaki muda nan tampan yang berasal dari Tenggamus, salah satu Kabupaten di Provinsi Lampung sebagai inisiator terselenggaranya acara kece bertajuk El’s Creative Hub Community & Cowarking Space, beliau yang juga sekaligus sebagai pendiri El’s Coffee Lampung. Acara yang di buka oleh Wakil Walikota Bandar Lampung Bapak yusuf Kohar yang juga sekaligus menjabat sebagai Ketua APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) Lampung, berharap bahwa kehadiran El’s Coffee Lampung dan El’s Creative Hub Community Lampung menjadi salah satu wadah untuk berbagi kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan bermanfaat untuk masyarakat luas. Kehadiran sarana baru ini diharapkan mampu membawa angin segar bagi dunia ekonomi kreatif di Lampung. Sejauh ini menurut pengamatan Beliau ada dua hal yang belum menonjol dari Provinsi Lampung, yaitu dalam hal Perikanan dan Pariwisata. Sebagaimana secangkir kopi hangat yang tak bisa berdiri sendiri, ia harus dinikmati bersama kue manis, rintik hujan, kekasih hati ataupun setumpuk kenangan masa lalu yang sulit dilupakan (Tsaaaahhh emak kibas jilbab lagi kali ini 😊 ). Berbanding lurus dengan pengembangan berbagai sektor potensi di suatu daerah, butuh tali rantai yang cukup kuat nan kokoh antara pemerintah, pelaku usaha, perguruan tinggi, perbankan, serta dukungan masyarakat untuk dapat bergandengan mesra menciptakan hubungan yang mesra, seimbang, selaras dan harmonis. Balutan kerjasama tersebut perlu dibingkai dalam suatu ikatan kreatifitas, agar sekecil apapun potensi yang kita miliki dapat menjadi suatu hal mewah dan berkelas hingga menarik di lirik oleh pihak luar. Pelajari dengan baik behaviour costumer untuk dapat dengan tepat membidik  produk dan peluang yang di butuhkan oleh pasar, segera sedini mungkin bangun jiwa kewirausahaan.
Peserta Launching El's Creative Hub


Rupanya petuah baik dari Bapak Yusuf Kohar segera di Aaminkan oleh Bang Elkana melalui gelaran El’s Creative Hub Community & Cowarking Space. Jika El’s Coffee terlebih dahulu telah mengawali usaha memajukan Ekonomi Kreatif melalui domain usahanya yang fokus pada menjual sekaligus memperkenalkan aneka kopi produk nusantara dilanjut dengan menggelar berbagai pelatihan Roasting Kopi untuk mendidik calon-calon barista dengan keahlian mumpuni. Maka lain halnya dengan gebrakan baru gagasan Bang El kali ini, bayangkan saja jika begitu banyak wadah kreatifitas lokal yang di tampung dan di gabungkan dalam satu wadah dalam gelaran El’s Creative Hub Community & Cowarking Space. Berbagai event kece di geber selama kurun waktu 8 – 10 Desember 2017. Bertempat di El’s Coffee House, Jl. MS Batubara 134A, Bandar Lampung, ada banyak hal menarik yang saya temui hari ini, berbagai lomba di gelar untuk menyatukan berbagai komunitas di Lampung.




Tengok saja gelaran lomba pertama yang di gelar, El’s Blog Competition on the Spot di mana lomba on the spot ini mempertemukan berbagai blogger Lampung untuk saling mengenal dan berkompetisi secara sehat, bercerita mengenai pariwisata dan dunia kreatif Lampung, di lanjutkan dengan lomba Manual Brewing Competition yang akan digelar 9 Desember 2017, di mana dalam event ini akan mempertemukan banyak barista maupun calon barista atau siapapun penikmat dan peracik kopi, tak ketinggalan di tanggal 10 Desember akan digelar Paper Flower Bouquet Workshop untuk kamu-kamu yang doyan banget atau pingin tahu banget soal membuat dan merangkai bunga dengan bahan kertas. Lebih kece lagi sebagai penutupan akan di geber El’s Cooking Competition dengan mengangkat tema “Ikan” sebagai salah satu produk unggulan di Lampung. Ada benang merah yang dapat saya tarik dari berbagai event kece El’s Creative Hub ini, usaha kreatif dari El’s Creative Hub untuk menyatukan berbagai komunitas di Lampung, berkumpul menjadi satu, berkenalan satu sama lain yang tidak menutup kemungkinan akan terjalin kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan di hari kedepan . Di era digital harapannya akan semakin banyak kreatifitas baru yang muncul untuk mengangkat potensi Lampung ke permukaan, agar stigma yang muncul saat kita mengenal Lampung bukan hanya sekedar Begal dan Pisang semata.


Sore yang manis di kedai kopi


Berbincang dengan Bang Elky selaku pemilik El’s Coffee, menjadi sore yang menyenangkan untuk saya, beliau bertutur filosofi dari logo El’s Coffe yang memang menarik penglihatan saya, gambar pohon dengan biji kopi yang lebat sebagai penanda bahwa El’s Coffee adalah usaha yang akan dan terus berkembang sebagaimana filosofi sebuah pohon yang menggambarkan banyak arti dan makna,pohon sebagai pelambang kehidupan, menaungi, selalu tumbuh ke atas namun tak pernah lupa menancapkan kuat akarnya ke tanah. Harapannya El’s Coffe pun tumbuh layaknya sebuah pohon namun tak lupa membumi dan membagi hasil terbaiknya untuk alam semesta. Tulisan El’s Coffee berwarna hitam sebagai lambang netralitas, artinya El’s Coffee menjadi tempat yang netral untuk berkumpulnya berbagai komunitas, lapisan masyarakat tanpa memandang perbedaan jas, dan kepentingan, berharap melebur menjadi satu menciptakan sebanyak-banyaknya manfaat untuk di tebar ulang.
Coffee is an language in itself

Emak dan Bang Elky


Hei ada satu kejutan yang menyenangkan untuk saya di hari ini, saya yang mngklaim sebagai “gamer”  cukup di buat surprise dan bahagia saat di infokan ada Launching Game baru bertema Kopi, happiness banget gak sih? Brasa seperti kamu lagi sayang-sayangnya sama gebetan trus si gebetan nembak on the spot? Double surprise kan ya jadinya? Hahahahaa..... jadi selain launching El’s Creative Hub, di launching pula sebuah game kece yang bisa kamu-kamu download secara free di Play Store berbasis android lewat smartphone kece kamu lho. Adalah seorang Lucky Putra, gamer muda asli Lampung yang berhasil menciptakan Game bertajuk El’s Finding Cofee yang berisi tantangan dari mulai mencari biji kopi hingga meraciknya menjadi suguhan istimewa. Terasa sekali personal touch game ini yang menggambarkan perjuangan Bang Elky dan his sister Mbak Mira mendirikan El’s dan membesarkan El’s Coffee, mengingatkan kita untuk menghargai perjuangan seseorang sekecil apapun usaha yang di hasilkannya.
Lucky Putra sang penemu El's Finding Cofee


Senang sekali rasanya saya melewatkan sore yang manis kali ini, bertemu dengan banyak wajah baru, memunculkan semangat baru dan aura positif yang bisa saya serap dari banyak orang-orang inspiratif nan kreatif hari ini. Hullaaaa.... ada banyak oleh-oleh tak terhingga yang akan saya bawa pulang hari ini, ada banyak inspirasi positif yang tertular pada jiwa dan hati saya, dan semakin memacu semangat saya untuk semakin banyak pula berbuat untuk negri sekecil apapun usaha yang bisa saya lakukan demi semakin baiknya negri tercinta ini di masa mendatang.

Secangkir kopi akan selalu jujur tentang kepahitannya dan ia tak pernah malu mengakui kehitamannya, sebagaimana kita yang dilahirkan tidak menjadi siapa, namun kebiasaanlah yang membuat kita menjadi siapa. Stay positive thinking, be more creative, and rizki In Sya Allah will follow you
-- Puspa Fajar --



Bandar Lampung, 8 Desember 2017

Puspaning Dyah, menulis sebagai suntikan semangat

Wednesday, December 6, 2017

Fairy Tale pengantar makan Sore



Sampai pula di hari ketujuh tantangan level 10, Alhamdulillah anak-anak sudah membaik dari demam, walau virus flu masih belum menyingkir dengan baik. Kak Nad juga telah selesai dengan jadwal UAS dan tinggal menunggu hasilnya, apakah perlu remedi atau sudah cukup dengan hasil yang ada.

Hari yang cukup melelahkan, karena tubuh saya yang masih dalam taraf detoks sehingga belum bisa di paksa bekerja lebih keras, namun tuntutan pekerjaan membuat saya harus profesional dalam menentukan sikap. Malam ini saya harus menghadiri undangan liputan dari Bekraf bersama Pemprov Lampung, yang artinya quality time di malam hari bersama anak-anak sedikit terabaikan. Sebagai ganti jatah mendongeng, di alihkan dengan membaca buku dongeng fairy tale dari buku dongeng hasil buruan kak Nad di Toko buku Ahad yang lalu.

Bismillah semoga esok ada waktu lebih untuk merapel jatah mendongeng hari ini

Tuesday, December 5, 2017

Dongeng Klepi dan Klana





Memasuki hari ke-enam tantangan Grab youre imagination di kelas bunda sayang IIP, dengan sedikit meler efek virus common cold, memaksakan diri harus sehat segera mengingat rumah harus segera di rapihkan, sayur yang perlu di olah, perut yang perlu di isi dengan masakan matang, terlebih ada dua buah hati yang menanti dengan harap cerita-cerita pengantar tidur mereka.

Masih dengan kepala agak nyut-nyutan sembari menemani Kak Nad belajar mempersiapkan UASnya esok yang masuk hari terakhir dengan mata pelajaran yang diujikan adalah Saints dan Religion. Kak Nad terlihat sedikit tidak antusias karena mata pelajaran ujia esok, bukanlah mata pelajaran favoritnya, dan Kak Nad sementara tergolong lemah untuk hafalan hadits maupun surat pendek.

Teringat dengan materi Saints yang tengah di pelajari Kak Nad di sekolah formalnya tentang pohon kelapa, tercetuslah ide untuk menjadikan kelapa sebagai tokoh utama dongeng saya malam ini bersama anak-anak.

Alkisah hiduplah seorang anak lelaki bernama Klepi, hidup di tengah keluarga sederhana, Ayah Klep, Pak Klatu namanya adalah seorang tetua adat yang cukup di segani di kampung Klana. Klepi memiliki adik perempuan bernama Klenda. Duo kakak beradik ini besar di tengah ajaran Pak Klatu dan Bu Klatu yang selalu mengajarkan rasa saling menyayangi, tolong menolong, tenggang rasa di antara saudara dan sesama.

Hingga berkat petuah Pak Klatu tersebut, Klepi dan Klana tumbuh menjadi anak-anak yang penyayang, ramah dan ringan tangan terhadap penderitaan sesamanya. Klepi dan Klana bahkan tak segan turun langsung ke rumah warga saat mendengar ada warga yang tertimpa musibah ataupun membutuhkan pertolongan, sekecil apapun bantuan yang di perlukan.

Sessi dongeng malam ini di tutup dengan kesimpulan yang diutarakan Kak Nad, bahwa kita harus selalu saling tolong menolong terhadap sesama, sigap terhadap kesusahan orang lain dan menjadi pribadi yang bermanfaat untuk banyak orang, sebagaimana pohon kelapa yang selalu memberikan manfaat di semua bagian tubuhnya.


Bismillah ya Nak, kita sama-sama berproses, menjadikan diri kita selalu mendatangkan manfaat di manapun kita berada


Bandar Lampung, 5 November 2017
Puspaning Dyah, saat kisah berharap menjadi teladan yang baik

Sunday, December 3, 2017

Semangat UAS my dear




Hari ini adalah H-1 menghadapi UAS pertama Kak Nad 😃

Dan hari ini betul-betul fokus mempersiapkan UAS tersebut, melatih Kak Nad menjawab beberapa soal terkait dengan materi UAS yang sukses membuat saya sedikit geleng-geleng kepala (perasaan jaman emak dan bapaknya Kak Nad masih SD gak gini-gini amat materi soalnya 😂😂😂)

Tugas mendongeng entahlah menguap begitu saja hari ini, karna di sela-sela membersamai Kak Nad dAn Adek Yeza justru lebih banyak bercerita pengalaman emak dan Ayana saat dulu pertama kali ujian Cawu di sekolah (yang pastinya gak bisa di ingat dengan pasti bagaimana pengalaman di masa lalu itu 😂😂😂), setidaknya dengan aliran cerita dari saya maupun Ayana sedikit meredakan nervousnya Kak Nad menghadapi ujiannya.

Bismillah semangat selalu ya nak, bukan hasil yang baiknya kau kejar, tapi proses yang kau lalui untuk di jadikan bekal terbaik di masa depanmu kelak, jujurlah dalam menghadapi ujianmu dan bersabarlah mengalahkan ketakutanmu Nak

Saturday, December 2, 2017

Ayahku pendongeng yang kece



Yeeaaayyh its weekend, its time  dating with Ayana 😃

Sebagaimana adat dan kebiasaan yang berlaku di Osin Family, weekend adalah waktunya untuk Quality Time bersama keluarga terutama Ayana, rencana semula akan kami habiskan dengan berenang namun memgingat kondisi fisik anak-anak yang tengah terjangkit virus flu dan mendekati ke arah batuk uhuk uhuk, jadilah agenda berenang kami alihkan untuk outing. Dan pilihan tempat untuk outing kami jatuhkan ke Camp 91, salah satu destini outing di Bandar Lampung, sekaligus ajang mengejar ketertinggalan motorik kasar Adek Yeza.



Sembari menghabiskan waktu di tempat outing, Ayana menyisipkan petuah-petuahnya melalui cerita petualangan heroik untuk membangkitkan semangat Kak Nad dan Adek Yeza mencoba berbagai wahana outbond yang tersedia di tempat outing pilihan kami. Dan terbukti cerita khayalan Ayana efektif membuat anak-anak percaya diri mencoba hampir semua wahana outbond yang disediakan.



Rupanya trial and error kami mendongeng untuk anak-anak membuat mereka menjadi candu, outing di lanjutkan dengan agenda bulanan belanja ke toko buku sebagai reward anak-anak terhadap beberapa tantangan yang sebelumnya kami berikan dan dapat di selesaikan dengan baik oleh mereka. Hingga akhirnya sessi malam di tutup dengan membacakan buku hasil pilihan anak-anak

Bandar Lampung, 2 November 2017
Puspaning Dyah, saat fasilitatorpun berproses bersama para anak didiknya

Friday, December 1, 2017

Dongeng Sang Kancil VS Gajah

Ikhtiar Kak Nad mempersiapkan UAS bersama Ayana


Memasuki hari kedua level 10, masih
dengan tema yang sama yaitu mendongeng untuk anak. Di tengah hecticnya emak berkutat dengan urusan domestik karena cutinya teteh sementara waktu, di tambah aneka persiapan Kak Nad menghadapi Ujian Semester di sekolah formalnya membuat kami tidak menyiapkan tema khusus untuk bahan mendongeng malam ini.

Masih mengaitkan ujian semester Kak Nad dengan tema Kelas Bunda Sayang, kami berusaha menyuguhkan dan membangkitkan semangat juang dan kejujuran Kak Nad dalam menyelesaikan soal ujian melalui dongeng fabel khas nusantara, Si kancil VS Gajah

Pic : source by google

Kancil sebagai tokoh sentral dengan sifatnya yang cerdik, lihai berstrategi dan kerap kali menolong hewan hutan yang lain. Kancil harus berhadapan berkali-kali dengan Gace seekor gajah betina. Mereka berdua tergolong penghuni hutan yang sudah cukup lama. Kedua hewan ini bukanlah dua sahabat karib, justru sebaliknya mereka berdua adalah saling bermusuhan dan entah apa yang medeka pedulikan setiap harinya.

Jika menelisik ukuran tubuh pastinya Gace yang akan memenangkan setiap tantangan lomba yang diberikan Opa Owl kepads mereka, namun berkat kecerdikan, kelihaian serta semangat juang yang tinggi, Kancil keluar sebagai pemenang dari duel maut tersebut.

Sessi dongeng kami tutup seperti biasanya dengan mendengarkan Kak Nad bercerita ulang, domgeng apa yang bunda sajikan malam ini.

Pic : Source by Google


Bandar Lampung, 1 Desember 2017
Puspa Fajar, menulis seperti mengalirkan kembali kenangan